PILIHAN HATI
“Sedetik saja, ntahlah bagiku. Tak
ada waktu bagi untuk tidak memikirkanmu. Kamu baik-baik saja kan Der?”
“aku baik, baik-baik saja”
“hari ini mau ke mana Der? Sibuk
atau ada kegiatankah?”
“hu.. uda dulu yah Mad. Aku malas,
aku malas kamu terlpon dan sms terus.”
Tit…tit...tit………….
Ini yang kesekian kalinya. Betapa
sesaknya di dalam dadaku. Betapa serasa dipukul dengan keras dada dan hatiku.
Seolah remuk seketika. Terus dan selalu begitu. Baginikah rasanya tersiksa di
dalam jiwa. Tak fisik yang menuai luka dan perih. Tapi, tepat di hulu hati,
menyerang akalku dan melumpuhkan sendi-sendi tubuhku.
“Sabar ya Mad. Kamu ngak boleh
kayak gini Mad. Banyak hal yang dapat kamu lakukan ke depannya. Jangan kamu
habiskan waktumu untuk memikirkan dan menyesalinya seperti ini Mad. Ingat
kuliahmu!”
“Ngak semudah itu Gan, Kau sendiri
tahu. Semalam kami baru saja pergi jalan dan makan berdua. Bagiku walau singkat
namun kala bersaama itu sangat berarti. Tapi, semudah itu juga baginya
meremukan harapanku Gan?”
“Mad! Sudah yah. Kalau kamu kayak
gini terus aku jadi malas sama kamu. Kalau kamu masih mengganggap aku teman dan
adikmu. Aku juga ingin kamu mendengarkan dan menuruti apa yang sampaikan Mad. Aku semua tentangmu,
bahkan mungkin aku lebih tahu dirimu akan dirimu sendiri Mad.”
“Mungkinkah ini yang terbaik Gan?
Seandainya aku memilih saat ini tentu aku akan memilih dan menuruti apa
keinginan dan perkataanmu Gan. Tapi, tetap saja ngak mudah menjalaninya Gan.”
“Kau tahu Mad, kau terlalu lemah
untuk masalah hati. Inikah sejatinya laki-laki yang selalu melindungiku ketika
ada orang yang mengangguku, baik itu di SD, SMP dan masa SMA. Inikah
sesungguhnya jiwa lelaki yang selalu ku hormat dan segani. Ayo lah Mad, kau
harus kuat. Percayalah ini yang terbaik bagimu.”
‘Tapi Gan, semudah itukah baginya
menghapus dan melupakan semua yang telah berlalu tiga tahun ini Gan. Dari awal
kuliah, saat pertama kau perkenalkan dia denganku. Saat itu juga dia masih
dengan sikap polos dan keangunannya kami memulai cerita dan hari-hari kami
dengan rencana-rencana masa depan Gan. Tapi, semuanya pupus Gan.”
“Itulah kesalahanmu Mad, kau
terlalu besar berharap. Kau mengantungkan harapan dan mimpi kepada sosok yang
keberadaannya abstrak di jiwamu. Bahkan buka itu saja, kau hanya merencanakan
omong kosong belaka. Maaf Mad, aku berbicara atas apa yang ku pahami dan lihat.
Coba kau renungkan, Bagaimana kuliahmu dan bagaimana IP dan IPK persemestermu?
Semuanya kacau dan hancur-sehancur hatimu yang remuk saat ini. Itukah yang
namanya cinta Mad? Tak mampu mengubahmu menjadi lebih baik. Menghabiskan waktu
saja.
Benar-benar sekali apa yang disampaikan
Gani, benar sekali. Detik itu aku terhenyak dalam kamar kosnya. Seketika aku
tertunduk, merenung sejenak. Belum habis hitungan menit selesai Gani berbicara.
Aku berdiri dan izin pulang kepadanya.
Aku menyadari banyak hal pada hari
itu. Sesampainya di kosku, belum sempatku memarkir motorku. Dan belum sempat
pula aku memperbaiki posisi hatiku. Ku dapati satu pesan masuk di ponselku.
“Dera”.
“Nanti
malam jadikan Tio? Usai pemilihan Udun yah. Kita langsung ke tempat biasa.
Semangat. Doaku bersamamu
J..”
“Prantio”
Seketika lemas tak berdaya aku
membacanya. Semakin sakit hatiku, dan semkain remuk hatiku. Belum sempat aku
menghapus air mataku. Ponselku berbunyi lagi, satu pesan masuk lagi “ Dera”
“ maaf salah kirim”
“Ternyata dia sudah mendapat
pengantiku” ucapku dalam bathinku
Mereka cocok sekali, aku bukanlah
siapa-siapa dan tidak memiliki potensi dan sesutu yang dapat ku banggakan.
Mereka pasangan yang cocok sekali. Satu Uda Sumatea Barat dan satunya lagi Uni
Bukittinggi. Sedaangkan aku? Aku hanya mahasiswa tahun akhir yang tak punya
Sesuatu yang dapat ku banggakan sama sekali.
Aku tahu diri, aku memilki banyak
kekurangan dan tak memiliki kelebihan apapun. dan, aku bukan pilihan hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar