Lari
By.
Ardiles
Berlari,
bahkan terus saja ku berlari. Tanpa penat dan peduli dengan tubuhku yang mulai
lelah. Hanya ketakutanku yang membuatku terus berlari. Ketakutan betapa aku tak
ingin ia pergi. Betapa aku tak ingin ia mengakhiri kisah ini.
Teramat
dalam, bahkan semua telah melakat kuat di dalam jiwaku. Aku tak akan mampu
berpisah darinya. Tak akan mampu ku kubur cerita cinta yang telah menghiasi
kisah ini. Rasa yang menundukan jiwa, menundukan tekadku akan akan cinta.
Menundukan ku atas dendam dan prahara dunia kini lenyap.
Cinta
pertamaku, cinta yang teramat kuat. Sungguh ku akui ini sebuah pertemuan yang
telah dijanjikan. Pertemuan yang telah digariskan. Bagaimana tidak, aku
terlahir dan tumbuh dari rahim dan belaiannya.
Kini,
kini ku terus mengejar waktu yang semakin jauh meninggalkanku. Ku buka dan
dekap kuat lembaran-lembaran dalam album kenanganku.
Cintaku,
tak sekuat cintanya. Cintaku terlalu lemah dan lapuk layaknya sehalus sarang
laba-laba. Namun cintanya, terbalut salju berlapis berlian yang begitu indah
dan menenangkan.
Ibu,
engkau permata yang teramat berharga di dalam hidup. Penebar pesona cinta yang
hangat dan mulia. Engkau, wanita yang teramat tegar dan meneguhkan.
Ibu,
seandainya bolehku meminta kepada Rabbku. Ingin ku persembahkan cinta, dan
cinta hanya untukmu seorang.
Ibu, seandainya boleh
menukar hidupku. Maka ku ingin menukarnya dengan umurmu yang lebih panjang.
Ibu,
masa muda dan masa di mana aku tumbuh dalam pelukanmu. Betapa banyak kesetian
dan kebaktian cinta yang ibu tuangkan atasku.
Sekencang
apapun aku berlari mengejar waktu, sekuat apapun ku berusaha menghentikan
waktu. Maka aku tak akan pernah mampu memungut kisah masa kecilku bersamamu.
Betapa
kerasnya aku mengibah, betapa banyaknya air mata yang ku tuangkan untukmu wahai
ibu tak akan pernah dapat membalikan waktu.
Sejauh mana aku
berlari, sejauh mana ku mencari tak akan pernah ku temui sudut dunia yang
memisahkan kita.
Kerasnya ku menangis
dan menjert ditepian pantai tak akan pernah mengembalikanmu kedunia wahai
ibuku.
Aku
lelah berlari, aku lelah mencarimu ibu. Aku tak kunjung menemuimu. Aku tak
kunjung dapat menjangkau keberadaanmu.
Aku telah pupus
harapan. Aku berhenti mengejarmu, seiring tengelamnya matahari, hidup seiring
kelam tanpamu.
Aku menangis sendu
kepergianmu ibu.
Aku mencintaimu, aku
teramat merindukan pelukan dan kecup hangatmu.
Aku berhenti berlari
mengejarmu Ibu, aku lelah tak kunjung harap mengapaimu.
Aku merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar