Pages

Sabtu, 30 November 2013

Adik-adikku

Adik-adikku
S
ejenak kita menghilang dari gelap dan susah yang kita rasakan detik ini. Seberat apapun perjuangan kalian di sana. Tentunya masih ada sepasang jiwa yang terus terjaga hinggaa larut malam. Ntah sampai kapan mereka akan terus berjibaku dengan tetesan keringat dan luapan kerinduan. Anak-anaknya yang jauh, kini menghatui hati keduanya.

Adik-adikku,
Apapun yang kita capai detik ini, tak lepas dari rasa cinta Allah kepada kita. Begitu besar dan teramat besar kuasa dan hidayah yang berlapis-lapis Allah tumpukan dalam setiap lembaran cerita panjang kita.
Tentu saja salah nikmat yang tak akan mampu kita dapat menghitungnya, nikmat menjadi buah cinta sepasang jiwa yang begitu lembut hati dan rendah pandangannya.

Adik-adikku.
Hatiku menyapa, dari hati untuk hati kalian yang selalu saja bergulir hasrat dan ketidakpuasan atas segala kelemahan dan kekurangan serta segala ketidakberdayaan keduanya memberikan materi yang lebih. Sungguh jika ku boleh menawar dan menghargai, ku minta gantikan kehadiran keduanya atas hidupku. Namun tak mampu sebegitunya adik-adikku.




Adik-adikku.
Percaya atau tidak, jauh nan di sana. Air mata mungkin jatuh atau mengepul dalam kedua kelopak mata. Namun tak ada yang mampu dan hadir untuk menahannya. Karena sudah begitulah kesepakatan keduanya. Mereka hanya ingin mengusap air mata, namun tak akan pernah menampakkan air mata kepada permata hati keindahannya.
Adik-adikku.
Sejuah ini, hingga detik yang perlahan-lahan terus saja berlalu tanpa mampu kita hadang , tanpa mampu kita tahan. Bahkan tak mampu kita tawar dan ulang semua kisah senja yang berlalu duka dan sia-sia.
Adik-adikku.
Titahku untuknya, cintaku untuk keduanya. Rindu dan sayangku tak bertepian bagi keduanya. Pelukan dan senyuman penyejuk jiwa bagi keduanya.
Sungguh keduanya permata keindahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar