Namaku
: ARDILES
Namaku !
By
: Ardiles
Seandainya pada saat itu, aku dapat
berbicara, maka akan ku sampaikan keinginan hati ini. Seandainya pada saat itu
aku dapat memilih dan meminta, maka akan ku sampaikan segala hasrat dan
keinginanku. Namun, kini ku telah hadir dan menebarkan senyum pada dunia. Aku
yang terlahir dalam keadaan lemah dan miskin, namun sungguh beruntung dapat
terlahir dari rahim yang begitu mulia dan suci, rahim seorang wanita yang
begitu ku hormati dan ku sayangi dalam hidupku, yang menjadi tempat ku berbakti
dan menemukan surga dunia dan akhirat, yang kemudian hari sosok wanita luar
biasa ini ku panggil lembut dengan sebutan ibu, ibu yang telah membesarkan dan
mengajarkanku banyak hal tentang cinta dan sebuah kewajiban hidup di dunia dan
akhirat, yang membalutkan kehangatan dan menumpah segala curahan kasih sayang
dan kecerian kepadaku.
Alhamdulillah, terucap rasa syukur atas
segala limpahan rahmat dan karunia serta kasih sayang Allah SWT kepadaku, dan
semua itu terasa begitu lengkap dan membahagiakan kehidupanku di masa kecil,
ketika sosok seorang Ayah yang senangtiasa menunggu dengan sabarnya dan
menyambut kedatangan serta jerit tangisku dengan belain lembut dan sentuhan
cintanya, senyum dan tawanya membuatku tersentak diam dan mulai tertawa
cekikikan ketika dagu Ayahku menyentuh kedua tanganku disaat Ayah
mengumandangkan adzan di telinga kananku, terasa bulu-bulu halus di dagu Ayah
membuatku merasa geli dan girang. Dan saat itulah pertama kali aku merasakan
aroma tubuh dan nafas Ayah, yang kemudian hari disaatku semakin tumbuh dewasa
dan semakin terpisah jauh dari Ayah, membuatku sangat merindukan aroma tubuh
dan nafas Ayah yang membuatku merasa nyaman dan tanang.
Ayahku adalah tipe laki-laki pendiam
dan tegas, kadang aku begitu takut untuk menghampiri Ayah, apalagi sampai
memeluk dan mengatakan bahwa aku sangat mencintai Ayah. Sikap diam dan dingin
Ayah serta merta juga membuatku menjadi kaku dan tak begitu berani
bermanja-manja dengan Ayah. Namun, kadangkala ketika ku terjaga atau di saat ku
melihat Ayah tertidur dengan kepenatan dan rasa letih memikul tanggungjawab
sebagai seorang suami, Ayah dan kepala keluarga, begitu membuatku sedih dan
menangis haru jika menatap raut mukanya yang kini mulai menua dan mengeriput.
Kini secara perlahan rambut-rambut Ayah yang selalu wangi dan mengkilat, kini
telah mulai memutih dan gersang. Saatku memandang dan memikirkan Ayah,
bagaimana tidak membuatku duduk dan terpaku diantara kedua kaki Ayah seraya
menciumnya, di saat semua orang masih tertidur dengan lelapnya, Ayah telah
terjaga dan bersiap-siap untuk berangkat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan
hidup kami sekeluarga.
Saat ketika tangisku buncah di antara
kedua kaki Ayah, tetasan demi tetasan air mataku mulai mengalir di tengah pipi
kiri dan kananku, dengan lirih ku katakan saat Ayah masih tertidur dengan
lelapnya “ pah, ardi sangat sayang dengan
apah. Ardi tahu, apah sangat lelah dan letih, apah hanya bekerja seorang diri
untuk dapat memenuhi kebutuhan Ardi, nefri, Mualif, Elsa, Ilham dan Arif. Pah,
maaf Ardi belum bisa membantu dan meringankan beban Apah, Ardi belum bisa
menjadi yang terbaik buat Apah, Amah dan Adik-adik. Pah, Ardi akan belajar
dengan giat dan membuat Apah bangga memiliki anak seperti Ardi, Ardi ingin
menjadi anak yang terbaik untuk Apah dan Amah. Apah yang sabar yah jika saat
ini Ardi dan adik-adik belum bisa membantu dan meringankan beban Apah dan Amah.
Walau tak terasa, kini Ardi telah tumbuh dewasa dan besar. Tapi, Ardi rindu
sekali saat tidur dalam pangkuan Apah, dan Ardi juga sangat rindu ketika Apah
membelai lalu mencium kening Ardi dikala sewaktu Ardi masih kecil. Ardi sayang
Apah dan Amah.
Di saat itu aku masih duduk dan terisak
dalam lamunanku, kemudian pikiran bawah sadarku berusaha membawaku ke cerita
masa lalu, yah masa laluku. Semua berawal kurang lebih 20 tahun yang lalu,
tepatnya 28 Juli 1991, saat itu lahirlah seorang anak laki-laki yang lucu dan
mengemaskan, dan kemudian anak laki-laki itu di beri nama “ARDILES” oleh
sepasang suami istri itu. Nama yang telah direncanakan dan dipikirkan jauh-jauh
hari oleh sang suami, nama yang memiliki kepanjangan Ardiles anak Rantau yang DilahIrkan di BengkoeLoE Selatan, kata pamanku
itulah makna dari namaku, karena sebenarnya Ibu dan Ayah berdarah Minang asli,
berasal dari Dusun Supayang, Batu Sangkar Sumatra Barat, yang merantau ke
daerah “Manna”. Tapi, aku bersikap acuh tak acuh mengenai penjelasan “Bos”
(panggilan akrab pamanku). Namun, aku tahu Ayah punya alasan sendiri kenapa
memberiku nama “ARDILES”. Akan tetapi, aku tidak begitu berani menanyakan
masalah namaku pada Ayah. Hanya Ibulah tempat ku mengadu dan menanyakan segala
hal, jika aku merasa bingung dan tidak tahu tentang sesuatu hal.
Dengan rasa ingin tahu kemudian aku
menghampiri ibu, “Bu kenapa sih Ardi, dikasih nama
ARDILES ?” tanyaku
pada Ibu.
“hemm, yang lebih tahu
itu Ayah nak, coba Ardi tanya sama Ayah sana! Jawab Ibu.
“heeeemm!”, seru kecewaku pada
Ibu.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari
Ibu, akupun memberanikan diri menghampiri Ayah, dengan rasa malu yang bercampur
dengan rasa cemas. Akupun jadi heran sendiri, kenapa aku kaku begini sama
Ayahku sendiri. Sebenarnya hal ini terjadi, mungkin karena aku merasa sangat
kesal dan marah sama Ayah sehingga membuatku merasa asing dan jauh dari Ayah.
aku hanya bukam, tanpa berani berkata
apa-apa.
“semua ini gara - gara
namaku.” Lirihku pelan.
Namaku sering jadi bercandaan
teman-temanku di sekolah, mulai dari teman, kakak kelas bahkan guru seringkali
menertawakan namaku. Aku sangat risih, lebih-lebih jika sekolah telah usai,
maka teman-temanku disepanjang jalan pulang selalu mengejeku dengan panggilan
“sendal”. “oi sendal mau kemana, mau jual diri
kepasar atau jual sendal kepasar yah”. Ejek salah seorang teman SD ku.
“aneh! dasar Padang
Anyut, nama kok sama dengan merk sendal. Pasti bapaknya tukang sendal atau ngak
tahu mau ngasih nama apa”. herdik teman ku yang lain.
Hahahhhhaha.....
Sontak semua temanku tertawa dengan
stetment temanku itu, aku benar-benar kesal dan marah. Aku hanya diam,
dengan sabar dan berusaha tenang aku terus berjalan menuju rumah.
“sialan, sialan dasar
sialan!” teriakku dalam hati. Sebenarnya aku
belum terlalu lama tinggal di Manna, aku baru beberapa minggu dan aku juga
tidak terlalu mengerti bahasa Manna sama sekali (100 % belum sampai saat ini).
Namun, Bibiku langsung saja memasukanku ke Sekolah Dasar yang sama dengan
sepupu perempuanku, Ayu. sebab pada saat itu, kedua orangtuaku masih berada di
Sumatra Barat. Jadi aku selalu pergi ke sekolah bersama bibi dan Ayu, dan
Ayulah yang selalu membela dan menjagaku jika ada orang yang mengolok atau
mengejekku di sekolah.
Untuk masalah ejekan teman-temanku,
alhamdulillah aku masih bisa bersabar dan menerima. Tapi, tidak untuk
perlakuan seniorku, pada saat itu sedang masa waktu istirahat sekolah,
ada kakak kelasku yang masuk ke kelas ku, lalu dia menghampiriku dan
menanyakan namaku, “oi jok, sapaw
namaw kaba (oi bro, nama kamu siapa) ?tanya kakak kelas padaku.
dan akupun menjawab “namo
den Ardiles, mang manga’ah ang jo den (nama saya ardiles, ada urusan apa kamu
sama saya) ?”jawabku.
“nah, luak padek nian
kaba ne, jemau manau kaba ne (hei, sok betul kamu yah, emang kamu orang
mana sih) ? bentaknya.
“aden urang padang,
apo urusan ang jo den (saya orang padang, apa urusan kamu sama saya )?” balasku.
“hahahhahhaha, oi,
padang anyut - padang anyut, masaw namaw samaw luak namaw sendal, buliah
numpang mijak ndiak (oi. Orang padang hanyut ke Manna, masa nama kamu, sama
kayak nama sendal, boleh numpang makai atau nginjak ngak)?” katanya. (sembari
memegang kera bajuku, kemudian ku tepis dan dia mendorong kepalaku).
Terang saja karena tidak senang
diperlakukan seperti itu, akupun membalas karena aku sangat pantang jika
kepalaku diperlakukan seperti itu, Ibu selalu bilang “nak,
kepala itu kehormatanmu, maka jagalah kehormatanmu itu.” Sungguh aku sangat
kesal dan marah, apalagi dia sudah menghina namaku, nama pemberian
Ayahku. Hari itu, aku berkelahi dan aku di hajar habis-habisan oleh kakak
kelasku, di tendang dan di injak di dalam kotak pasir lompat jauh yang ada di
belakang gedung sekolahku, hidungku yang kena tinju kemudian mengeluarkan darah
yang cukup banyak dan badan ku terasa sakit serta pegal-pegal semua setalah
kejadian itu. Saat kejadian itu, teman-teman kelasku hanya bisa melihat.
“teng... teng...
teng...,” bunyi
bel masuk.
Kemudian aku langsung lari menuju
sumur, lalu mencuci bersih hidungku yang penuh darah, dan setelah selesai aku
langsung masuk ke dalam kelas. Selama di kelas aku hanya duduk diam sembari
memagang hidung dan menahan rasa perih di tubuhku.
Mengenai kejadian ini tidak ada satupun
keluargaku yang tahu mengenai kejadian itu, dan aku juga tidak ingin Ayah dan
Ibu tahu mengenai kejadian itu, semua kusimpan dan hanya kutahan sendiri rasa
sakit akibat pukulan-pukulan kakak kelasku, hidungku terus mengeluarkan darah
dan terasa begitu sangat perih.
Saat kejadian itu, aku jadi mulai takut untuk kesekolah, teman-temanku tetap
mengejekku dan aku menjadi mider di kelas, aku tidak bisa melakukan apa-apa,
kemudian aku mulai sering bolos sekolah, tidak pernah mengerjakan tugas, tidak
pandai membaca, menulis dan hitung-hitungan.
Akhirnya setelah beberapa bulan
berlalu, tibalah saat pembagian rapor kenaikan kelas, sekian lama aku menunggu
detik-detik pembagian rapor, aku sangat ingat ketika waktu pembagian rapor di
SD ku. Aku tidak tahu, apa mungkin sudah manjadi sebuah syarat atau tradisi
yang skaral pada masa itu, saat hari pembagian rapor kami disuruh untuk
membawa kue oleh wali kelas, dan nanti akan ditukar dengan rapor kami yang
berwarna hati. Aku ingat sekali, waktu itu aku hanya membawa “Roti Es”
(terkenal pada masa kecilku), awalnya aku bawa satu bungkus besar, kemudian di
jalan sengaja ku buka dan ku makan, jadi pada saat penukaran roti dengan rapor,
aku hanya menyerah satu bungkus kecil “Roti Es” yang ku masukan ke dalam
kantong kresek berwarna merah. kalau teringat kebodohan itu, aku menjadi malu
dan hanya tertawa kecil. lalu dengan terburu-buru aku ambil raporku, kemudian
aku langsung lari dengan kencangnya pulang kerumah, aku menghampiri Ibu seraya
membawa raporku dan dengan senyum penuh harap aku menghadap Ibu sambil
menjulurkan tangan meminta uang Rp. 100 sebagai syarat transaksi
raporku,hehehhe...sebenarnya uang Rp. 100 itu untuk membeli es lilin,
yang rencananya nanti akan ku minum bersama dengan “Roti Es” yang sudah ku
korupsi dari transaksi yang tidak menguntungkan sepeserpun, aku sudah
membayangkan minum es sambil ku teteskan air yang bewarna-warni di atas “Roti
Es “ sembari duduk di atas pohon asam, “nikmatnya,” khayalku.
Ketika sedang asyiknya mengkhayal,
telingaku terasa panas, seakan diplintir, ternyata ketika ku buka mataku, tangan
Ibu sudah menjewer telinga kananku.
Sungguh sialan, ternyata nilai ku
“CABE” semua, dan tertulis keterangan dari wali kelasku “ ANDA TIDAK NAIK KE
KELAS III”. Ku akui, pada saat itu, aku emang sangat pemalas dan tidak begitu
pandai membaca. Selain itu ditambah dengan berbagai persoalan teman-temanku
yang sering mengejek dan mengolok-olokku.
Eits...
musibah dan malapetaka belum berakhir
di sini, saat Ayah yang selalu bersikap dingin dan kaku, melihat raporku,
sontak Ayah memarahiku habis-habisan, akupun menangis, lalu lari dan bersembunyi
di bawah tempat tidur. Di sanalah aku menangis sejadi-jadinya, dan akupun
mengutuk habis-habisan namaku, kenapa harus ARDILES ?
Kalau bukan karena nama itu, aku tidak
akan mungkin di ejek dan diolok-olok temanku. Aku benar- benar merasa sial
mendapatkan nama itu, nama yang tidak memiliki arti apapun bagiku, dalam isak
tangisku aku mengatakan “dasar tidak bisa memilih nama yang
baik, orangtua yang kolot dan tidak kreatif,” katakku sambil
tersendu-sendu.
Setalah hari itu, aku benar-benar
merasa malu dan selalu dicemooh karena tidak naik kelas. Tapi, dengan tegas ku
katakan “aku bukanlah orang yang pantang
menyerah dan bisa jadi yang terbaik.”
Hal itu dapat ku buktikan dengan selalu
menjadi yang terbaik di kelas, secara perlahan, hari demi hari, tahun demi
tahun ejekan itu semakin berkurang, namun teman-teman mulai mengolok-olok nama
Ayahku yang biasa di panggil “Ampek”, padahal nama Ayah adalah Helmi Azman,
ngak ada hubungannya sama sekali, “nama Allah swt saja
disebut,”lirihku.
Tapi, ku akui akupun juga kesal risih. Sampai akhirnya aku bisa lulus
dengan memiliki nilai terbaik nomor dua dan kemudian masuk ke Sekolah Menengah
Atas yang menjadi sekolah termahal dan terfavorit pada masa itu dan sampai
sekarang (menurutku).
Hehhehe...
Aku kira, persoalan namaku telah
berakhir, bersama lulusnya aku dari SD, dan ejekan-ejekan serta cemooh itu
telah tinggal kelas dan tak lulus-lulus dari bangku SD, yang kurang ajarnya,
Ternyata pelecehan yang berkaitan atas identitas atau namaku malah tetap
berkibar dan terdengar merdunya di masa SMP. Sampai ketika ada seorang guru
Biologi, bapak Teguh Haryano yang mengajar di kelasku, yang pada saat itu aku
baru kelas VII SMP dan tibalah saat cek absen sebelum pelajaran dimulai,
kemudian bapak Teguh memanggil namaku,
“Ardiles.”
“hadir pak,”jawabku tegas.
serentak teman-teman yang usil
berteriak “sendal itu pak.”
Akan tetapi, pak Teguh diam sejenak.
Lalu beliau mengatakan, “kalian tahu siapa itu Ardiles?
“tidak,” jawab teman-temanku.
“ada yang suka nonton
dan olahraga sepabola?” lanjut pak Teguh.
“adaaaa.....”jawab teman-temanku.
“kalian tahu, Ardiles
ini adalah salah seorang nama pemain sepak bola pada tahun 80-an, dan dia
sangat gagah dan hebat, Ardiles ini adalah pemain belakang Inggris yang berlaga
di Piala dunia di Brazil pada tahun itu.”terang pak Teguh.
“oh....”sambung
teman-temanku.
Aku yang hanya tertegun, menjadi begitu
sangat senang, karena ada yang membelaku dan tahu mengenai orang yang hebat di
balik namaku. Aku manjadi sangat pede dan bangga dengan nama besar Ardiles sang
pemain sepak bola tersebut. Akupun begitu girang, dan sampai dirumah, ku
beranikan diri untuk menanyakan tentang asal mu asal namaku kepada Ayah dan
Ibu, sejenak Ayah terdiam, kemudian menunduk lalu mengangkat kedua kepalanya
yang tertunduk, sembari mengingat-ingat masa kecilnya, dengan nada yang datar
dan begitu lirih Ayah menjawab “ iya nak, gurumu
tepat sekali. Engkau tahu nak?
Engkau adalah
kebanggaan Ayah, dan engkau adalah cahaya hidup Ayah yang pertama, saat
kehadiranmu membuat Ayah begitu bahagia dan Ayahpun teringat akan masa-masa di
saat Ayah masih kecil anakku.
Di waktu kecil
Ayah sangat hobi olahraga, terutama bemain sepak bola, dulu Ayah adalah
olaragawan kampung nak, Ayah bisa dan pandai dalam cabang olahraga apapun nak,
tenis meja, bulu tangkis, takraw dan sepak bola. Hanya saja pada saat itu, Ayah
bukanlah termasuk anak-anak yang beruntung secara materi, Ayah lahir dari
keluarga yang sederhana, di saat Ayah ingin ikut serta bermain sepak bola
layaknya teman-teman Ayah. akan tetapi, Ayah tidak memiliki perlengkapan
seperti yang dimiliki teman-teman Ayah. Namun, Ayah sangat senang sekali
bermain sepak bola,dan kekurangan itu tidak mengurangi kesenangan Ayah untuk
bermain sepak bola. Jika setiap kali ada perlombaan di kampung, Ayah selalu di
ajak untuk ikut bertanding, Ayah selalu ditunjuk menjadi kapten dan pencetak
gol untuk kesebelasan kampung kita nak. Namun, sayang sekali setiap kali Ayah
bermain, Ayah hanya bisa meminjam sepatu dan perlengkapan teman Ayah, sedangkan
teman Ayah yang memiliki sepatu hanya melihat dari luar lapangan, beliau
menjadi pemain cadangan, kerena dia kesal dan Ayah menjadi tidak enak hati maka
Ayah berhenti bermain sepak bola. lalu Ayah mulai bekerja di pencucian “puso”
(truk besar) untuk memenuhi kebutuhan sekolah Ayah. Saat Ayah hanya fokus untuk
sekolah saja nak.
Sampai suatu hari,
tibalah informasi tentang seleksi dari ibukota kabupaten Batu Sangkar untuk
merekrut tim sepak bola dari kampung kita, Ayah ingin sekali ikut dalam tim
itu, tapi Ayah tidak punya perlengkapan, baik itu sepatu dan syarat lainnya ,
kemudia Ayah coba meminjam sepatu bola teman Ayah, namun beliau tidak bersedia.
Dan hal itu membuat Ayah sangat sedih karena keadaan Ayah saat itu.
Ketika engkau
lahir nak, seakan Ayah memiliki kesempatan hidup kedua nak, dan Ayah ingin
sekali anak Ayah menjadi seorang pemain sepak bola, sampai saat menjelang
kehamilan Ibumu, Ayah masih tetap gemar menonton pertandingan sepak bola, yang
saat itu yang begitu populer di era tahun 80-an dan dia menjadi bintang
lapangan adalah “Ardiles”, dia sangat lincah, tampan dan tinggi. Ayah ingin
memberikan nama anak Ayah Ardiles, baik itu dia laki-laki atau perempuan akan
Ayah beri Nama “ARDILES,”agar nanti bisa menjadi seorang olahragawan dan pemain
bola hebat.
Akan tetapi,
Setelah Beberapa tahun kemudian,
Sungguh sangat mengecewakan, Ayah
begitu kecewa denganku dan tentu aku lebih kecewa lagi kepada Ayah. “Memberiku
nama tanpa pamit dan menayakan persetujuanku, apakah aku senang atau tidak
dengan nama itu, kalau aku tidak ada bakat di bidang olahraga jadi bukan
salahku dong.” Ucapku pelan namun penuh kesal.
Wajar saja Ayah marah, sudah sekian
banyak bola kaki, raket, sepatu bola dan lain-lainnya yang Ayah belikan
untukku, namun semuanya rusak oleh orang lain, sedangkan aku, tetap saja tidak
begitu pandai dan menonjol dibidang olahraga.
Saat di SMP aku malah mulai aktif
pramuka, yang sangat bertolak belakang dengan keinginan orangtuaku. Sampai pada
saat aku berumur 16 tahun, pada tanggal 28 juli 2007. Tanggal itu tidak akan
pernah aku lupakan, saat itulah segala kekesalan dan kemarahanku luntur kepada
Ayah, nama ARDILES yang jadi cemooh dan ejekan temanku selama ini, terbalas
tunai pada tanggal itu, yang membuatku mengucap dan sujud syukur, aku begitu
tafakur dan menangis haru sejadi-jadinya pada saat itu.
Hari itu aku menyadari, namaku adalah sebuah mimpi besar Ayah untuk kebaikanku
di masa yang akan datang, nama yang di dalamnya terkandung do’a dan pengharapan
semata kepada Allah swt, tekad dan keinginan yang telah digoreskan Ayah sebagai
identitas diriku. Telah Allah kabulkan, “sebaik-baik rencana
Ayah dan aku, maka rencana Allah itu jauh lebih baik dari rencana kami. Manusia
hanya bisa punya rencana, namun hanya Allah yang punya ketetapan, dan Allah
berfirman dalam Al-qur’an.
Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh pula kamu menyukai sesuatu
namun dia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (
Al Baqarah 2 : 216).
dan itulah yang ku alami, awalnya aku
sangat tidak menyukai namaku “ ARDILES”, namun Allah swt telah membuktikan
kebenarannya, Allah swt telah menunjukan kebesarannya, dan Allah swt telah
mengabulkan do’a dan harapan di balik namaku “ARDILES”. Walau aku tidak
dapat memenuhi keinginan dan harapan Ayah. Tapi, aku telah mendapatkan rahmat
dari nama yang diberikan Ayah, pada tanggal itu, aku bisa menginjakan kaki di
tiga negara yang berbeda, dari Indonesia, Brunnai darussalam, Dubai dan United
Kingdom.
Subhanallah, dan Alhamdulillah pada
saat itu aku bisa menginjakan kaki di london, Inggris tepatnya di daerah
Essex, chelmford.
Begitu terasa perbedaan udara dan suhu
di sana, yang membuat jantungku semakin bergetar hebat, derai dan hembusan
angin begitu terasa kencang, dari kejauhan ku pandangi puluhan ribu orang
tersenyum gembira, mereka berteriak heboh di tengah lapangan yang luas dan
hijau, dan di sanalah ku lihat berbagai orang dari seluruh penjuru negara dunia
yang berbeda, di bawah barisan puluhan bendera negara di seluruh dunia
aku berdiri dengan penuh rasa syukur. Sesaat dadaku begitu sesak dan
tangiskupun mengalir derasnya, saat itu satu-persatu teman-teman yang sama-sama
dari Indonesia mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku seraya bernyanyi, “happy
birthday to you, happy birthday to you, happy birthday ,happy birthday
, happy birthday ARDILES "
sungguh indah dan mengesankan, diulang
tahunku yang ke–16 tahun, ku mendapatkan kado yang begitu mengesankan, hari
kelahiran ku ratapi di belahan dunia lain, ku berada didaerah yang sangat jauh
dari tanah kelahiranku, melintasi dua benua, berkumpul di tengah-tengah jutaan
orang, dan itu ulang tahun termahal dan terindah yang ku rasakan. Saat itu
pangeran William, putra mahkota kerajaan Inggris hadir dan membuka acara di
tengah-tengah peringatan hari kelahiranku.
Subhanallah,
Walhamdulillah, saat itu aku menyadari
hingga kini, betapa spesial dan beruntungnya aku, hingga ketika saat ku telah
kuliah, masih ada saja teman yang tertawa dan mengejek namaku. Namun, kini aku
hanya bisa tertawa dan berkata “Alhamdulilla Allahu akhbar”. Jika ada orang
yang mengejek atau mengolok namaku, maka akupun selalu teringat akan kenangan
manis itu. Dan yang bisa ku katakan.
“ terima kasih
Ayah, terima kasih untuk nama yang spesial ini, terima kasih Ibu dan terima
kasih Allah, engkau berikan hamba Ayah dan Ibu yang baik, penyayang dan luar
biasa. Terima kasih atas nikmat karuniah dan kebesaran-Mu Ya Allah”.
Ardiles :
audhie_cupu@yahoo.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar