Ayah
Merindukanmu (Anakku)
Teruntuk
yang sedang merindu, terutama yang merindukan orang-orang yang teramat ia
cintai di dalam hidupnya. Ayah, ibu, adik perempuan atau laki-laki ataupun
saudara dan saudari perempuanya, terlebih sahabat yang ia cintai layaknya
seperti saudara. Dan kerinduan yang terpendam buat kekasih hati, sang perekat
cinta, teruntuk jiwa pelengkap jiwa ini (Anakku).
“Hari ini, umurku baru
beranjak 22 tahun, masih muda sekali. Namun sayang sekali belum ada sesuatu hal
yang berarti yang mampu ku lakukan, belum sama sekali memberi manfaat kepada
yang lainnya. Hari ini, terbayang wajahmu, tergiang tangismu dalam tidur dan
sujud ketika memanjatkan doa, terbayang wajahmu ketika melihat anak kecil
sebayamu. Tangismu, rengekkanmu, tawamu, senyummu, cekikikanmu, oh membuatku
merindukan wahai anakku.
Sungguh aku
merindukanmu anakku, merindukanmu dalam penantian yang panjang. Merindukan
dalam dekapan layaknya Ayahku (kakekmu) memeluk dan mencium keningku dengan
mesra.
Aku belajar bersabar
dalam menantimu, sungguh satu hal yang perlu ku persiapkan jauh sebelum engkau
lahir adalah menjadi seorang laki-laki yang mampu mengajarkan kemesraan dan
keromantisan dalam mencinta Rabb dan Rasulmu.
Sungguh, hidup seribu
(1000) tahun taklah cukup mempersiapkan segala hal sebelum engkau lahir.
Anakku, yang wajahnya membias keimanan, yang wajahnya lucu tak terperih dan terbanyangkan lekukan ruas dan bentuk wajah dan tubuhmu, aku merindukanmu.
Anakku, yang wajahnya membias keimanan, yang wajahnya lucu tak terperih dan terbanyangkan lekukan ruas dan bentuk wajah dan tubuhmu, aku merindukanmu.
Sungguh, hanya dengan
merindukanmu membuatku mengerti dan memahami betapa ku harus menghormati dan
mencintai ayah dan ibuku (kakek dan nenekmu).
Sungguh hanya dengan
merindukanmu aku mengerti betapa Ayah dan Ibuku (kakek dan nenekmu) sungguh
berarti di dalam hidupku.
Anakku, yang isak
tangisnya senangtiasa gemuruh ditangah kamar kecil dan ayunan rotan, aku
mencintaimu.
Sungguh, hanya dengan
pengertian dan penantian panjang aku mengerti betapa ayah dan Ibuku (kakek dan
nenekmu) begitu mencintaiku.
Anakku,
Pernah suatu ketika,
saat masa-masa ayahmu ini, masih kecil dan teramat masih membutuhkan belain
kasih sayang, ayah dan Ibuku (kakek dan nenekmu) selalu hadir menghampiri
ketika ditengah malam yang larut aku merasa tak nyaman dengan pakaian dan
tubuhku. Seketika ayahku terjaga menghampiriku, mengendongku dan menciumi pipi
dengan lembuh dan penuh kasih sayang.
Anakku,
Ibuku (nenekmu) pernah
berkata kepada ayahmu “sungguh jika hari ini kalian ingkar kepada kedua
orangtua kalian, maka nanti ketika anak kalian lahir dan tumbuh menjadi dewasa.
Ia akan lebih ingkar kepada kalian”.
Demi Allah, kata-kata
Ibu masih tergiang di telingaku, terasa dekat sekali. Seakan baru bebarapa
menit yang lalu ibuku (nenekmu) berkata demikian. Aku teringat akan setiap
kata, setiap sikap dan setiap ulahku yang menyakiti hati ibuku (nenekmu).
Sungguh anakku, aku tak
ingin engkau terlahir menjadi anak yang lebih ingkar dan buruk perangainya
dariku. Aku tak ingin nanti ketika engkau lahir seringkali membuat hati ibumu
menangis sehingga ia tak ridha kepadamu, anakku.
Anakku,
Ibuku (nenekmu) adalah
adalah ibu terbaik yang Allah berikan, bersyukur atas cinta dan nikmat yang
Allah berikan, sehingga aku terlahir dari rahimnya. Tak pernah ayahmu lupa,
ibuku (nenekmu) selalu menemani ketika ayahmu akan berpuasa senin kamis, dan
membayar puasa nazard. Sungguh hanya kepada ibuku (nenekmu) ayah berani
mengatakan keinginan, mengutarankan mimpi, dan meminta setiap paragraph doa yang ia panjatkan ketika dalam
shalatnya.
Ibuku (nenekmu) adalah
ibu yang tak pernah membuatku kecewa, beliau selalu dengan senanghati mendoakan
apa yang ingin ayahmu, dank ala ayahmu ada suatu permintaan kepada ayahku
(kakekmu) hanya kepada ibu seoranglah aku berani menyampaikannya.
Anakku,
Tak ada waktu yang tak
ayahku habiskan untuk memenuhi segala keinginanku. Begitupun aku akanmu. Aku
mencintai dan merindukanmu wahai anak-anakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar