Pages

Minggu, 14 Desember 2014

SAKSI HUJAN



SAKSI HUJAN

Hujan pun turun, dan akan berlalu seiring matahari terbit di sela-sela awan. Hujan turun dengan penuh keberkahan yang akan menguatkan keimanan. Selalu demikian adanya, tak terbantahkan bahkan dalam sejarah panjang yang mahsyur, hujan selalu hadir menjadi saksi kisah-kisah yang mengharu-biru. Hujan turun atas rasa cinta, hujan turun untuk menguatkan hati yang gersang, hati yang keluh akan rasa letih yang tak tertahankan dalam perjalanan panjang penuh pengorbanan.
Perlahan-lahan bulir-bulir kristal dari langit sang pencipta jatuh tetes demi tetesnya, jatuh membasahi sebagian tubuh. Perlahanpun langkah terus saja diayunkan, bergerak tanpa ada keraguan sedikitpun.
Hujan selalu menjadi tanda, selalu menjadikan hati serasa kuat. Sekali lagi tak terbantahkan, bahkan dalam sejarah perjuangan islam telah tertulis, dan saksikanlah bagaimana hujan menjadi saksi.
Hujan, selalu saja meneguhkan hati-hati yang penuh ke-ikhlasan dan berserah diri kepada rabb dan Rasul-Nya .
Saksikanlah wahai aktivis dakwah, bagaimana hujan selalu menjadi saksi kekuatan yang tak terbantahkan, sekali lagi “tak terbantahkan”
Saksikanlah bagaimana hujan yang hadir membasahi para mujahid di Perang Badar, dan bagaimana hujan meneguhkan hati-hati kaum muslimin pada Perang Parit.
Pertempuran, di antara dua perang bersejarah yang penuh kisah heroik. Lihatlah bagaimana hujan manjadi saksi sejarah Islam sepanjang masa.
Hari-hari dimana pertempuran pertama umat muslim yang tak terhindarkan. Tak terperihkan rasanya, dan tak terbayangkan rasanya pertempuran dikala itu. Bagaimana Rasulullah berdoa kepada Allah swt disela-sela berlangsungnya perang seraya memohon, “ya Allah menangkanlah kami pada perperangan ini. Sungguh jika kami kalah, maka susudah ini tidak akan ada yang menyembah engkau lagi di Muka Bumi ini”. Bagaimana begitu sengitnya pertempuran kala itu.
Perperangan yang sama sekali tak terduga, perperangan yang menimbulkan rasa takut dan kecil hati dikalangan umat muslim pada awalnya. Namun, takala itu kaum muslimin telah mantap dengan penuh keteguhan menempuh perjalanan menuju Badr’. Dan di sela-sela perjalananlah Allah swt turunkan hujan sebagai penyejuk hati, hujan yang membasahi jiwa adalah tanda keberkahan bagi kaum muslimin. Hujan yang Allah turunkan serasa menjadi air pembersih noda-noda di dalam hati, menguatkan pasir yang mudah tergerai bila dipijak dan langkah pun menjadi mantap oleh hujan yang turun karena ia membasahi pasir yang gersang.
Begitu juga hadirnya hujan dan badai takala Perang Parit di Madinah, strategi perang yang di usulkan oleh sahabat mulia dari tanah Persia, Salman Al Farisi. Suasana perang takala itu demikian mencekam. Bagaiman tidak, kaum muslimin di kala itu harus dihadapkan pada pertempuran yang tidak hanya menyerang dan melemahkan fisik. Namun, yang menjadi tantangan terbesar dikala itu, yakni serangan fsikis yang dilancarkan Kaum Quraisy. Serangan yang langsung menyerang mental kaum muslimin.
Dan takala hati umat muslimin merasa kecil dan putus asa, Allah turunkan hujan sebagai tanda, Allah jadikan hujan sebagai saksi yang melapangkan jiwa. Dan Allah turunkan hujan sebagai keberkahan yang menghadirkan keimanan dan keyakinan kuat menghujam ke dalam dada.
Dan hujanpun menjadi saksi, bagaimana kaum yang memusuhi kaum muslimin menjadi lemah tak berdaya. Hati-hati mereka menjadi ragu dan berputus asa. Bagaimana tidak, hujan bagi mereka sebuah ketidakmujuran, sebuah penghambat yang membuat langkah mereka menjadi berat. Hujan membuat fisik dan mental mereka menjadi lemah. Bagaimana tidak, hadirnya hujan sebuah petaka dan ketidakberuntungan bagi mereka.
Hujan, selalu menjadi saksi bagaimana setiap hati mampu mensyukurinya. Dan hujan akan selalu turun menentramkan jiwa. Karena ia turun atas kehendak Yang Maha Kuasa, sebagai tanda atas cinta pada hamba-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar