Pages

Jumat, 12 Desember 2014

PATRIOTIK : KEWAJIBAN DAN PETUNJUK



Patriotik (Pelapor) : Kewajiban dan Petunjuk

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan) QS. Al-Baqarah : 272).”
Sang Patriotik atau sang pelapor atau sang pencerah atau kalau boleh dikatakan sebagai penyeruh dan penebar kebaikan. Sebagai perpanjang tangan Allah dalam menyampaikan kebenaran, hidayah, hikmah dan  bahkan memberikan petunjuk.
Sebagaimana Nabi pernah bersabda kepada Imam Ali bin Abi Thalib “Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui  dirimu, lebih baik bagimu daripada unta merah (unta termahal)” Riwayat dalam Muttafad ‘alaih, dalam Abdulallah bin Ibrahim bin ‘Utsman al-Qar’awi.
Demi Allah, ketika kita menjadi penyeruh atau sang pelapor kepada umat manusia dan ketika kita mendapati seseorang atau sekelompok orang mendapati hidayah, bahkan petunjuk untuk menjadi jauh lebih baik, menjadi hakikatnya manusia yang menuai jalan Rabb-Nya, sang penciptan-Nya melalui apa yang kita sampaikan. Sungguh semua kebaikan itu dan sungguh hidayah yang menyinari hati itu hanya Allah yang memiliki kuasa, semuanya datang dari dan atas kehendak Allah. Maka ketika Allah memberikan petunjuk melalui diri kita, maka sungguh kita telah mendapatkan sebuah kemulian, Allah melimpahkan rezeki atau bahkan layaknya unta yang bagus dan maha harganya.
Disinilah kita beranjak dan mulai merenungi bahwa untuk menjadi pelapor atau patriotik bukan proses sekali jadi. Kita perlu waktu, wawasan dan perjuangan. Jika boleh dikatakan, maka ilmu dan wawasan yang luaslah yang mampu mengerakan hati, yang mampu menerangi jalan, dan yang mampu menjawab semua persoalan. Dan Sama halnya dengan riwayat dakwah sepanjang zaman, jalannya penuh onak dan duri, bahkan berliku dan terjal. Dan tak akan pernah berakhir sampai Allah telah memerintahkan malaikat Israil meniupkan terompet sebagai pertanda kiamat telah datang. Sang pelapor harus mampu memberikan petunjuk dengan pemahaman yang benar dan jujur. Ia berdakwah dengan nurani dan nalarnya, ia tak pernah berhenti belajar dan senangtiasa terus belajar dan mengali wawasan keislam guna mengukuhkan tekad dan visi dakwahnya. Dan ia selalu istiqomah dan berserah diri kepada Rabb-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar