Ibuku (Amah)
By: Ardiles
Mah, sungguh hari ini
aku mengerti akan sebuah kasih sayang orantua.
Hari ini aku mengerti
engkau menyimpan kerinduan dan tangis yang amat dalam ketika berpisah dengan
bauh hati engkau.
Mah, sungguh hari ini
aku melihat deru dan tangis seorang ibu karna kepergian anaknya.
Mah, sungguh hari ini
aku melihat kebohongan seorang ibu yang bersikap tegar dan kuat di depan
anaknya. Namun ketika anaknya telah berjalan dan memalingkan tubuh dan wajahnya
saat itu seorang ibu akan berbalik dan kemudian menangis sejadi-jadinya.
Mah, sungguh hari ini
aku melihat ketakutan ibu yang berpisah jauh dari anak yang ia kandung dan sepu
bertahun, ketakutan ibu akan anaknya yang tak akan pernah kembali dan pernah
melihatnya lagi ketika ia pulang.
Mah, sungguh sebesar
itu pulalah ketakutan di hati engkau jika kami berpisah dengan engkau.
Mah, sungguh hati
seorang ibu siapa yang tahu selain ibu itu sendiri. Hati dan naluri seorang
anak tak akan pernah dapat menebak sekuat dan setegar apa ibunya dalam
kerinduaan yang ia terpa akan anaknya.
Mah, sungguh aku banyak
belajar, sungguh akupun menguraikan air mata melihat perpisahan dan mengalami
perpisahan.
Sungguh perpisahan di
dunia mengisahkan tangis, mengukir kesedihan yang dalam dalam, mengandung
kerinduan yang teramat besar dan perpisahan menghantui dan membuat diri berada
di dalam ketakutan tak akan pernah
bertemu kembali.
Tak akan pernah
berjumpa, waktu yang singkat dan kematian menjadi ketakutan yang akan menjadi
jurang pemisah kehidupan dan pertemuan untuk selama-lamanya.
Ketakutan akan batu
nisan dan seonggok tanah yang akan dapat menjadi bagian retapan kerinduan dan
cinta yang telah lama dibawah berlalu mengarung samudra mimpi.
Oh, mah sungguh akupun
anakmu tak akan mampu berpisah terlalu jauh, jauh meninggalkan kehidupan ini.
Jauh sampai menuju alam kebakaan mah,
Sungguh tak akan mampu
melihat amah menangis, dan tak akan mampu melihat apah menangis tertunduk sedih
dalam dukanya.
Terlalu lama, dan amat
terlalu lama menunggu dan bersabar untuk buah cinta yang kini pergi satu
persatu meninggalkan Amah dan Apah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar