Belajar Cinta
BELAJAR CINTA DARI PEMILIK KEBESARAN DI
BALIK KESEDERHANAAN SA’ID BIN AMIR
By. Ardiles
12 Februari 2012 pukul 21:40
“Merekalah
yang mendapat yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung (Q.S Al- Baqarah:5)”.
Manusia kadang begitu hanyut dan terlena akan keindahan. Keindahan akan dunia
seringkali membuat manusia lupa akan dirinya, lupa akan hakikatnya bahkan lupa
akan penciptaannya, baahkan manusia lupa akan akhirat, dan lupa akan keberadaan
surga. “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan
(Q.S Al Fajr :20 )”. Jika Allah menetapkan tingkat keindahan itu
menjadi 100, maka tingkat keindahan dunia ini hanya pada tingkat 1, sedangkan
tingkat keindahan lainya, yaitu sebesar 99 tingkat ada di akhirat sana, yaitu
surga Allah SWT, tidakkah kita ingin melihat keindahan itu?
Akan tetapi, kita sebagai manusia seringkali lupa diri, bahkan tidak jarang
nafsu mendahului akal dan hati kita. Bukankah Allah telah mengganugrahkan kepada
kita akal untuk berpikir dan menempatkannya di tempat yang paling tinggi di
tubuh kita, ya tepatnya di kepala kita. Namun, kita seringkali menghinakan diri
kita, setelah Allah menjadikan dan menempatkan kita sebagai makhluk yang paling
mulia dari makhluk lainnya. Kita seringkali terlena akan kecintaan kita pada
dunia, dan melupakan Allah. Bukankah Allah SWT telah berfirman, yang artinya “dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu :
wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan
di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga) (Q.S Ali Imran : 14)”.Sadarkah
kita bahwa Allah telah menjanjikan tempat yang lebih baik dan mulia daripada
keindahan yang hanya kita dapatkan di dunia?
“yang demikian itu, disebabkan kerana
sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan
bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaun yang kafir ( Q. S An Nahl :
107)”.
Tidak, kita tidak pernah sadar. Walau kita tahu tentang janji Allah kepada
hamba-hamba-Nya yang bertakwa, akan tetapi kita tidak pernah berusaha menyadari
apa yang kita butuhkan. Namun, kita terlalu hanyut akan apa yang menjadi hasrat
dan keinginan kita di dunia.“wahai manusia sembahlah tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa ( Q.S
Al-Baqarah :21)”. Begitulah firman Allah di dalam Al Qur’an
kepada umat manusia, salahkah Allah SWT menggingatkan ciptaan-Nya? Salahkah
jika Allah SWT memperintahkan ciptaan-Nya untuk tunduk dan patuh kepada-Nya?
Salahkah Allah mengginginkan ciptaan-Nya untuk
bertakwa dan bermunajat kepada-Nya? Jawabnya “tidak”. Sudahlah sebuah kewajiban
jika yang diciptakan patuh kepada pencipta-Nya, sudahlah tentu pencipta punya
hak atas yang diciptkan-Nya. Namun, kenapa kita seringkali ingkar dan tidak
pernah menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan yang telah menciptakan
kita, yang telah meniupkan ruh ke tubuh ini, memberikan kita kesempatan
untuk lahir ke dunia, memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat dunia,
melihat kedua orangtua kita dan Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk
dicintai dan mencintai.
Lupakah kita!
kita dapat hadir dan hidup sampai saat ini
karena kebesaran dan rasa cinta Allah kepada kita, bukankah Allah telah
memberikan begitu besar nikmat dan karuniah-Nya kepada kita, bukankah itu
adalah wujud cinta Allah kepada kita?
“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil kerana
cintanya kepada harta (Q. S Al Aadiyat : 8)”
Ya, Allah begitu mencintai ciptaan-Nya
sehingga begitu banyak nikmat yang telah dicurahkannya kepada kita, namun kita
sedikit sekali menyadari dan mensyukurinya. “katakanlah : jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang (Q.S Ali Imran
:31)”. Subhanallah, tidakkah kita menyadarinya juga, Allah itu maha
pengampun dan maha penyayang, dan Allah akan mengampuni segala dosa dan
kesalahan kita, hanya dengan cara kita mencintai Allah, menjalankan semua
ajaran yang telah di bawah dan disyiarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat
manusia.
Marilah kita belajar kecintaan dan ketakwaan kepada seorang sahabat Rasulullah
SAW, yaitu Sa’id Amir, suatu ketika Sa’id Bin Amir diberikan beban dan
tanggungjawab pada masa kekhalifaan Umar Bin Khathathab, beliau ditunjuk untuk
menjadi gubernur di wilayah Syam. Maka berangkatlah Sa’id ke Hims, dengan
ditemani istrinya. Keduanya pada saat itu masih pengantin baru. Semenjak kecil
istrinya adalah wanita yang amat cantik. Sebelum keberangkatan khalifah
membekali mereka dengan harta yang cukup. Ketika keduanya sudah nyaman di Hims,
sang istri bermaksud menggunakan harta yang diberikan khalifah sebagai bekal
mereka. Ia meminta suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan
rumag tangga, lalu menyimpan sisanya.
Sa’id berkata, “maukah kamu aku tunjukan
yang lebih baik dari rencanamu itu?
Kita sekarang berada di suatu negeri yang amat
pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta ini lebih baik kita serahkan
kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita akan
berkembang”.
Sang Istri bertanya, “bagaimana jika rugi
?”.
Sa’id menjawab, “aku akan sediakan
jaminan”.
“baiklah kalau begitu,” kata sang istri
menyetujui.
Kemudian Sa’id pergi membeli sebagaian
keperluan hidup dari jenis yang amat bersehaja. Lalu uang lainnya
dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan membutuhkan.
Hari-hari pun berlalu. Dari waktu ke waktu
sang istri menanyakan perdagangan mereka dan sudah berapa keuntungan yang
didapatkan.
Sa’id menjawab, “bisninsnya lancar, dan
keuntungannya terus meningkat”.
Suatu hari, sang istri mengajukan pertanyaan
serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
Laki-laki itu tersenyum dan tertawa, sehingga sang istripun curiga. Ia mendesak
Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya.
Sa’id berkata, “semua harta sudah aku
sedekahkan”.
Wanita itupun lalu menangis. Ia menyesal
karena tidak jadi membeli keperluannya, dan harta itupun tidak tersisa.
Sa’id memandangi istrinya yang sedang
menangis. Tetes air mata yang membasahi pipi, menambah kecantikan wajah
sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan sang istri yang benar-benar
mempesona, ia mengalihkan pandangan ke surga. Di sana, rekan-rekannya sudah
menikmati apa yang tersedia di surga.
Ia berkata, “rekan-rekanku telah
mendahuluiku menemui Allah. Aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walaupun
ditukar dengan dunia dan segala isinya”.
Karena takut akan tergoda kecantikan istrinya
itu, maka ia berkata yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang
berhadapan dengan istrinya,
“dik, kau kan tahu bahwa di surga terdapat
bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andaikan saja satu dari mereka
menampakan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruh bumi.
Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada
mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu”.
Pembicaraan itupun berakhir seperti saat
sebelum dimulai, tenang, penuh senyum dan kerelaan. Sang istripun sadar bahwa
tiada yang lebih utama baginya kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya :
zuhud dan ketakwaan. Subhanallah. Maka balasan yang di dapatkan Sa’id adalah,
yaitu Surga Adn tempat yang dijanjikan Allah, surga untuk hamba-hambanya yang
bertakwa.
“itulah surga akan kami wariskan kepada kepada
hamba-hamba kami yang selalu bertakwa (Q.S Maryam :6
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada
Tuhanmu denga hati yang puas lagi diridai-Nya. Masuklah kedalam jamaah
hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kedalam surgaku (Q.S Al Fajr :27-30)”
“Orang-orang yang beriman serta beramal
saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya (Q.S Al Baqarah :
82)”.
Ya Allah,
Jika kami menyadari dan melaksanakan sepenuh
hati, lebih baiklah bagi kami berhamburan keringat di medan latihan (di
dunia-Mu), daripada bermandikan darah dan air mata penyesalan di medan juang
(di neraka-Mu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar