Kota Kenangan atau Impian
KOTA KENANGAN ATAU IMPIAN
By
Ardiles
Senja
di Padang- empat tahun sudah berlalu, meninggalkan kota kelahiran. Kota dimana
aku dibesarkan bahkan mengapai semua mimpi-mimpi yang ingin ku raih. Tertinggal
jauh kisah indah dan masa kecil yang tak akan pernah terlupakan dan terulang.
Bias bahkan tak begitu mampu aku menginggatnya, kini yang tertinggal hanyalah
kenangan. Sama halnya dengan julukan kota kelahiranku “Kota Manna, Kota
Kenangan”.
Rindu,
bahkan aku anak rantau yang bukan asli bertanah dan bertuankan kota ini bisa
terharu dan begitu dilema ingin pulang disela-sela libur semester. Bertahut
pula dengan dilemma dan status mahasiswa tahun akhir yang disematkan di dadaku
“Harus tamat Tahun ini (TITIK)”.
Jalan
Gedang Melintang, terbentang lurus di depan Pasar Ampera. Di sanalah aku dan
adik-adikku tumbuh dengan mimpi dan harapan. Pergi dari tanah leluhur,
merupakan keputusan mutlak orangtua. Meninggalkan Ranah Minang, hidup sebagai
perantauan di negeri orang. Panggilan “Padang Anyut” pun melekat padaku.
Sepanjang hari di masa-masa sekolah dasarku, aku selalu di panggil dengan
sebutan demikian sebagai olok-olokan temanku. Namun perlahan-lahan panggilan
itu luntur seiringnya orang-orang di kota ini mulai lebih terbuka dan menerima
kami orang Minangkabau.
Sebagai
seorang anak yang asli dari keturunan Minang, yaitu Ibu dan Ayah. Aku tak
pernah tak tahu jelasnya mengenai kampung asalku. Aku besar dan tumbuh dengan
adat istiadat, tradisi, norma dan nilai-nilai masyarakat yang berkembang di
Bengkulu Selatan, Manna. Kini ditanah nenek moyangku dengan bangga aku
mengatakan, “aku orang Manna”.
Sekolah
dasar, SMP, dan SMA aku lalui di Manna banyak sekali meninggalkan kisah
diingatanku. Padang Panjang, Pantai Pasar Bawah, Muara, Tanah Lapang, Taman,
Monas Mini, Lapangan Sekundang dan banyak lainnya. Bangunan-bangunan
bersejarah, Meriam, Benteng dan semua tempat yang ku habiskan bersama
sahabat-sahabat dikala SD, SMP dan SMA selalu tergiang memanggilku pulang.
Kota
Kenangan, kini satu persatu dari generasi yang lahir dan tumbuh di kota ini
pergi untuk merantau, menuntut ilmu, mencari penghidupan bahkan berjalan
menemukan jati diri dikota lainnya. Semua satu persatu dari kakak-kakak kelasku
menyebar di segala penjuru negeri ini, Indonesia. Begitupun teman-teman
seangkatanku dan adik-adik kelasku kini jauh meninggalkan kota ini ke
perantauan layaknya aku dahulu.
Tapi,
hati berbicara seakan ingin berteriak “rindu nian ndak baliak, betunggal ngan
kawan-kawan, betemu ngan guru-guru berlutut ndak nyium tangan aw
sughang-sughang. Amun ukan karena
kesabaran dan keikhlasan aw ndiak mungkin kami anak-anak aw pacak nginak dunia
sebrang luak ini”
Ntahlah,
kota ini terus saja memanggil pulang. Begitu mengiurkan untuk bertemu dan
berjumpa dengan “kance-kance lamau”. Mungkin agak sedikit berbeda dengan yang
lainnya, terbesit rindu atau mungkin tak ingin pulang kembali ke kota ini.
Kota
kenangan, mungkin sebagian dari kami ingin tetap ingin kota ini jadi kota
kenangan. Hanya jadi tempat meratapi masa lalu, tempat merenung mengingat-ingat
masa indah dan kebesaran kota ini. Kota ratapan yang tak akan pernah berubah,
dan tak pernah ada yang mampu merubahnya menjadi lebih baik.
Terkadang,
ketika membaca beberapa berita tentang, kota kenangan. Begitu miris dan
menyedihkan mengetahui persoalan yang terjadi. Seakan-akan kota ini tak ada
yang mengurusnya. Semuanya sibuk dengan kepetingannya masing-masing. Bagiku
kota ini menyimpan begitu banyak kenangan baik dan buruk. Bahkan terlalu banyak
pengalaman dan kenangan yang berharga di dalamnya.
Sedih
sekali mengetahui kota kenanganku kini begitu bobroknya, mungkin tidak hanya
aku yang sedih dan miris mengetahuinya. Teman-temanku yang kini tengah berjuang
diberbagai Universitas lainnya merasakan hal yang sama. Kota di mana aku
diajarkan untuk disiplin, jujur, menghormati aturan dan adat istiadat kini
mengkhianti semua pelajaran berharga yang ku dapat. Kota dimana aku tumbuh
dengan pemahaman sebagai “Jemau Manna” kini begitu memilukan hati.
Pernah
satu kesempatan, bahkan mungkin beberapa tahun yang lalu. Aku bersama-sama teman
dan sahabat semasa Sekolah Menegah Pertama di SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan
berjanji, mungkin ini hanya bualan anak-anak yang tak berkejalasan. Namun,
dengan bangga dan yakinnya kami berucap. Kami akan belajar dengan giat dan
sungguh-sungguh. Bila tiba waktunya kami akan mengambil peran, kami akan
berdiri lalu berlari mengejar generasi-gerasi terdahulu kami. Akan kami sambut
dan ambil estapet perjuangan dan kepemimpinan mereka.
Kenangan
masa kecil kami terlalu banyak di sini, kami ingin kenangan itu tetap hidup.
Sejak itu ocehan itu keluar dari hati dan terbesit dari bibir yang penuh opsesi,
sepertinya kami harus jauh lebih serius
belajar dan cepat kemabli. Kota ini bukan saja kota kenangan bagi kami.
Tapi kota ini, “Kota Impian” bagi kami dihari esok. Impian bagiku, sahabatku, keluargaku bahkan nanti anak-anak
kami.
Tapi,
Mau atau tidaknya generasi yang kini berdiri dan duduk mengemban amanah di Kota
ini, terpaksa atau tidaknya kami akan kembali ke kota ini. Kami akan kembali ke
kota tempat kami membuat kenangan dan merajut impian.
aamiiin dnk. smga cpat lulus..
BalasHapus