Pages

Senin, 27 Januari 2014

Kota Kenangan atau Impian

KOTA KENANGAN ATAU IMPIAN
By Ardiles

Senja di Padang- empat tahun sudah berlalu, meninggalkan kota kelahiran. Kota dimana aku dibesarkan bahkan mengapai semua mimpi-mimpi yang ingin ku raih. Tertinggal jauh kisah indah dan masa kecil yang tak akan pernah terlupakan dan terulang. Bias bahkan tak begitu mampu aku menginggatnya, kini yang tertinggal hanyalah kenangan. Sama halnya dengan julukan kota kelahiranku “Kota Manna, Kota Kenangan”.
Rindu, bahkan aku anak rantau yang bukan asli bertanah dan bertuankan kota ini bisa terharu dan begitu dilema ingin pulang disela-sela libur semester. Bertahut pula dengan dilemma dan status mahasiswa tahun akhir yang disematkan di dadaku “Harus tamat Tahun ini (TITIK)”.
Jalan Gedang Melintang, terbentang lurus di depan Pasar Ampera. Di sanalah aku dan adik-adikku tumbuh dengan mimpi dan harapan. Pergi dari tanah leluhur, merupakan keputusan mutlak orangtua. Meninggalkan Ranah Minang, hidup sebagai perantauan di negeri orang. Panggilan “Padang Anyut” pun melekat padaku. Sepanjang hari di masa-masa sekolah dasarku, aku selalu di panggil dengan sebutan demikian sebagai olok-olokan temanku. Namun perlahan-lahan panggilan itu luntur seiringnya orang-orang di kota ini mulai lebih terbuka dan menerima kami orang Minangkabau.
Sebagai seorang anak yang asli dari keturunan Minang, yaitu Ibu dan Ayah. Aku tak pernah tak tahu jelasnya mengenai kampung asalku. Aku besar dan tumbuh dengan adat istiadat, tradisi, norma dan nilai-nilai masyarakat yang berkembang di Bengkulu Selatan, Manna. Kini ditanah nenek moyangku dengan bangga aku mengatakan, “aku orang Manna”.
Sekolah dasar, SMP, dan SMA aku lalui di Manna banyak sekali meninggalkan kisah diingatanku. Padang Panjang, Pantai Pasar Bawah, Muara, Tanah Lapang, Taman, Monas Mini, Lapangan Sekundang dan banyak lainnya. Bangunan-bangunan bersejarah, Meriam, Benteng dan semua tempat yang ku habiskan bersama sahabat-sahabat dikala SD, SMP dan SMA selalu tergiang memanggilku pulang.
Kota Kenangan, kini satu persatu dari generasi yang lahir dan tumbuh di kota ini pergi untuk merantau, menuntut ilmu, mencari penghidupan bahkan berjalan menemukan jati diri dikota lainnya. Semua satu persatu dari kakak-kakak kelasku menyebar di segala penjuru negeri ini, Indonesia. Begitupun teman-teman seangkatanku dan adik-adik kelasku kini jauh meninggalkan kota ini ke perantauan layaknya aku dahulu.
Tapi, hati berbicara seakan ingin berteriak “rindu nian ndak baliak, betunggal ngan kawan-kawan, betemu ngan guru-guru berlutut ndak nyium tangan aw sughang-sughang. Amun ukan  karena kesabaran dan keikhlasan aw ndiak mungkin kami anak-anak aw pacak nginak dunia sebrang luak ini”
Ntahlah, kota ini terus saja memanggil pulang. Begitu mengiurkan untuk bertemu dan berjumpa dengan “kance-kance lamau”. Mungkin agak sedikit berbeda dengan yang lainnya, terbesit rindu atau mungkin tak ingin pulang kembali ke kota ini.
Kota kenangan, mungkin sebagian dari kami ingin tetap ingin kota ini jadi kota kenangan. Hanya jadi tempat meratapi masa lalu, tempat merenung mengingat-ingat masa indah dan kebesaran kota ini. Kota ratapan yang tak akan pernah berubah, dan tak pernah ada yang mampu merubahnya menjadi lebih baik.
Terkadang, ketika membaca beberapa berita tentang, kota kenangan. Begitu miris dan menyedihkan mengetahui persoalan yang terjadi. Seakan-akan kota ini tak ada yang mengurusnya. Semuanya sibuk dengan kepetingannya masing-masing. Bagiku kota ini menyimpan begitu banyak kenangan baik dan buruk. Bahkan terlalu banyak pengalaman dan kenangan yang berharga di dalamnya.
Sedih sekali mengetahui kota kenanganku kini begitu bobroknya, mungkin tidak hanya aku yang sedih dan miris mengetahuinya. Teman-temanku yang kini tengah berjuang diberbagai Universitas lainnya merasakan hal yang sama. Kota di mana aku diajarkan untuk disiplin, jujur, menghormati aturan dan adat istiadat kini mengkhianti semua pelajaran berharga yang ku dapat. Kota dimana aku tumbuh dengan pemahaman sebagai “Jemau Manna” kini begitu memilukan hati.
Pernah satu kesempatan, bahkan mungkin beberapa tahun yang lalu. Aku bersama-sama teman dan sahabat semasa Sekolah Menegah Pertama di SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan berjanji, mungkin ini hanya bualan anak-anak yang tak berkejalasan. Namun, dengan bangga dan yakinnya kami berucap. Kami akan belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Bila tiba waktunya kami akan mengambil peran, kami akan berdiri lalu berlari mengejar generasi-gerasi terdahulu kami. Akan kami sambut dan ambil estapet perjuangan dan kepemimpinan mereka.
Kenangan masa kecil kami terlalu banyak di sini, kami ingin kenangan itu tetap hidup. Sejak itu ocehan itu keluar dari hati dan terbesit dari bibir yang penuh opsesi, sepertinya kami harus jauh lebih serius  belajar dan cepat kemabli. Kota ini bukan saja kota kenangan bagi kami. Tapi kota ini, “Kota Impian” bagi kami dihari esok. Impian bagiku,  sahabatku, keluargaku bahkan nanti anak-anak kami.
Tapi, Mau atau tidaknya generasi yang kini berdiri dan duduk mengemban amanah di Kota ini, terpaksa atau tidaknya kami akan kembali ke kota ini. Kami akan kembali ke kota tempat kami membuat kenangan dan merajut impian. 

1 komentar: