SANG PROTOKOLER
“Siapa
yang menyangka, kini aku berdiri dengan tegapnya di pelataran kampus, yang kini
dengan bangga ku kenakan jaket kuning berwarna lembut. Menyelimuti tubuhku yang
gempal dan padat. Atau lebih tepatnya disebut gendut. Tidak…tidak… inilah
anugrah terbesar yang telah Rabb-ku limpahkan atas diriku”. Yah, mungkin
kata-kata itu kini memenuhi hati dan pikiran Rahman.
M
Hidayatul Rahman, nama yang telah di sematkan kedua orangtuanya. Sekilas kala
kita melihatnya mungkin akan timbul banyak asumsi dan penilaan. Namun sungguh
perawakannya yang terkesan tegas dan tangguh, terselimut sikap yang lemah
lembut. Menarik sekali sejak mengenal beliau, demikian banyak kesan mendalam
yang lekat dalam ingatan. Benar sekali! untuk Benar-benar mengenal seseorang
kita harus melakukan 3 hal, bepergian bersama, makan bersama dan bermalam. Tiga
waktu dan tiga kegiatan tersebut membuahkan ukhwah dan kedekatan luar biasa.Tak
terasa, seiring waktu berjalan dan berlalu beliau begitu menggagumkan. Terlepas
dari kelamahan dan kelebihan yang dimiliki, beliau kadang begitu menginspirasi.
Secara umur kami tak begitu terpaut jauh, hanya beberapa tahun saja. Walau
beliau lebih muda. Namun, sejauh ini pemikiran dan pemahaman kami tak jauh
berbeda. Kadangkala beliau acapkali menyentuh dengan segala pernyataan dan
sikapnya.
Melirik
kehidupan sosok yang satu ini, mampu memberikan banyak pemahaman dan renungan.
Adik sekaligus menjadi teman yang demikian akrab selama menjalankan amanah di
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNP memberikan inspirasi yang luar biasa.
Protokoler,
itulah amanah yang disandang Rahman selama menjalankan tanggungjawab di BEM UNP
periode 2013/2014. Sosok yang menjadi kaki tangan Presiden Mahasiswa, dan
memiliki sepak terjang yang besar dalam satu tahun kepenggurusan. Sebagai salah
orang kepercayaan presiden mahasiswa, yakni Bapak Adnan Arafani. Rahman
memiliki tugas sebagai pembantu, pengaman dan pelaksana hal-hal yang sifatnya
instruksi dari presma, termaksud untuk mengatur jadwal dan sekedul agenda presam
adalah tugas dari protokoler, sibuk sekali.
Siapa
yang menyangka, sosok yang berbadan besar ini begitu ceketan dan aktif. Kontras
sekali dengan fisik yang ia miliki.
Sekilas orang ataupun berkenalan dengan beliau. Mungkin saja akan beranggapan
orangnya pemalas, suka makan, banyak tidur dan lain sebagainya yang bersifat
negatif. Hal ini berbandig terbalik dengan kenyataannya, walau berbadan besar
dan bisa digolongan dalam katagori “gendut” beliau tetap bekerja dengan sigap
dan ceketan. Banyak tugas yang diberikan kepada beliau dalam agenda-agenda
besar selama di BEM dan semua dijalankan dengan baik.
Sungguh,
sama sekali tidak menyangka awalnya.
Diakhir
masa jabatan, dan diakhir tahun 2014 ini beliau akan menyelesaikan pendidikan,
sebagai mahasiswa D3 beliau cukup gemilang dalam menjalani perkuliahan tiga
tahun terakhir, yang in shaa Allah akan wisuda pada September 2014 nanti.
Sebagai seorang kakak aku cukup iri melihat sepak terjangnya di dunia kampus
dan organisasi luar kampus. Demikian banyak kesibukan dan keikutsertaan beliau
diaktivitas pergerakan mahasiswa membuatnya sama tidak lupa dengan
tanggungjawabnya sebagai seorang anak. Siapa yang menyangka, dengan kesibukan
yang beliau jalani beliau tidak lupa tetap punya waktu khusus membantu kedua
orangtuanya. Baik malam menjelang tidur, hingga shubuh menjelang pagi kala
matahari timbul dan muncul.
Sungguh,
sama sekalu tidak menyangka awalnya.
Sosok
nan lembut kepada kedua orangtuanya. Cukup bagi memahami bagaimana ia bersikap
dan berbicara kepada oranglain, salah satunya denganku. Aku tahu bagaimana ia
bertutur kata, kurang lebih 2 tahun mengenal beliau tak pernah beliau berbicara
dengan keras atau berteriak. Aku yakin demikian juga ia bersikap kepada ibu dan
ayahnya. Sungguh tak pernah ia lalai akan tanggungjawabnya di rumah. jika
memang sudah waktu dan janjinya harus dipenuhi seketika ia akan pulang sejenak
memenuhi panggilan ibundanya.
Bagaimana
mungkin, masa yang singkat dan terasa demikian cepatnya Rahman bisa membuat
banyak demikian mengenalnya. Keaktivan beliau diberbagai organisasi yang tak
perlu dituliskan dalam uraian singkat tentang beliau, cukup kita pahami
bagaimana beliau dikenal dikalangan aktivis di kampus. Sosok dengan perawakan
yang unik, membuat orang-orang tak mudah melupakannya, bahkan ini menjadi nilai
plus dalam pergaulan di kampus. Sungguh sosok yang mampu mengubah kekurangan
menjadi suatu kelebihan yang teramat berarti.
Kemanapun
pergi bersama beliau, hampir di semua fakultas yang ada, disetiap penjuru
ruang-ruang Tata Usaha yang ada di UNP, BAAK, dan setiap clearning Service
beliau selalu menyapa mereka dengan senyum bulat dan merakahnya. Hampir
sebagian besar dari orang-orang birokrat mengenal beliau.
Yah…
mungkin inilah menjadi alasan kuat kenapa beliau dipercaya sebagia protokoler
sang presiden mahasiswa. Sayang sekali, jika orang-orang menganggap ini posisi
biasa dan remeh. Dan ku pastikan itu salah besar. Jika dalam stuktur saja
posisinya lebih tinggi daripada menteri, yakni di atas posisiku. Maka kita
dapat memahami bagaimana beratnya kerja dan sepak terjang sang protokoler.
Secara
kordinasi dan pertanggungjawaban, protokoler hanya mengikuti instruksi dan
perintah presiden. Namun, tidak dengan beliau. Beliau orang yang selalu saja
mau ikut campur dengan urusan orang lain, yakni kementerian lainnya. Mau-mau
saja terlibat dalam setiap agenda, dan mau-mau saja dapat amanah dan
tanggungjawan yang tidak mengenakan dan selalu dihindari yang lainnya. Dan
beliau mau-mau saja membantu orang lain.
Ntahlah,
cukup aneh bagiku. Menyikapi sisi hidup sang protokoler. Setidaknya dari
namannya, M. Hidayatul Rahman cukup mengambarkan bagaiman kepribadian beliau.
Dari uraian makna nama beliau kita akan mengenal beliau, itu saja sudah cukup.
Kawan, nama adalah doa, demikian juga doa yang tersemat di diri sang
Protokoler.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar