Patriotik
(Pelapor) : Kewajiban dan Petunjuk
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan
mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi
taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan
janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah.
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi
pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)
QS. Al-Baqarah : 272).”
Sang
Patriotik atau sang pelapor atau sang pencerah atau kalau boleh dikatakan
sebagai penyeruh dan penebar kebaikan. Sebagai perpanjang tangan Allah dalam
menyampaikan kebenaran, hidayah, hikmah dan
bahkan memberikan petunjuk.
Sebagaimana
Nabi pernah bersabda kepada Imam Ali bin Abi Thalib “Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, lebih baik bagimu daripada unta merah
(unta termahal)” Riwayat dalam Muttafad ‘alaih, dalam Abdulallah bin Ibrahim
bin ‘Utsman al-Qar’awi.
Demi
Allah, ketika kita menjadi penyeruh atau sang pelapor kepada umat manusia dan
ketika kita mendapati seseorang atau sekelompok orang mendapati hidayah, bahkan
petunjuk untuk menjadi jauh lebih baik, menjadi hakikatnya manusia yang menuai
jalan Rabb-Nya, sang penciptan-Nya melalui apa yang kita sampaikan. Sungguh
semua kebaikan itu dan sungguh hidayah yang menyinari hati itu hanya Allah yang
memiliki kuasa, semuanya datang dari dan atas kehendak Allah. Maka ketika Allah
memberikan petunjuk melalui diri kita, maka sungguh kita telah mendapatkan
sebuah kemulian, Allah melimpahkan rezeki atau bahkan layaknya unta yang bagus
dan maha harganya.
Disinilah kita
beranjak dan mulai merenungi bahwa untuk menjadi pelapor atau patriotik bukan
proses sekali jadi. Kita perlu waktu, wawasan dan perjuangan. Jika boleh
dikatakan, maka ilmu dan wawasan yang luaslah yang mampu mengerakan hati, yang
mampu menerangi jalan, dan yang mampu menjawab semua persoalan. Dan Sama halnya
dengan riwayat dakwah sepanjang zaman, jalannya penuh onak dan duri, bahkan
berliku dan terjal. Dan tak akan pernah berakhir sampai Allah telah memerintahkan
malaikat Israil meniupkan terompet sebagai pertanda kiamat telah datang. Sang
pelapor harus mampu memberikan petunjuk dengan pemahaman yang benar dan jujur.
Ia berdakwah dengan nurani dan nalarnya, ia tak pernah berhenti belajar dan
senangtiasa terus belajar dan mengali wawasan keislam guna mengukuhkan tekad
dan visi dakwahnya. Dan ia selalu istiqomah dan berserah diri kepada Rabb-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar