Pages

Jumat, 02 Mei 2014

TEGUH;PERBAIKI DIRI TIADA HENTI

TEGUH : PERBAIKI DIRI TIADA HENTI


By.Ardiles
“Lihatlah dari dunia ini apa yang baik untuk jiwamu, lalu ambillah. Meskipun orang disekitarmu menganggapnya jelek. Dan lihatlah dari dunia ini apa yang buruk bagi jiwamu, lalu tinggalkanlah. Kendatipun orang-orang di sekitarmu menganggapnya baik” (salamah bin dinar)


Siapa yang menyangka, di hati yang telah bersarang dendam dan kebencian yang begitu dalam akan menjadi begitu indah dan bercahaya. Laki-laki yang kala penaklukan Kota Mekkah, boleh dibunuh dimanapun ia temukan, bahkan dikain penutup Kab’ah sekalipun, bahkan laki-laki ini menjadi urutan pertama dalam daftar buronan oleh Rasul yang harus ditangkap baik dalam hidup atau mati. Bahkan laki-laki ini sempat berlari dan berlayar meninggalkan kota Mekkah, menuju Yaman. Istri yang begitu mencintainyapun tak kuasa berpisah dengannya, sampai-sampai sang istri tercinta Ummu Hakim yang telah masuk Islam memintakan maaf dan ampunan serta jaminan kepada Rasulullah atas suaminya. Kebesaran jiwa dan kemuliaan akhlak Rasulullah akhirnya memaafkan anak Abu Jahal ini, bahkan Rasulullahpun memberikan jaminan dan perlindungan atas suaminya.
Siapa yang tidak kenal, dengan laki-laki yang penuh amarah dan kebencian yang penuh kesetanan kala ingin membalas dendam atas kematian ayahnya. Namun, pada akhirnya ia mati dalam keadaan ber-islam dan syahid dengan 70 tikaman di dadanya pada perang Yarmuk.
Siapa yang mengira laki-laki yang awalnya hatinya gelap dan penuh kedengkian akan Islam, membuat kaum muslimin tercenung dan terheran dalam perang Hunia, ia berkata dengan ringan dan penuh keyakinan bahwa Allah-lah tempat berlindung dan meminta, Allah-lah yang punya kehendak atas segala yang terjadi dan Allah juahlah yang akan memberikan kemenangan pada perang ini. Demikianlah iman, jika ia telah tertanam dan menyinari hati maka tak akan ada yang mampu mengoyahkannya. Iman akan tertancap teguh tak terpatahkan, bahkan untuk seorang Ikrimah bi Abu Jahal. Walau hanya sebentar saja Ikrimah bin Abu Jahal hidup dalam ber-islam dan ber-iman hingga tewas dalam perang yarmuk, namun ke-sungguhan dan tekadnya untuk senantiasa berbenah dan berubah membuatnya memperoleh kemulian tersendiri di mata Rasulullah dan para sahabat.
Ikrimah yang pada akhirnya mengulurkan tangannya untuk bersyahadat dan bersaksi bahwa “tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”, meminta kepada Rasulullah dengan kesungguhan hati, untuk dimaafkan atas segala kesalahan yang pernah diperbuat, ia meminta didoakan, agar setiap dosa, setiap langkah dan setiap cercaan yang penah ia perbuat diampuni oleh Allah swt, Rasulullahpun mendoakannya. Subhannallah, semoga Allah memuliakan Ikrimah bin Abu Jahal r.a. amin ya Rabb.
Sebuah kisah yang menyentuh dan heroik jika kita salami sejarah panjang kehidupan sahabat yang satu ini. Namun, pada akhirnya sungguh cahaya Allah telah bernaung dihatinya. Bukan tidak mungkin kita mendapatkan kemulian serupa, layaknya ampunan dan kemulian yang didapat dan diberikan Allah kepada Ikrimah bin Abu Jahal r.a.
Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih apapun yang sebenarnya kita inginkan. Apapun itu, kita dapat memilih se-suka hati kita. Kesenangan dunia yang sementara, atau kenikmatan akhirat yang kekal. Upaya memperbaiki diri bukanlah usaha yang ringan dan mudah, ada rintangan dan tantangan yang senantiasa membentang dalam perjalanannya. Cobaan dan ujianpun akan selalu hadir menggiringi upaya memperbaiki diri mencapai ridho Allah. Bahkan godaan ini bisa hadir dari siapa saja, ntahkah itu dari sahabat, lingkungan atau keluarga sendiri. Demikian juga yang terjadi dengan Ikrimah, banyak cobaan dan godaan yang ia lalui dalam upaya ber-Islam.
Bagitu juga dengan kita hari ini, godaan dan cobaan dalam upaya memperbaiki diri acapkali menuai rintangan, apalagi dalam perguliran globalisasi dan modernisasi menjadi hal yang aneh bagi sebagian orang. Tak jarang, bahkan sahabat sendiri melemahkan keyakinan dikala kita ingin berubah dan ber-hijrah ke arah Islam yang telah Allah syariatkan dalam Al-Qur’an hingga menjadi mukmin yang taat. “dikatakan sok alim”, bahkan ketika kita mulai meninggalkan hal-hal buruk, seperti berhenti merokok, menunaikan shalat lima waktu di masjid, ikut wirid dan mulai berpenampilan yang mencerminkan Islam bai itu berpakaian yang rapid an bersih, berbaju koko/gamis, ber-peci atau berjilbab dan lain sebagainya. Hal ini malah menjadi bahan guyonan atau tertawaan. Dan tak jarang bagi keyakinannya belum matang akan merasa minder dan kembali menanggalkan jibab dan meninggalkan sholatnya.
Menyedihkan sekali, kita acapkali mudah terpengaruh oleh perkataan orang-orang terhadap kita. Bahkan, kita terbiasa menjadikan penilaian orang lain sebagai dasar atau patokan diri kita tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu baik dan benarnya. “Lihatlah dari dunia ini apa yang baik untuk jiwamu, lalu ambillah. Meskipun orang disekitarmu menganggapnya jelek. Dan lihatlah dari dunia ini apa yang buruk bagi jiwamu, lalu tinggalkanlah. Kendatipun orang-orang di sekitarmu menganggapnya baik”. Demikianlah pesan salamah bin Dinar, ketika kita menemukan kebenaran  dan kebaikan akan diri kita, maka ambil dan dekaplah di dalam hati. Jangan pernah pedulikan pendapat orang lain. Dan jika kitapun mendapati keburukan maka tinggalkan atau hindari hal itu, walau orang-orang disekitar kita menganggap itu hal yang biasa dan baik.

Hari ini, kita hidup untuk suatu yang baik dan benar. Jika kita yakin dengan apa yang menurut kita tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah maka genggam dan gigitlah kuat-kuat. Walau hari ini kita baru beberapa bulan saja berubah, bahkan baru beberapa tahun terakhir ber-Islam dengan baik dan benar, dan baru-baru juga berhijab/berjilbab, dan baru-baru juga shalat wajib selalu di masjid, dan baru-baru gemar tillawah qur’an, tahajud, dhuha dan ber-infak setiap harinya, dan baru-baru juga merubah serta merancang visi dan misi menuju Allah, Rasulullah dan jannah-Nya. Walau masih relatif singkat, se-singkat ke-Islaman Ikrimah. Mudah-mudahan Allah  meneguhkan upaya perbaikan diri kita. Mudah-mudahan Allah limpahkan kemulian dan cahaya serupa dengan sahabat yang mulia Ikrimah bin Abu Jahal, walau kita sadari upaya kita jauh berbeda dari beliau, mungkin bak langit dan bumi jaraknya. Namun, semoga Allah meridhoi kita atas segala upaya perbaikan diri kita, Amin ya Rabb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar