Peran Pemuda atau Mujaddid (Pembaharu)
Dalam
sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ
مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا”
“Sesungguhnya
Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan
memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun”.
Perhitungan
akhir seratus tahun dalam hadits ini adalah dimulai dari waktu hijrah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah. Sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam “…orang yang akan memperbaharui (urusan) agama…”
tidak menunjukkan bahwa mujaddid di setiap akhir seratus tahun
hanya satu orang, tapi mungkin saja pada waktu tertentu lebih dari satu orang,
sebagaimana yang diterangkan oleh imam Ibnu Hajar dan para ulama lainnya.
Makanya
dalam setiap kematian pemimpin atau ulama, Allah telah mencabut nikmat dan
hidayah kepada kita.
Sebagaimana terdapat pula sabda
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari
jalur Abdullah bin Amru. “Bahwa
sesungguhnya Allah tidak akan menarik ilmu agama dengan mencabutnya dari
manusia, akan tetapi dengan mengambil (mewafatkan) para ulama.” Di sini
termuat penjelasan, bahwa Allah tidak akan pernah mengambil ilmu dari dada
manusia setelah mereka dianugerahi ilmu oleh-Nya.
Dan ketika
hal ini terjadi, maka di sanalah pemuda islam yang akan bangkit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar