SAKSI HUJAN
Hujan
pun turun, dan akan berlalu seiring matahari terbit di sela-sela awan. Hujan
turun dengan penuh keberkahan yang akan menguatkan
keimanan. Selalu demikian adanya, tak terbantahkan bahkan dalam sejarah panjang
yang mahsyur, hujan selalu hadir menjadi saksi kisah-kisah yang mengharu-biru.
Hujan turun atas rasa cinta, hujan turun untuk menguatkan hati yang gersang,
hati yang keluh akan rasa letih yang tak tertahankan dalam perjalanan panjang
penuh pengorbanan.
Perlahan-lahan bulir-bulir kristal dari langit sang
pencipta jatuh tetes demi tetesnya, jatuh membasahi sebagian tubuh. Perlahanpun
langkah terus saja diayunkan, bergerak tanpa ada keraguan sedikitpun.
Hujan selalu menjadi tanda, selalu menjadikan hati
serasa kuat. Sekali lagi tak terbantahkan, bahkan dalam sejarah perjuangan
islam telah tertulis, dan saksikanlah bagaimana hujan menjadi saksi.
Hujan,
selalu saja meneguhkan hati-hati yang penuh ke-ikhlasan dan berserah diri
kepada rabb dan Rasul-Nya .
Saksikanlah wahai aktivis dakwah, bagaimana hujan
selalu menjadi saksi kekuatan yang tak terbantahkan, sekali lagi “tak
terbantahkan”
Saksikanlah bagaimana hujan yang hadir membasahi para
mujahid di Perang Badar, dan bagaimana hujan meneguhkan hati-hati kaum muslimin
pada Perang Parit.
Pertempuran, di antara dua perang bersejarah yang
penuh kisah heroik. Lihatlah bagaimana hujan manjadi saksi sejarah Islam sepanjang
masa.
Hari-hari dimana pertempuran pertama umat muslim yang
tak terhindarkan. Tak terperihkan rasanya, dan tak terbayangkan rasanya
pertempuran dikala itu. Bagaimana Rasulullah berdoa kepada Allah swt
disela-sela berlangsungnya perang seraya memohon, “ya Allah menangkanlah kami pada perperangan ini. Sungguh jika kami
kalah, maka susudah ini tidak akan ada yang menyembah engkau lagi di Muka Bumi
ini”. Bagaimana begitu sengitnya pertempuran kala itu.
Perperangan yang sama sekali tak terduga, perperangan
yang menimbulkan rasa takut dan kecil hati dikalangan umat muslim pada awalnya.
Namun, takala itu kaum muslimin telah mantap dengan penuh keteguhan menempuh
perjalanan menuju Badr’. Dan di sela-sela perjalananlah Allah swt turunkan
hujan sebagai penyejuk hati, hujan yang membasahi jiwa adalah tanda keberkahan
bagi kaum muslimin. Hujan yang Allah turunkan serasa menjadi air pembersih
noda-noda di dalam hati, menguatkan pasir yang mudah tergerai bila dipijak dan
langkah pun menjadi mantap oleh hujan yang turun karena ia membasahi pasir yang
gersang.
Begitu juga hadirnya hujan dan badai takala Perang
Parit di Madinah, strategi perang yang di usulkan oleh sahabat mulia dari tanah
Persia, Salman Al Farisi. Suasana perang takala itu demikian mencekam. Bagaiman
tidak, kaum muslimin di kala itu harus dihadapkan pada pertempuran yang tidak
hanya menyerang dan melemahkan fisik. Namun, yang menjadi tantangan terbesar
dikala itu, yakni serangan fsikis yang dilancarkan Kaum Quraisy. Serangan yang
langsung menyerang mental kaum muslimin.
Dan takala hati umat muslimin merasa kecil dan putus
asa, Allah turunkan hujan sebagai tanda, Allah jadikan hujan sebagai saksi yang
melapangkan jiwa. Dan Allah turunkan hujan sebagai keberkahan yang menghadirkan
keimanan dan keyakinan kuat menghujam ke dalam dada.
Dan hujanpun menjadi saksi, bagaimana kaum yang
memusuhi kaum muslimin menjadi lemah tak berdaya. Hati-hati mereka menjadi ragu
dan berputus asa. Bagaimana tidak, hujan bagi mereka sebuah ketidakmujuran,
sebuah penghambat yang membuat langkah mereka menjadi berat. Hujan membuat
fisik dan mental mereka menjadi lemah. Bagaimana tidak, hadirnya hujan sebuah
petaka dan ketidakberuntungan bagi mereka.
Hujan, selalu menjadi saksi bagaimana setiap hati
mampu mensyukurinya. Dan hujan akan selalu turun menentramkan jiwa. Karena ia
turun atas kehendak Yang Maha Kuasa, sebagai tanda atas cinta pada hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar