SIMPUL KEBERSAMAAN
By.
Ardiles
Jengah
menatap sudut-sudut kampus, ditiap-tiap ruangan organisasi, ditiap-tiap kantin
dan menjanya yang dipenuhi gelak tawa nan tumpah ruah, bahkan jengah bercampur
haru menatap ditiap-tiap bawah pohon yang rindang dan menyejukan duduk
sekumpulan teman-teman mahasiswa yang sedang bercampur baur antara laki-laki
dan perempuan. Ntah apa manfaat yang di dapat, masing-masing dari lingkaran sekumpulan
manusia di tengah nuansa pendidikan kampus memiliki cita rasanya tersendiri
saat-saat berjenaka atau sekedar bertatap muka dan bercanda ria dengan
sahabat-sahabatnya.
Aktivitas
pergulatan mahasiswa ini dapat kita resapi dan saksikan ditengah istirahat
siang, setelah dari pagi usai menjalani aktivitas kuliah yang memeras tenaga
dan pikiran, santai sejenak bersama-sama sahabat menjadi sebuah keasyikan
tersendiri sambil duduk menikmati secangkir minuman hangat ataupun sebotol teh
dingin. Ngobrol ngidul membahas kelucuan dan kekesalan saat kuliah menjadi
ritual rutin bagi mahasiswa, dimanapun mahasiswa itu berada dan dimanapun kampus
itu berdiri kebersamaan seperti ini selalu saja tercipta dan ada.
Terlalu
banyak alasan, bahkan banyak hal yang menjadi landasan kenapa kita dan setiap
orang harus bersama. Memupuk persahabatan, menuangkan segala mimpi dan asa,
berbagi cerita masa lalu dan mengukur kisah masa depan yang diharap akan
gemilang bahkan bercahaya indah layaknya bintang-bintang penghias langit malam.
Bahkan setiap kebersamaan yang tercipta, banyak orang berusaha mengikatnya
kuat-kuat, jangan sampai ia lepas dan tergerai rusak tak bersisa.
Tapi,
tetap saja. Tak banyak yang benar-benar mengerti dan memahami kebersamaan yang
telah terjadi. Kebanyakan orang disekeliling kita, mungkin saja termaksud kita
sendiri tak begitu memahami dan memiliki landasan yang kuat untuk menjadi
seorang sahabat, merajut ukhwah antara satu dengan yang lainnya. Bahkan ada
kebersamaan ataupu kelompok yang terjalin atas dasar rasa empati dan kemanusian,
ada juga kebersamaan dan jalinan persahabatan yang terukir karena keimanan, bahkan
banyak pula kebersamaan atau persekutuan yang terbentuk atas dasar kepentingan
semata.
Setiap
orang punya alasannya masing-masing dan setiap orang punya caranya
sendiri-sendiri menjaga kebersamaannya. Apakah kebersamaan yang ia ikat atas
dasar empati dan simpati, ataukah kebersamaan yang terajut atas dasar
kepentingan dan nafsu semata, ataukah kebersamaan (persaudaraan) yang terjalin
atas dasar keimanan kepada Allah swt.
Namun,
tetap saja semua kebersamaan yang terjalin antara satu orang dan sekelompok
orang hanya didasarkan kepentingan sesaat, apalagi kepentingan yang buruk,
tidak akan pernah kekal. Sungguh, jangankan kebersamaan sampai akhirat,
kebersamaan di duniapun banyak yang tidak berumur panjang. Allah swt menegaskan
: “teman-teman akraab pada hari itu
sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang
bertakwa.” (Q.s Az-Zukhruf: 76).
Maka
sudah sewajarnya kita berhati-hati dalam mencari sahabat, kita harus
benar-benar tahu dasar dan maksud kebersamaan yang ingin kita jalani dengan
orang lain atau sebaliknya. Kita harus mengenal bahkan memahami karakter dan
pribadi orang-orang yang menjadi sahabat kita, yang berkumpul dan bahkan berada
dalam satu bauran dengan kita.
Khalifah
Umar Bin Khathab pernah berpesan :“hendaknya
engkau mencari sahabat yang jujur, niscaya engkau akan hidup aman dalam
lindungannya. Mereka merupakan hiasan pada saat gembira dan hiburan saat
berduka. Letakkan urusan saudaramu pada tempat terbaik, sampai dia datang
kepadamu untuk mengambil apa yang dititipkan kepadamu. Jangan engkau bersahabat
dengan orang keji, karena engkau bisa belajar kefasikan. Jangan engakau
bocorkan rahasiamu kepadanya. Dan mintalah pendapat dalam menghadapi persoalan
kepada sahabat yang takut kepada Allah”
Demikianlah
selayaknya jika kita ingin mencari sahabat dalam perjalanan kehidupan ini. Ketika
telah kita temukan sahabat yang hanya takut kepada Allah, dan iapun mampu
berkata jujur terhadap kelemahan dan kekurangan di diri kita. Maka ikat
kebersamaan itu dengan simpul keimanan. Seperti
firma Allah swt : “ sesungguhnya
orang-orang mukmim adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwahlah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” ( Q.s Al-Hujarat
: 10). Mudah-mudahan kebersamaan yang telah terpatri akan menghantarkan kita
menuju jalan yang lurus menuju jannahnya
Allah swt.
Jadi,
bagaimanakah keadaan sahabat kita hari ini? Apakah orang-orang yang berada di dekat
dan tengah-tengah kita melalaikan kita
akan ibadah atau senantiasa menggingatkan dan mendekatkan diri kita kepada
Allah dan Rasul-Nya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar