Pages

Rabu, 20 November 2013

Ibu Pertiwi

Engkau Tahu Ibu pertiwi!

Kini dinegeri kita banyak pemuda dan pemudi yang mulai melupakanmu.
mereka dan bahkan aku lupa bagaimana dekapan dan pangkuanmu dikala nanar dan penuh perjuangan itu.
Engkau Tahu Ibu Pertiwi!
kini dinegeriku tak banyak figur dan manusia yang benar-benar menghargai dan mencintaimu layaknya mereka yang kini gugur berbaring dipersadamu.
Engkau Tahu Ibu Pertiwi!
Kini banyak mata yang mulai menundukan pandangannya.
Banyak mata yang tak peduli dengan persoalan bangsanya.
Engkau tahu Ibu pertiwi.
Engkau yang menjadi nafas bagi bangsa dinegeri ini, kini mulai digadaikan
Digadaikan demi kepentingan perut dan membuat rakyat bangsa ini mulai menjerit kelaparan.
Engkau tahu ibu pertiwi
Dulu, tepatnya beberapa tahun yang lalu. Banyak tangan yang angkat senjata
Banyak tangan yang mulai merantai dan menggalang satu kesatuan. Mereka dengan semangat keikhlasan demi kehidupan yang lebih baik bagi bangsanya berjuang tanpa peduli siapa saja yang nanti akan bernafas bebas dinegeri ini.
Engkau tahu Ibu pertiwi.
Dulu, tepatnya ketika para pilar-pilar penyongsong bangunan bangsa ini tegak dan mengobarkan semangat perjuang. Tak ada janji bahkan tak tawar menawar atas beban dan tanggungjawab yang mereka emban. Bahkan, mereka menyumbangkan segenap harta, pemikiran dan bahkan waktu yang seharusnya untuk anak-anak, istri dan keluarga, mereka gadaikan demi bangsa ini.
Engkau tahu Ibu pertiwi.
Hari, terus saja berjalan. Bahkan setiap detiknya selalu saja sendi-sendi bahkan sari-sari kesejahteraan yang tertanam dalam batang tubuhmu. Mulai disedot perlahan-lahan mulai digerogoti secara bersama-sama, dan mulai dikeruk sehabis-habisnya. Bahkan darah para pejuang dan pencinta bangsa ini yang turut basah dan mengenangimu mulai diseraf sehabis-habisnya hingga hilang dan lumpuhlah keberadaan romantisme perjuangan mereka.
Engkau tahu bundaku.
Aku bangga menjadi bagian dari anak-anak pejuang bangsa ini, aku bangga mendongakkan kepala dengan berdiri tegap sembari memberikan hromat kepada tiang bendera yang mengibarkan sang Merah Putih, lambang darah dan kesucian perjuangan negeri ini.
Bundaku, dikala aku duduk dan menantap gambar-gambar pahlawanku. Saat satu persatu mulai ku sapa tak ada yang bergeming bahkan balik menyapaku. Semakin dekat aku berjalan menghampiri gambar-gambar lukisan mereka yang terpajang diruang kelasku dikala baju merah putih lusuh masih melekat kuat di badanku. Aku sentuh lembut dan perlahan mereka, namun mereka hanya tersenyum hambar menatap kearahku. Sama sekali tak bergeming bunda.
Bunda
Jawablah pertanyaanku!
Apakah mereka marah kepadaku? Apakah mereka akan kecewa kepadaku  dan sahabat-sahabatku jika kami melupakan semangat dan perjuangan meraka?
Bunda…
Dimanakan jasad-jasad mereka engkau simpan, bolehkah aku  dan sahabat-sahabatku mengadu kepada mereka tentang apa yang telah terjadi dinegeri kita, bunda?
Bunda, ingin sekali ku katakan kepada mereka yang telah tidur dalam pangkuan keabadiamu. Ingin sekali ku teriakan ditanah merah pembaringan mereka satu persatu. Ingin ku gemparkan hantaman gelombang ombak pantai ketika mendengarnya Bunda.
Bunda, sampaikanlah. Di negeri ini. Jauh dan panjang disetiap selongsong penjuru jalan negeri ini. Disetiap sudut-sudut, ruangan kelas, gedung dan kamar. Bahkan disisi-sisi pelataran jalan, pertamanan dan kedai-kedai reok ataupun berkelas. Ada setiap pasang mata pemuda yang terus beikrar di dalam hati dan sumpahnya. Mereka masih menggigit erat romantisme perjuangan yang terdahulu. Mereka masih sibuk berdiskusi sembari memegang pena-pena dan sesekali menggigitnya di giginya. Mereka masih teguh membaca sejarah pergerakan yang telah gugur.
Ibunda pertiwi…
Sampaikanlah, tak semua pemuda dinegeri ini tertidur bahkan ternyamani dengan kehidupan bangsa hari ini. bahkan masih ada satu, dua bahkan tiga, atau puluhan, bahkan ribuan dan mungkin saja jutaan anak bangsa ini yang tersebar dari hamparan tanah dan lautan sabang hingga marauke, bahkan dari timur ke barat ataupun dari utara hingga ke selatan atau mungkin saja dari kutub hingga kutub lainnya ada sepasang mata yang terus berjuang dengan pena untukmu wahai negeriku, ada sosok-sosok pahlawan baru yang terus berpikir bahkan meratap sedih dalam kekacauan dan kegalauan negeri ini.
Ibunda pertiwi..
Sampaikanlah, tak semua pemuda dinegeri ini hanyut dalam kegelamoran bahkan khidmat dalam peringat-peringatan sejarah. Tak semuanya berucap dan berteriak pada masa-masa ini. Masih ada satu kobaran api yang hidup menerangi negeri ini. Bahkan mereka menjadi lilin-lilin kecil di tengah-tengah pergerakan mereka. Perlahan dan perlahan lilin itu akan semakin habis, dan tiba pada masanya mereka akan berganti menjadi lilin yang jauh lebih besar dengan koboran api semangat yang jauh lebih besar, hingga mereka menjadi obor dinegeri ini. Satu-satu dari mereka akan bersatu membentuk kobaran api yang jauh lebih besar. Bahkan nanti akan Bunda temui mereka berjalan bak kunang-kunang terbang dan mulai berkumpul menyilap dan menyinari negeri ini dengan cahayanya.
Ibunda pertiwi..
Ini bukanlah janji, dan ini bukanlah sumpah. Sungguh ini bukan peringatan tapi ini adalah tangis dan aduan sang pelita kecil kepada ayah-ayah dan ibu-ibu pemilik dan pendiri bangsa ini.
Ini adalah ratapan, ini adalah bahasa hati yang dalam Bunda.
Bunda…
Sampaikanlah…
Bahwa kami mencintai mereka yang telah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk kebebasan diri ini untuk bernafas. Kami mencintai setiap senyum yang mereka tebarkan dari janji yang mereka utarakan. Kami mencintai setiap sumpah yang mereka ikrarkan.
Dan kamipun mencintaimu Ibu pertiwi...
sungguh mencintaimu.

Padang, 28 oktober 2013
Senin. 7:03 am


Tidak ada komentar:

Posting Komentar