Adik-adikku
S
|
ejenak kita menghilang
dari gelap dan susah yang kita rasakan detik ini. Seberat apapun perjuangan
kalian di sana. Tentunya masih ada sepasang jiwa yang terus terjaga hinggaa
larut malam. Ntah sampai kapan mereka akan terus berjibaku dengan tetesan keringat
dan luapan kerinduan. Anak-anaknya yang jauh, kini menghatui hati keduanya.
Adik-adikku,
Apapun yang kita capai
detik ini, tak lepas dari rasa cinta Allah kepada kita. Begitu besar dan
teramat besar kuasa dan hidayah yang berlapis-lapis Allah tumpukan dalam setiap
lembaran cerita panjang kita.
Tentu saja salah nikmat
yang tak akan mampu kita dapat menghitungnya, nikmat menjadi buah cinta
sepasang jiwa yang begitu lembut hati dan rendah pandangannya.
Adik-adikku.
Hatiku menyapa, dari
hati untuk hati kalian yang selalu saja bergulir hasrat dan ketidakpuasan atas
segala kelemahan dan kekurangan serta segala ketidakberdayaan keduanya
memberikan materi yang lebih. Sungguh jika ku boleh menawar dan menghargai, ku
minta gantikan kehadiran keduanya atas hidupku. Namun tak mampu sebegitunya
adik-adikku.
Adik-adikku.
Percaya atau tidak,
jauh nan di sana. Air mata mungkin jatuh atau mengepul dalam kedua kelopak
mata. Namun tak ada yang mampu dan hadir untuk menahannya. Karena sudah
begitulah kesepakatan keduanya. Mereka hanya ingin mengusap air mata, namun tak
akan pernah menampakkan air mata kepada permata hati keindahannya.
Adik-adikku.
Sejuah ini, hingga
detik yang perlahan-lahan terus saja berlalu tanpa mampu kita hadang , tanpa
mampu kita tahan. Bahkan tak mampu kita tawar dan ulang semua kisah senja yang
berlalu duka dan sia-sia.
Adik-adikku.
Titahku untuknya,
cintaku untuk keduanya. Rindu dan sayangku tak bertepian bagi keduanya. Pelukan
dan senyuman penyejuk jiwa bagi keduanya.
Sungguh keduanya
permata keindahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar