Ibu Pertiwi
Engkau Tahu Ibu pertiwi!
Kini dinegeri kita banyak pemuda dan pemudi yang
mulai melupakanmu.
mereka dan bahkan aku lupa bagaimana dekapan dan
pangkuanmu dikala nanar dan penuh perjuangan itu.
Engkau Tahu Ibu Pertiwi!
kini dinegeriku tak banyak figur dan manusia yang
benar-benar menghargai dan mencintaimu layaknya mereka yang kini gugur
berbaring dipersadamu.
Engkau Tahu Ibu Pertiwi!
Kini banyak mata yang mulai menundukan pandangannya.
Banyak mata yang tak peduli dengan persoalan
bangsanya.
Engkau tahu Ibu pertiwi.
Engkau yang menjadi nafas bagi bangsa dinegeri ini,
kini mulai digadaikan
Digadaikan demi kepentingan perut dan membuat rakyat
bangsa ini mulai menjerit kelaparan.
Engkau tahu ibu pertiwi
Dulu, tepatnya beberapa tahun yang lalu. Banyak
tangan yang angkat senjata
Banyak tangan yang mulai merantai dan menggalang
satu kesatuan. Mereka dengan semangat keikhlasan demi kehidupan yang lebih baik
bagi bangsanya berjuang tanpa peduli siapa saja yang nanti akan bernafas bebas
dinegeri ini.
Engkau tahu Ibu pertiwi.
Dulu, tepatnya ketika para pilar-pilar penyongsong
bangunan bangsa ini tegak dan mengobarkan semangat perjuang. Tak ada janji
bahkan tak tawar menawar atas beban dan tanggungjawab yang mereka emban.
Bahkan, mereka menyumbangkan segenap harta, pemikiran dan bahkan waktu yang
seharusnya untuk anak-anak, istri dan keluarga, mereka gadaikan demi bangsa
ini.
Engkau tahu Ibu pertiwi.
Hari, terus saja berjalan. Bahkan setiap detiknya
selalu saja sendi-sendi bahkan sari-sari kesejahteraan yang tertanam dalam
batang tubuhmu. Mulai disedot perlahan-lahan mulai digerogoti secara
bersama-sama, dan mulai dikeruk sehabis-habisnya. Bahkan darah para pejuang dan
pencinta bangsa ini yang turut basah dan mengenangimu mulai diseraf
sehabis-habisnya hingga hilang dan lumpuhlah keberadaan romantisme perjuangan
mereka.
Engkau tahu bundaku.
Aku bangga menjadi bagian dari anak-anak pejuang
bangsa ini, aku bangga mendongakkan kepala dengan berdiri tegap sembari
memberikan hromat kepada tiang bendera yang mengibarkan sang Merah Putih,
lambang darah dan kesucian perjuangan negeri ini.
Bundaku, dikala aku duduk dan menantap gambar-gambar
pahlawanku. Saat satu persatu mulai ku sapa tak ada yang bergeming bahkan balik
menyapaku. Semakin dekat aku berjalan menghampiri gambar-gambar lukisan mereka
yang terpajang diruang kelasku dikala baju merah putih lusuh masih melekat kuat
di badanku. Aku sentuh lembut dan perlahan mereka, namun mereka hanya tersenyum
hambar menatap kearahku. Sama sekali tak bergeming bunda.
Bunda
Jawablah pertanyaanku!
Apakah mereka marah kepadaku? Apakah mereka akan
kecewa kepadaku dan sahabat-sahabatku
jika kami melupakan semangat dan perjuangan meraka?
Bunda…
Dimanakan jasad-jasad mereka engkau simpan, bolehkah
aku dan sahabat-sahabatku mengadu kepada
mereka tentang apa yang telah terjadi dinegeri kita, bunda?
Bunda, ingin sekali ku katakan kepada mereka yang
telah tidur dalam pangkuan keabadiamu. Ingin sekali ku teriakan ditanah merah
pembaringan mereka satu persatu. Ingin ku gemparkan hantaman gelombang ombak
pantai ketika mendengarnya Bunda.
Bunda, sampaikanlah. Di negeri ini. Jauh dan panjang
disetiap selongsong penjuru jalan negeri ini. Disetiap sudut-sudut, ruangan
kelas, gedung dan kamar. Bahkan disisi-sisi pelataran jalan, pertamanan dan
kedai-kedai reok ataupun berkelas. Ada setiap pasang mata pemuda yang terus
beikrar di dalam hati dan sumpahnya. Mereka masih menggigit erat romantisme
perjuangan yang terdahulu. Mereka masih sibuk berdiskusi sembari memegang
pena-pena dan sesekali menggigitnya di giginya. Mereka masih teguh membaca
sejarah pergerakan yang telah gugur.
Ibunda pertiwi…
Sampaikanlah, tak semua pemuda dinegeri ini tertidur
bahkan ternyamani dengan kehidupan bangsa hari ini. bahkan masih ada satu, dua
bahkan tiga, atau puluhan, bahkan ribuan dan mungkin saja jutaan anak bangsa
ini yang tersebar dari hamparan tanah dan lautan sabang hingga marauke, bahkan
dari timur ke barat ataupun dari utara hingga ke selatan atau mungkin saja dari
kutub hingga kutub lainnya ada sepasang mata yang terus berjuang dengan pena
untukmu wahai negeriku, ada sosok-sosok pahlawan baru yang terus berpikir
bahkan meratap sedih dalam kekacauan dan kegalauan negeri ini.
Ibunda pertiwi..
Sampaikanlah, tak semua pemuda dinegeri ini hanyut
dalam kegelamoran bahkan khidmat dalam peringat-peringatan sejarah. Tak
semuanya berucap dan berteriak pada masa-masa ini. Masih ada satu kobaran api
yang hidup menerangi negeri ini. Bahkan mereka menjadi lilin-lilin kecil di
tengah-tengah pergerakan mereka. Perlahan dan perlahan lilin itu akan semakin
habis, dan tiba pada masanya mereka akan berganti menjadi lilin yang jauh lebih
besar dengan koboran api semangat yang jauh lebih besar, hingga mereka menjadi
obor dinegeri ini. Satu-satu dari mereka akan bersatu membentuk kobaran api
yang jauh lebih besar. Bahkan nanti akan Bunda temui mereka berjalan bak
kunang-kunang terbang dan mulai berkumpul menyilap dan menyinari negeri ini
dengan cahayanya.
Ibunda pertiwi..
Ini bukanlah janji, dan ini bukanlah sumpah. Sungguh
ini bukan peringatan tapi ini adalah tangis dan aduan sang pelita kecil kepada
ayah-ayah dan ibu-ibu pemilik dan pendiri bangsa ini.
Ini adalah ratapan, ini adalah bahasa hati yang
dalam Bunda.
Bunda…
Sampaikanlah…
Bahwa kami mencintai mereka yang telah berjuang
dengan sungguh-sungguh untuk kebebasan diri ini untuk bernafas. Kami mencintai
setiap senyum yang mereka tebarkan dari janji yang mereka utarakan. Kami
mencintai setiap sumpah yang mereka ikrarkan.
Dan kamipun mencintaimu Ibu pertiwi...
sungguh mencintaimu.
Padang, 28 oktober 2013
Senin. 7:03 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar