setting

My Story : ARDILES: My Story

My Story

Namaku !
By : Ardiles

Seandainya pada saat itu, aku dapat berbicara, maka akan ku sampaikan keinginan hati ini. Seandainya pada saat itu aku dapat memilih dan meminta, maka akan ku sampaikan segala hasrat dan keinginanku. Namun, kini ku telah hadir dan menebarkan senyum pada dunia. Aku yang terlahir dalam keadaan lemah dan miskin, namun sungguh beruntung dapat terlahir dari rahim yang begitu mulia dan suci, rahim seorang wanita yang begitu ku hormati dan ku sayangi dalam hidupku, yang menjadi tempat ku berbakti dan menemukan surga dunia dan akhirat, yang kemudian hari sosok wanita luar biasa ini ku panggil lembut dengan sebutan ibu, ibu yang telah membesarkan dan mengajarkanku banyak hal tentang cinta dan sebuah kewajiban hidup di dunia dan akhirat, yang membalutkan kehangatan dan menumpah segala curahan kasih sayang dan kecerian kepadaku.Alhamdulillah, terucap rasa syukur atas segala limpahan rahmat dan karunia serta kasih sayang Allah SWT kepadaku, dan semua itu terasa begitu lengkap dan membahagiakan kehidupanku di masa kecil, ketika sosok seorang Ayah yang senangtiasa menunggu dengan sabarnya dan menyambut kedatangan serta jerit tangisku dengan belain lembut dan sentuhan cintanya, senyum dan tawanya membuatku tersentak diam dan mulai tertawa cekikikan ketika dagu Ayahku menyentuh kedua tanganku disaat Ayah mengumandangkan adzan di telinga kananku, terasa bulu-bulu halus di dagu Ayah membuatku merasa geli dan girang. Dan saat itulah pertama kali aku merasakan aroma tubuh dan nafas Ayah, yang kemudian hari disaatku semakin tumbuh dewasa dan semakin terpisah jauh dari Ayah, membuatku sangat merindukan aroma tubuh dan nafas Ayah yang membuatku merasa nyaman dan tanang.
Ayahku adalah tipe laki-laki pendiam dan tegas, kadang aku begitu takut untuk menghampiri Ayah, apalagi sampai memeluk dan mengatakan bahwa aku sangat mencintai Ayah. Sikap diam dan dingin Ayah serta merta juga membuatku menjadi kaku dan tak begitu berani bermanja-manja dengan Ayah. Namun, kadangkala ketika ku terjaga atau di saat ku melihat Ayah tertidur dengan kepenatan dan rasa letih memikul tanggungjawab sebagai seorang suami, Ayah dan kepala keluarga, begitu membuatku sedih dan menangis haru jika menatap raut mukanya yang kini mulai menua dan mengeriput. Kini secara perlahan rambut-rambut Ayah yang selalu wangi dan mengkilat, kini telah mulai memutih dan gersang. Saatku memandang dan memikirkan Ayah, bagaimana tidak membuatku duduk dan terpaku diantara kedua kaki Ayah seraya menciumnya, di saat semua orang masih tertidur dengan lelapnya, Ayah telah terjaga dan bersiap-siap untuk berangkat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga.Saat ketika tangisku buncah di antara kedua kaki Ayah, tetasan demi tetasan air mataku mulai mengalir di tengah pipi kiri dan kananku, dengan lirih ku katakan saat Ayah masih tertidur dengan lelapnya “ pah, ardi sangat sayang dengan apah. Ardi tahu, apah sangat lelah dan letih, apah hanya bekerja seorang diri untuk dapat memenuhi kebutuhan Ardi, nefri, Mualif, Elsa, Ilham dan Arif. Pah, maaf Ardi belum bisa membantu dan meringankan beban Apah, Ardi belum bisa menjadi yang terbaik buat Apah, Amah dan Adik-adik. Pah, Ardi akan belajar dengan giat dan membuat Apah bangga memiliki anak seperti Ardi, Ardi ingin menjadi anak yang terbaik untuk Apah dan Amah. Apah yang sabar yah jika saat ini Ardi dan adik-adik belum bisa membantu dan meringankan beban Apah dan Amah. Walau tak terasa, kini Ardi telah tumbuh dewasa dan besar. Tapi, Ardi rindu sekali saat tidur dalam pangkuan Apah, dan Ardi juga sangat rindu ketika Apah membelai lalu mencium kening Ardi dikala sewaktu Ardi masih kecil. Ardi sayang Apah dan Amah.Di saat itu aku masih duduk dan terisak dalam lamunanku, kemudian pikiran bawah sadarku berusaha membawaku ke cerita masa lalu, yah masa laluku. Semua berawal kurang lebih 20 tahun yang lalu, tepatnya 28 Juli 1991, saat itu lahirlah seorang anak laki-laki yang lucu dan mengemaskan, dan kemudian anak laki-laki itu di beri nama “ARDILES” oleh sepasang suami istri itu.
Nama yang telah direncanakan dan dipikirkan jauh-jauh hari oleh sang suami, nama yang memiliki kepanjangan Ardiles anak Rantau yang DilahIrkan di BengkoeLoE Selatan, kata pamanku itulah makna dari namaku, karena sebenarnya Ibu dan Ayah berdarah Minang asli, berasal dari Dusun Supayang, Batu Sangkar Sumatra Barat, yang merantau ke daerah “Manna”. Tapi, aku bersikap acuh tak acuh mengenai penjelasan “Bos” (panggilan akrab pamanku). Namun, aku tahu Ayah punya alasan sendiri kenapa memberiku nama “ARDILES”. Akan tetapi, aku tidak begitu berani menanyakan masalah namaku pada Ayah. Hanya Ibulah tempat ku mengadu dan menanyakan segala hal, jika aku merasa bingung dan tidak tahu tentang sesuatu hal.Dengan rasa ingin tahu kemudian aku menghampiri ibu, “Bu kenapa sih Ardi, dikasih nama ARDILES ?” tanyaku pada Ibu.“hemm, yang lebih tahu itu Ayah nak, coba Ardi tanya sama Ayah sana! Jawab Ibu.“heeeemm!”, seru kecewaku pada Ibu.Karena tidak mendapatkan jawaban dari Ibu, akupun memberanikan diri menghampiri Ayah, dengan rasa malu yang bercampur dengan rasa cemas. Akupun jadi heran sendiri, kenapa aku kaku begini sama Ayahku sendiri. Sebenarnya hal ini terjadi, mungkin karena aku merasa sangat kesal dan marah sama Ayah sehingga membuatku merasa asing dan jauh dari Ayah.aku hanya bukam, tanpa berani berkata apa-apa.“semua ini gara-gara namaku.” Lirihku pelan.Namaku sering jadi bercandaan teman-temanku di sekolah, mulai dari teman, kakak kelas bahkan guru seringkali menertawakan namaku. Aku sangat risih, lebih-lebih jika sekolah telah usai, maka teman-temanku disepanjang jalan pulang selalu mengejeku dengan panggilan “sendal”. “oi sendal mau kemana, mau jual diri kepasar atau jual sendal kepasar yah”. Ejek salah seorang teman SD ku.“aneh! dasar Padang Anyut, nama kok sama dengan merk sendal. Pasti bapaknya tukang sendal atau ngak tahu mau ngasih nama apa”. herdik teman ku yang lain.Hahahhhhaha.....Sontak semua temanku tertawa dengan statment temanku itu, aku benar-benar kesal dan marah. Aku hanya diam, dengan sabar dan berusaha tenang aku terus berjalan menuju rumah.“sialan, sialan dasar sialan!” teriakku dalam hati. Sebenarnya aku belum terlalu lama tinggal di Manna, aku baru beberapa minggu dan aku juga tidak terlalu mengerti bahasa Manna sama sekali (100 % belum sampai saat ini). Namun, Bibiku langsung saja memasukanku ke Sekolah Dasar yang sama dengan sepupu perempuanku, Ayu. sebab pada saat itu, kedua orangtuaku masih berada di Sumatra Barat. Jadi aku selalu pergi ke sekolah bersama bibi dan Ayu, dan Ayulah yang selalu membela dan menjagaku jika ada orang yang mengolok atau mengejekku di sekolah.Untuk masalah ejekan teman-temanku, alhamdulillah aku masih bisa bersabar dan menerima. Tapi, tidak untuk perlakuan seniorku, pada saat itu sedang masa waktu istirahat sekolah, ada kakak kelasku yang masuk ke kelas ku, lalu dia menghampiriku dan menanyakan namaku, “oi jok, sapaw namaw kaba (oi bro, nama kamu siapa) ? tanya kakak kelas padaku.dan akupun menjawab “namo den Ardiles, mang manga’ah ang jo den (nama saya ardiles, ada urusan apa kamu sama saya) ?”jawabku.“nah, luak padek nian kaba ne, jemau manau kaba ne (hei, sok betul kamu yah, emang kamu orang mana sih) ? bentaknya.“aden urang padang, apo urusan ang jo den (saya orang padang, apa urusan kamu sama saya )?” balasku.“hahahhahhaha, oi, padang anyut - padang anyut, masaw namaw samaw luak namaw sendal, buliah numpang mijak ndiak (oi. Orang padang hanyut ke Manna, masa nama kamu, sama kayak nama sendal, boleh numpang makai atau nginjak ngak)?” katanya. (sembari memegang kera bajuku, kemudian ku tepis dan dia mendorong kepalaku).Terang saja karena tidak senang diperlakukan seperti itu, akupun membalas karena aku sangat pantang jika kepalaku diperlakukan seperti itu, Ibu selalu bilang “nak, kepala itu kehormatanmu, maka jagalah kehormatanmu itu.” Sungguh aku sangat kesal dan marah, apalagi dia sudah menghina namaku, nama pemberian Ayahku.
Hari itu, aku berkelahi dan aku di hajar habis-habisan oleh kakak kelasku, di tendang dan di injak di dalam kotak pasir lompat jauh yang ada di belakang gedung sekolahku, hidungku yang kena tinju kemudian mengeluarkan darah yang cukup banyak dan badan ku terasa sakit serta pegal-pegal semua setalah kejadian itu. Saat kejadian itu, teman-teman kelasku hanya bisa melihat.“teng... teng... teng...,” bunyi bel masuk.Kemudian aku langsung lari menuju sumur, lalu mencuci bersih hidungku yang penuh darah, dan setelah selesai aku langsung masuk ke dalam kelas. Selama di kelas aku hanya duduk diam sembari memagang hidung dan menahan rasa perih di tubuhku.Mengenai kejadian ini tidak ada satupun keluargaku yang tahu mengenai kejadian itu, dan aku juga tidak ingin Ayah dan Ibu tahu mengenai kejadian itu, semua kusimpan dan hanya kutahan sendiri rasa sakit akibat pukulan-pukulan kakak kelasku, hidungku terus mengeluarkan darah dan terasa begitu sangat perih. Saat kejadian itu, aku jadi mulai takut untuk kesekolah, teman-temanku tetap mengejekku dan aku menjadi mider di kelas, aku tidak bisa melakukan apa-apa, kemudian aku mulai sering bolos sekolah, tidak pernah mengerjakan tugas, tidak pandai membaca, menulis dan hitung-hitungan.Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, tibalah saat pembagian rapor kenaikan kelas, sekian lama aku menunggu detik-detik pembagian rapor, aku sangat ingat ketika waktu pembagian rapor di SD ku. Aku tidak tahu, apa mungkin sudah manjadi sebuah syarat atau tradisi yang skaral pada masa itu, saat hari pembagian rapor kami disuruh untuk membawa kue oleh wali kelas, dan nanti akan ditukar dengan rapor kami yang berwarna hati. Aku ingat sekali, waktu itu aku hanya membawa “Roti Es” (terkenal pada masa kecilku), awalnya aku bawa satu bungkus besar, kemudian di jalan sengaja ku buka dan ku makan, jadi pada saat penukaran roti dengan rapor, aku hanya menyerah satu bungkus kecil “Roti Es” yang ku masukan ke dalam kantong kresek berwarna merah. kalau teringat kebodohan itu, aku menjadi malu dan hanya tertawa kecil. lalu dengan terburu-buru aku ambil raporku, kemudian aku langsung lari dengan kencangnya pulang kerumah, aku menghampiri Ibu seraya membawa raporku dan dengan senyum penuh harap aku menghadap Ibu sambil menjulurkan tangan meminta uang Rp. 100 sebagai syarat transaksi raporku,hehehhe...sebenarnya uang Rp. 100 itu untuk membeli es lilin, yang rencananya nanti akan ku minum bersama dengan “Roti Es” yang sudah ku korupsi dari transaksi yang tidak menguntungkan sepeserpun, aku sudah membayangkan minum es sambil ku teteskan air yang bewarna-warni di atas “Roti Es “ sembari duduk di atas pohon asam, “nikmatnya,” khayalku.Ketika sedang asyiknya mengkhayal, telingaku terasa panas, seakan diplintir, ternyata ketika ku buka mataku, tangan Ibu sudah menjewer telinga kananku.Sungguh sialan, ternyata nilai ku “CABE” semua, dan tertulis keterangan dari wali kelasku “ ANDA TIDAK NAIK KE KELAS III”. Ku akui, pada saat itu, aku emang sangat pemalas dan tidak begitu pandai membaca. Selain itu ditambah dengan berbagai persoalan teman-temanku yang sering mengejek dan mengolok-olokku. Eits...musibah dan malapetaka belum berakhir di sini, saat Ayah yang selalu bersikap dingin dan kaku, melihat raporku, sontak Ayah memarahiku habis-habisan, akupun menangis, lalu lari dan bersembunyi di bawah tempat tidur.
Di sanalah aku menangis sejadi-jadinya, dan akupun mengutuk habis-habisan namaku, kenapa harus ARDILES ?Kalau bukan karena nama itu, aku tidak akan mungkin di ejek dan diolok-olok temanku. Aku benar- benar merasa sial mendapatkan nama itu, nama yang tidak memiliki arti apapun bagiku, dalam isak tangisku aku mengatakan “dasar tidak bisa memilih nama yang baik, orangtua yang kolot dan tidak kreatif,” katakku sambil tersendu-sendu.Setalah hari itu, aku benar-benar merasa malu dan selalu dicemooh karena tidak naik kelas. Tapi, dengan tegas ku katakan “aku bukanlah orang yang pantang menyerah dan bisa jadi yang terbaik.”Hal itu dapat ku buktikan dengan selalu menjadi yang terbaik di kelas, secara perlahan, hari demi hari, tahun demi tahun ejekan itu semakin berkurang, namun teman-teman mulai mengolok-olok nama Ayahku yang biasa di panggil “Ampek”, padahal nama Ayah adalah Helmi Azman, ngak ada hubungannya sama sekali, “nama Allah swt saja disebut,”lirihku. Tapi, ku akui akupun juga kesal risih. Sampai akhirnya aku bisa lulus dengan memiliki nilai terbaik nomor dua dan kemudian masuk ke Sekolah Menengah Atas yang menjadi sekolah termahal dan terfavorit pada masa itu dan sampai sekarang (menurutku).Hehhehe...Aku kira, persoalan namaku telah berakhir, bersama lulusnya aku dari SD, dan ejekan-ejekan serta cemooh itu telah tinggal kelas dan tak lulus-lulus dari bangku SD, yang kurang ajarnya, Ternyata pelecehan yang berkaitan atas identitas atau namaku malah tetap berkibar dan terdengar merdunya di masa SMP. Sampai ketika ada seorang guru Biologi, bapak Teguh Haryano yang mengajar di kelasku, yang pada saat itu aku baru kelas VII SMP dan tibalah saat cek absen sebelum pelajaran dimulai, kemudian bapak Teguh memanggil namaku,“Ardiles.”“hadir pak,”jawabku tegas.serentak teman-teman yang usil berteriak “sendal itu pak.”Akan tetapi, pak Teguh diam sejenak. Lalu beliau mengatakan, “kalian tahu siapa itu Ardiles?“tidak,” jawab teman-temanku.“ada yang suka nonton dan olahraga sepabola?” lanjut pak Teguh.“adaaaa.....”jawab teman-temanku.“kalian tahu, Ardiles ini adalah salah seorang nama pemain sepak bola pada tahun 80-an, dan dia sangat gagah dan hebat, Ardiles ini adalah pemain belakang Inggris yang berlaga di Piala dunia di Brazil pada tahun itu.”terang pak Teguh.“oh....”sambung teman-temanku.Aku yang hanya tertegun, menjadi begitu sangat senang, karena ada yang membelaku dan tahu mengenai orang yang hebat di balik namaku. Aku manjadi sangat pede dan bangga dengan nama besar Ardiles sang pemain sepak bola tersebut. Akupun begitu girang, dan sampai dirumah, ku beranikan diri untuk menanyakan tentang asal mu asal namaku kepada Ayah dan Ibu, sejenak Ayah terdiam, kemudian menunduk lalu mengangkat kedua kepalanya yang tertunduk, sembari mengingat-ingat masa kecilnya, dengan nada yang datar dan begitu lirih Ayah menjawab “ iya nak, gurumu tepat sekali. Engkau tahu nak?Engkau adalah kebanggaan Ayah, dan engkau adalah cahaya hidup Ayah yang pertama, saat kehadiranmu membuat Ayah begitu bahagia dan Ayahpun teringat akan masa-masa di saat Ayah masih kecil anakku.
Di waktu kecil Ayah sangat hobi olahraga, terutama bemain sepak bola, dulu Ayah adalah olaragawan kampung nak, Ayah bisa dan pandai dalam cabang olahraga apapun nak, tenis meja, bulu tangkis, takraw dan sepak bola. Hanya saja pada saat itu, Ayah bukanlah termasuk anak-anak yang beruntung secara materi, Ayah lahir dari keluarga yang sederhana, di saat Ayah ingin ikut serta bermain sepak bola layaknya teman-teman Ayah. akan tetapi, Ayah tidak memiliki perlengkapan seperti yang dimiliki teman-teman Ayah. Namun, Ayah sangat senang sekali bermain sepak bola,dan kekurangan itu tidak mengurangi kesenangan Ayah untuk bermain sepak bola. Jika setiap kali ada perlombaan di kampung, Ayah selalu di ajak untuk ikut bertanding, Ayah selalu ditunjuk menjadi kapten dan pencetak gol untuk kesebelasan kampung kita nak. Namun, sayang sekali setiap kali Ayah bermain, Ayah hanya bisa meminjam sepatu dan perlengkapan teman Ayah, sedangkan teman Ayah yang memiliki sepatu hanya melihat dari luar lapangan, beliau menjadi pemain cadangan, kerena dia kesal dan Ayah menjadi tidak enak hati maka Ayah berhenti bermain sepak bola. lalu Ayah mulai bekerja di pencucian “puso” (truk besar) untuk memenuhi kebutuhan sekolah Ayah. Saat Ayah hanya fokus untuk sekolah saja nak.Sampai suatu hari, tibalah informasi tentang seleksi dari ibukota kabupaten Batu Sangkar untuk merekrut tim sepak bola dari kampung kita, Ayah ingin sekali ikut dalam tim itu, tapi Ayah tidak punya perlengkapan, baik itu sepatu dan syarat lainnya , kemudia Ayah coba meminjam sepatu bola teman Ayah, namun beliau tidak bersedia. Dan hal itu membuat Ayah sangat sedih karena keadaan Ayah saat itu. Ketika engkau lahir nak, seakan Ayah memiliki kesempatan hidup kedua nak, dan Ayah ingin sekali anak Ayah menjadi seorang pemain sepak bola, sampai saat menjelang kehamilan Ibumu, Ayah masih tetap gemar menonton pertandingan sepak bola, yang saat itu yang begitu populer di era tahun 80-an dan dia menjadi bintang lapangan adalah “Ardiles”, dia sangat lincah, tampan dan tinggi. Ayah ingin memberikan nama anak Ayah Ardiles, baik itu dia laki-laki atau perempuan akan Ayah beri Nama “ARDILES,”agar nanti bisa menjadi seorang olahragawan dan pemain bola hebat.Akan tetapi,Setelah Beberapa tahun kemudian,Sungguh sangat mengecewakan, Ayah begitu kecewa denganku dan tentu aku lebih kecewa lagi kepada Ayah. “Memberiku nama tanpa pamit dan menayakan persetujuanku, apakah aku senang atau tidak dengan nama itu, kalau aku tidak ada bakat di bidang olahraga jadi bukan salahku dong.” Ucapku pelan namun penuh kesal.Wajar saja Ayah marah, sudah sekian banyak bola kaki, raket, sepatu bola dan lain-lainnya yang Ayah belikan untukku, namun semuanya rusak oleh orang lain, sedangkan aku, tetap saja tidak begitu pandai dan menonjol dibidang olahraga.

Saat di SMP aku malah mulai aktif pramuka, yang sangat bertolak belakang dengan keinginan orangtuaku. Sampai pada saat aku berumur 16 tahun, pada tanggal 28 juli 2007. Tanggal itu tidak akan pernah aku lupakan, saat itulah segala kekesalan dan kemarahanku luntur kepada Ayah, nama ARDILES yang jadi cemooh dan ejekan temanku selama ini, terbalas tunai pada tanggal itu, yang membuatku mengucap dan sujud syukur, aku begitu tafakur dan menangis haru sejadi-jadinya pada saat itu. Hari itu aku menyadari, namaku adalah sebuah mimpi besar Ayah untuk kebaikanku di masa yang akan datang, nama yang di dalamnya terkandung do’a dan pengharapan semata kepada Allah swt, tekad dan keinginan yang telah digoreskan Ayah sebagai identitas diriku. Telah Allah kabulkan, “sebaik-baik rencana Ayah dan aku, maka rencana Allah itu jauh lebih baik dari rencana kami. Manusia hanya bisa punya rencana, namun hanya Allah yang punya ketetapan, dan Allah berfirman dalam Al-qur’an.Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh pula kamu menyukai sesuatu namun dia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui ( Al Baqarah 2 : 216).dan itulah yang ku alami, awalnya aku sangat tidak menyukai namaku “ ARDILES”, namun Allah swt telah membuktikan kebenarannya, Allah swt telah menunjukan kebesarannya, dan Allah swt telah mengabulkan do’a dan harapan di balik namaku “ARDILES”. Walau aku tidak dapat memenuhi keinginan dan harapan Ayah. Tapi, aku telah mendapatkan rahmat dari nama yang diberikan Ayah, pada tanggal itu, aku bisa menginjakan kaki di tiga negara yang berbeda, dari Indonesia, Brunnai darussalam, Dubai dan United Kingdom.Subhanallah, dan Alhamdulillah pada saat itu aku bisa menginjakan kaki di london, Inggris tepatnya di daerah Essex, chelmford.Begitu terasa perbedaan udara dan suhu di sana, yang membuat jantungku semakin bergetar hebat, derai dan hembusan angin begitu terasa kencang, dari kejauhan ku pandangi puluhan ribu orang tersenyum gembira, mereka berteriak heboh di tengah lapangan yang luas dan hijau, dan di sanalah ku lihat berbagai orang dari seluruh penjuru negara dunia yang berbeda, di bawah barisan puluhan bendera negara di seluruh dunia aku berdiri dengan penuh rasa syukur. Sesaat dadaku begitu sesak dan tangiskupun mengalir derasnya, saat itu satu-persatu teman-teman yang sama-sama dari Indonesia mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku seraya bernyanyi, “happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday ,happy birthday , happy birthday ARDILES "sungguh indah dan mengesankan, diulang tahunku yang ke–16 tahun, ku mendapatkan kado yang begitu mengesankan, hari kelahiran ku ratapi di belahan dunia lain, ku berada didaerah yang sangat jauh dari tanah kelahiranku, melintasi dua benua, berkumpul di tengah-tengah jutaan orang, dan itu ulang tahun termahal dan terindah yang ku rasakan. Saat itu pangeran William, putra mahkota kerajaan Inggris hadir dan membuka acara di tengah-tengah peringatan hari kelahiranku.Subhanallah,Walhamdulillah, saat itu aku menyadari hingga kini, betapa spesial dan beruntungnya aku, hingga ketika saat ku telah kuliah, masih ada saja teman yang tertawa dan mengejek namaku. Namun, kini aku hanya bisa tertawa dan berkata “Alhamdulilla Allahu akhbar”. Jika ada orang yang mengejek atau mengolok namaku, maka akupun selalu teringat akan kenangan manis itu. Dan yang bisa ku katakan.“ terima kasih Ayah, terima kasih untuk nama yang spesial ini, terima kasih Ibu dan terima kasih Allah, engkau berikan hamba Ayah dan Ibu yang baik, penyayang dan luar biasa. Terima kasih atas nikmat karuniah dan kebesaran-Mu Ya Allah”. arai
Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai