Pages

Senin, 13 Januari 2014

Apahku, Bekerja Lebih Keras Dari Penggulung

APAHKU, BEKERJA LEBIH KERAS DARI PENGGULUNG

By. Ardiles

Di sisi dudut ruangan, diantara pelataran jalan dan tiang-tiang gedung kampus yang menjulang dan berdiri dengan kokohnya aku berdiri. Semenjak beberapa menit yang lalu aku menyandarkan  tubuhku ke salah satu tiangnya. Aku hanya terdiam dan terpaku memperhatikan beberapa anak kecil yang dengan cerianya berlarian di hadapanku. Ku lihat mereka begitu akrab dan dekat, “ku yakin mereka pasti bersaudara”. Tebakku tanpa pikir panjang. Dua orang perempuan dan sau orang laki-laki. Ketiga anak kecil yang kira-kira berumuran antara 4, 7 dan 9 tahun itu begitu menarik perhatianku. Mereka membuatku menitih dan berpikir jauh sampai ke Bagian Sumatra Selatan, tepatnya di Provinsi Bengkulu. Kab Bengkulu Selatan. Terbayang olehku, Elsa, Ilham dan Arif yang berumuran sepantaran dengan mereka. Terbesit di benakku “ apa yang sedang diperbuat atau dilakukan adik-adikku di rumah”. “mudah-mudahan mereka baik-baik saja” ucapku penuh harap. “Amin ya Allah”.

Kemudian aku“dek kamu ke kotak yang sana yah !”. tunjuk perempuan yang paling besar di antara ketiga anak itu. “oke kak” jawab perempuan yang satu lagi sambil memicingkan salah satu matanya. Lalu ku lihat kakaknya hanya mengacungkan jempol kirinya, sedangkan tangannya yang satu lagi sedang memegang bukusan plastik bewarna hijau yang lumayan besar. “kak, terus adek ikut siapa kak?”. Tanya anak lelaki yang paling kecil diantara kedua perempuan itu. “Adek ikut kakak aja yah, biarin kak dinda yang ke kotak yang sana”. “iya deh kak” jawab adek kecil itu.
Kemudian ku perhatikan dengan seksama apa yang ketiga adek-adek kecil itu lakukan, ku lihat mereka dengan sibuk dan gesitnya mengacak-ngacak isi kotak-kotak besar bewarna biru langit itu. Kotak yang hampir sama tingginya dengan badan mereka tidak membuat mereka berhenti untuk melirik isinya.
Kemudian perempuan yang disuruh kakaknya untuk pergi ke kotak yang berada di pojok samping Bank BRI, datang menghampiri kakaknya “kak, di sana Cuma sedikit kak. Jadi Cuma dapat segini kak”.kata perempuan yang lebih kecil.
“Alhamdulillah, iya ngak apa-apa kok dek. Isnya Allah mungkin besok lebih banyak lagi dek. Kita syukuri aja apa yang kita dapat hari ini”. Jawab perempuan yang paling besar.
“iya ya kak, Alhamdulillah. Daripada ngak dapat apa-apa sama sekali”. Balas yang paling kecil.

“Alhamdulillah?” dan “Insya Allah”. Apa aku ngak salah dengar ? tanya pada diriku sendiri.
“mereka ?, yang sekecil itu, bisa-bisanya berkata dan berpikir sedewasa itu?”
Jujur aku ngak percaya, hatiku berdalih dengan apa yang aku lihat. Aku tidak berani mengakui apa yang terjadi di hadapanku.

“ye... kak, coba lihat adek dapat apa!”. Teriak yang lelaki.
“emang adek kakak dapat apa?” tanya perempuan yang paling besar penasaran.
“ngak tahu kak apa’an ini, adek mau kasih sama bapak kak”. Jawab adek lelaki kecil itu.
“iya boleh”. Balas perempuan yang paling tua”.

Di saat dua beradik kakak itu berbincang,  aku juga terus memperhatikan perempuan kecil yang  sedang merapikan apa yang ia dapatkan dari kotak biru yang berada di pojok Bank BRI tadi. Tidak sengaja perempuan kecil itu melihatku yang sedang memperhatikannya, menyadari keberadaanku yang sedang memperhatikan mereka aku pun langsung beracting pura-pura sibuk dengan handphoneku sambil sesekali memperhatikan mading yang ada di samping kananku.
begitulah yang sering aku lihat di Iklan atau di sinetron dan film-film action di TV. Dan hari ini aku mempraktekkannya secara langsung. Ada rasa geli atas apa yang aku lakukan, untungnya sedang tidak ada orang yang lewat atau memperhatikan tingkah dan gelagakku. Ingin aku ketawa sekeras-kerasnya, namun aku hanya bisa cengigisan dengan gayaku barusan.

“ dek ayo kita pergi, sepertinya bapak dan ibu sudah terlalu lama menunggu kita. Ayo !” ajak perempuan yang paling besar.
“sip bos!” jawab kedua adiknya.
Kemudian mereka berjalan menuju lapangan bola UNP yang berada di depan Rektorat, ku perhatikan mereka berjalan sambil berlari-lari kecil. Ku lihat tawa dan kecerian di wajah tiga beradik itu. Aku  mereka menyadari  bahwa aku memperhatikan mereka sedari tadi.
Sesekali si lelaki kecil itu menoleh ke belakang, namun kakaknya, perempuan  yang kecil. Memegan tangan kiri si lelaki kecil itu. Kemudian dia berbisik ke telinga adiknya. Aku tidak tahu jelas apa yang ia sampaikan kepada adiknya. Namun aku terus mengikuti tiga baradik kakak itu.
Lalu terbayang olehku wajah adik-adikku, “apakah adik-adikku seakur itu antara satu sama lainnya?, atau mereka sedang bercanda satu sama lainnya? Akankah adikku saling menjaga antara satu sama lainnya?” Itu pertanyaan yang hadir di pikiranku.
Namun, tak dapat ku pungkiri, pikiranku mulai memikirkan hal yang aneh dan menyedihkan tentang keadaan adik-adikku yang jauh di ujung Sumatra sana, sehingga membuat mataku berkaca-kaca, seakan butir-butir yang membuat mataku basah itu ingin keluar dari sela-sela kelopak mataku. Tapi, hal itu tak sampai terjadi, akupun berusaha menguatkan hatiku, dan menepisnya dari pikiranku “Alhamdulillah adik-adikku tidak sampai seperti mereka, terima kasih ya Allah, terima kasih telah engkau berikan kami kedua orangtua yang penuh cinta dan tanggung jawab. Terima kasih Pah, terima kasih”. Ucapku lirih menggingat keluargaku.
Seandainya jika Apah dan Amah sudah tiada, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku dan adik-adikku. Aku takut membayangkan jika Apah telah tiada, dan kami tidak tahu siapa yang akan mencari nafkah untuk kami sekeluarga. Aku benar-benar takut membanyangkan jika aku dan adik-adik harus melakukan hal yang dilakukan tiga anak kecil yang kini masih ku ikuti. Demi  Allah aku tidak kuasa membayangkannya.
“jangan sampai terjadi yah Allah, kami masih sangat membutuhkan Apah untuk membimbing dan menjaga kami ya Allah. Hamba tidak akan tahu akan seperti apa kami tanpa bimbingan dan lindungannya ya Allah. Berikan hamba waktu untuk mengantikan posisinya sehingga hamba bisa membiarkannya beristirahat dan lebih banyak waktu untuk beribadah kepada Engkau ya Allah. Kabulkanlah ya Allah hamba sangat mencintai dan menyayanginya. Berikan hamba waktu dan kesempatan itu ya Allah”.
“amin”. Ucapku.
Tak terasa, kini ketiga anak itu telah sampai di sudut kiri lapangan sepak bola, ku si lelaki kecil itu langsung berlari mendahului kedua kakak perempunnya menghampiri Ibu dan Ayah. Sepertinya tebakanku tepat, mereka memang bersaudara. Ku perhatikan Ayah dan Ibu ketiga adek kecil itu telah lama menunggu di simpang tiga jalan, antara Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Pendidikan dan lapangan bola. Ayah dan Ibu anak itu, duduk pinggiran got yang terdapat di sebelah taman FIS.
“Yah ini apa?” tanya si lelaki kecil kepada Ayahnya. Ia menyodorkan kepada Ayahnya benda yang bentuknya cukup menarik, benda tersebut  memilki lengkungan yang seimbang baik kiri dan kanannya,  dan bewarna perak mengkilat.
“oh, ini stang sepeda motor nak. Dapat di mana tadi nak?” tanya sang Ayah.
“di dekat sana yah, di ujung sana” jawab si lelaki kecil sambil menunjuknya dengan mulutnya yang monyong.

Ayah, Ibu dan kakak-kakak perempuannya hanya tertawa melihat tingkah adikknya ingin menunjukan tempat ia mendapatkan benda tersebut.
“yah sudah, yuk kita pulang. Barang-barangnya tolong dirapikan dulu yah nak. Biar nanti semuanya bisa duduk”. Pinta Ayah adik-adik kecil itu.
“oke komandan!” sahut ketiga anal itu.
“Karena kakak yang paling rajin dan berhasil melakasanakan seperti yang Ayah pinta. Maka kakak yang duduk di samping kanan Ayah”. Kata Ayah anak-anak itu.
“ngak usah Yah, biar adik-adik saja Yah. Adik-adik juga sangat rajin dan bersemangat Yah”. Jawab perempuan yang lebih besar.

Lalu Ayah anak-anak itu membelai kepala anak sulungnya, dan mencium keningnya. Pemandangan ini, membuatku merasa terharu. Aku semakin penasaran dengan keluarga itu. Aku kemudian berusaha mengambil foto sekeluarga itu dengan kemarea handphoneku. Kerana jaraknya terlalu jauh, sekitar 7 meter dari posisiku, di tambah lagi dengan hari yang sudah menjelang magrib membuat fotonya tidak begitu bagus dan jelas.

Perlahan-lahan Ayah ketiga anak itu mulai mengayuh sepeda becaknya, anak perempuan yang kecil duduk di samping kanan Ayahnya, sedangkan si lelaki kecil duduk di antara stang atau kendali sepeda dengan tempat duduk, di mana antara keduanya sudah diberi kayu yang memanjang dan membentuk satu garis lurus antara stang dan tempat duduk sepeda. Ku perhatikan, ternyata di sanalah si lelaki kecil itu duduk bertenger dengan manjanya kepada Ayahnya. Sedangkan yang anak perempuan yang besar dari belakang bersama ibunya mendorong sepeda yang Ayahnya kendarai agar terasa lebih ringan. Ku lihat beberapa karung plastik besar yang di dalamnya terisi penuh dengan  gelas plastik air mineral bekas ukuran 200 ml, kerdus dan beberapa potongan besi yang dikumpulkan adik-adik kecil itu di setiap kotak-kotak sampah bewarna biru itu, dijaga oleh Ibu dan adik peremuan itu agar tidak terjatuh.

Kini wajah Apahku mulai hadir kembali di benakku, Apahku kadang tidak sampai hati melihat aku bekerja. Apalagi sampai melihatku  menjadi pengulung barang bekas seperti keluarga pengulung itu. Demi Allah, aku tidak mengatakan pekerjaan penggulun tidak halal dan tidak baik. Namun aku hanya ingin mensyukuri apa yang telah Allah berikan dan bersyukur telah diberikan Apah yang bertanggung jawab terhadap kehidupan kami sekeluarga. Apahku  memang bukan seorang penggulung. Tapi, Apahku bekerja lebih keras dan berat dari para penggulung untuk membiaya kuliah aku dan dua adik serta biaya sekolah ketiga adikku, Apahku tidur lebih sedikit dan terjaga lebih awal dari para penggulung untuk mencari nafkah dan Apahku membiarkan kami makan dan tidur lebih awal, sedangkan beliau selalu terakhir tidur dan selalu makan sendiri tanpa makan bersama kami.
Walau Apah bekerja lebih dari seorang penggulung, namun semua itu untuk kami, anak-anak dan istrinya, aku, adik-adikku dan Ibuku tercinta.

Oleh Audhie Cupu pada 8 Mei 2012 pukul 23:39


Tidak ada komentar:

Posting Komentar