DUA KALIMAT
By
Ardiles
Pandanganku kini hanya tertuju lurus menuju
pintu keluar ruangan, hampir dua jam aku duduk terkantuk-kantuk mendengarkan
dosen yang menyampaikan materi perkeliahan. Pantatku terasa panas dan otakku
mulai terasa menguap, seakan tak mampu membendung laju arus materi kuliah hari
ini, dan setiap hari seperti ini, selalu seperti ini ku rasakan pada semester
ini. Perasaan ini sama saat seperti saat itu, perasaan yang sama seperti tujuh
tahun yang lalu. Kehilangan motivasi dan semangat belajar itu permasalahan
biasa. Tetapi, kehilangan seseorang yang menjadi inspirasi dan selalu
memberikanmu motivasi, maka serasa seakan ditinggalkan di dalam lorong yang
sempit, gelap dan tak berujung.
![]() |
| Kisah Bagai Daun yang mengering |
Kehilangan arah dan tak tentu harus melangkah
keman. Menyedihkan dan menyakitkan begitulah suasana hatiku kehilanganmu. Bayangan wajah, tawa dan senyummu
masih tergambar jelas di benakku. Aku tak akan pernah melupakan masa-masa kita
selama di bangku Sekolah Dasar. Suasana kelas dan kecerian itu tersimpan kokoh
di hatiku. Aku benar-benar tidak akan bisa melupakan segala kebaikanmu,
perhatian dan kepedulianmu menjadi titik putih yang terus bercahaya dalam
jiwaku. “aku bisa seperti saat ini, duduk di bangku Perguruan Tinggi. Semua
terinspirasi dari mu”. Sampai saat ini, ada dua kalimat yang belum sempat aku
nyatakan kepadamu. “yah, mungkin suatu saat bisa ku nyatakkan di hadapanmu.
Sungguh aku merindukanmu sahabatku. Tapi, kenapa engkau meninggalkanku? Meninggalkanku tanpa sepatah kata darimu? Di manakah engkau kini Suci, Mira Suciati?
Semester IV ini, seakan menjadi semester paling
berat dan sulit bagiku. “coba ada teman yang bisa memotivasiku!”. Ucapku
memelas. “Tapi, sayangnya saat ini tidak ada.” Coba ada Andre”pikirku. kini
hari-hariku terasa kosong dan menjenuhkan, tidak ada perdebatan, konflik dan
pertarungan pemahan, tidak ada adu kepintaran dan tidak ada adu keluasan serta
wawasan pemikiran di antara kami berdua. Yang pastinya tiada hari tanpa
silisih dan perdebatan di antara kami. Mulai dari masalah, kuliah, nilai,
belajar, sepatu, makan, mandi, potongan rambut, pakaian, orangtua, shalat,
pacaran, perempuan, agama, dan apalah yang penting bisa diperdebatkan.
Jika ada sedikit saja celah perbedaan di antara
prilaku dan keseharian kami berdua, maka ini akan jadi topik perdebatan yang
sangat mengasyikan. Kebiasaan berdebat inilah yang membuatku termotivasi untuk
belajar dan membaca lebih banyak buku pengetahuan, artikel, buku kuliah, agama,
ekonomi dan apa saja yang berkemunkinan menjadi bahan pertanyaan Andre. Kalau
aku tidak bisa menjawab atau tidak mengetahuinya sama sekali, maka aku minta
buat di tangguhkan dulu jawabannya atau ku jadikan PR dulu. Kalau sudah dapat
jawabannya dan rasa-rasanya referensiku sudah cukup banyak dan kuat, maka baru
ku sampaikan.
Motivasi terbesar yang ku rasakan saat tinggal
sekamar bersama Andre adalah persoalan kuliah, aku benar-benar ngak mau kalah
sama Andrea, seandainya Dia belajar selama dua jam, maka aku akan belajar tiga
jam, seandainya Andre buat tugas, aku pantang melihat atau mencontek punya
Andre, seandainya Andre tidur lebih cepat maka aku tidur satu atau jam lebih
lambat, seadainya Andre bangun tidur jam 4.30 shubuh, maka berbagai cara ku
lakukan untuk bisa bangun lebih awal, seandainya Andre shalat shubuh di kos,
maka aku akan shalat shubuh di masjid, seandainya Andre dzikirnya lama, maka
aku akan baca Al- Qur’an lebih banyak dan lama. Begitulah keseharian kami.
***
“Die, gimana udah siap kamu buat semesteran ntar?” tanya Andre. “dua minggu lagi kita mau UAS, aku lihat kamu sibuk banget sama organisasi sekarang, mana udah jarang di kos sering dan telat pulangnya. Sebulan ini aku jarang lihat kamu belajar!”
“Insya Allah siap Ndre, yah mau gimana lagi. Hidup pilihan
Ndre!”.
“ya lah, terserah kamu. Ntar kita lihat yah siapa IP dan
IPKnya paling besar di antara kita, kalau ternyata kamu lebih kecil maka kamu
harus traktir aku DIe, gimana ?”
“oke, siapa takut. Aku terima tantanganmu!”
Dua minggu aku belajar dengan seriusnya, sampai-sampai porsi
dan menu tidur harus ku kurangi.
Hehehe
Hehehe
“aku ngak boleh kalah dan ngak akan kalah”. Lirihku dalam
hati. Waktu belajarkupun, berusaha ku seimbangan dengan waktu belajanya Andrea,
amun tetap saja, aku kesulitan. Andrea orangnya teratur dan rajin belajar.
Sedangkan aku? Aku begitu malas, cepat jenuh dan mudah mengentuk saat belajar.
Kuliah di jurusan Ekonomi, di Program Studi Akuntansi seolah-oleh benar-benar
menyiksaku. Aku orang yang sangat teoritis, politis dan sosialis sedangkan di
jurusanku lebih banyak hitung-hitungan. Kalau masalah mata kuliah teori
Alhamdulillah nilai yang ku dapatkan selalu “A” dan otakku bekerja dengan
peaceful. Namun, kalau untuk mata kuliah yang totalitas hitungan, aku
benar-benar minta ampun. Nilai yang paling tinggi ku dapat “B” dan paling parah
“D” maka otakkupun sering rada-rada error. Akan lebih parah kalau mata
kuliahnya ada teori dan hitungannya maka otakku akan sering ngeheng dan drop,
karena sinyalnya sering disconnect dan pasokan arus energinya sering terputus.
***
Beberapa bulan kemudian, melalui handphone
“hallo, Assalamu Alaikum wr wb Die!”
“hallo, Wa alaikum Salam wr wb Ndre!”
“gimana khabar kamu Die?”
“Alhamdulillah baik ndre, kamu gimana?
“Alhamdulillah , aku juga baik Die. Oh iya, bagaimana IP dan
IPK kamu di?”
Sudah ku tebak, Pertanyaan ini pasti akan di ajukan. Ternyata
Andre tidak lupa.
Sejenak aku hanya terdiam, bibirku terasa berat mengatakannya
dan hati merasa tak kuasa untuk mengakuinya.
“IPku Cuma naik 0,18 Ndre, jadi IPKku Cuma 3.35”. jawabku memelas
dan kecewa.
“yah ngak pa-pa Die, Alhamdulillah IP dan IPKmu naik. Kamu
pilih mana, naik atau turun Die?”
“yee, semua orang pasti mau naiklah nilainya, walau Cuma
0,00000000001 Ndre. IP sama IPK kamu gimana Ndre?”balasku semangat.
“Alhamdulillah Ipku naik 0.30 Die, jadi IPKku sekarang 3.56
Die”.
“Alhamdulillah, wah hebat kamu Ndre. Iri aku sama kamu Ndre”.
Toot toot toot tot.............................. ( sambungannya terputus)
“hallo. hallo. Ndre, Ndre. Ya sudah lah mungkin dia sibuk”
pikirku Setelah pembicaraan di telpon itu, aku jarang dapat khabarnya. terakhir
yang aku tahu dari Ibunya, Andre sedang sakit dan untuk semester depan Andre
akan cuti kuliah.
***
Ku pikir, aku bisa tinggal bersama lagi sama
Andre di semester IV ini. Belajar bersama, pergi kuliah sama-sama dan bisa
berdiskusi serta saling berkompetisi dan memotivasi antara satu sama lain
seperti semester II. Namun, pengharapanku pupus saat Andre memutuskan untuk
pindah kos dan Dia lebih memilih untuk tinggal sendiri. Batal sudah kesepakatan
yang kami buat untuk tinggal serumah dan sekamar. Kekecewaanku tidak sampai di
sini, aku begitu sedih dan merasa kehilangan setalah Andre memutus untuk
berhenti kuliah, Dia ingin merantau ke Kab Kaur, Provinsi Bengkulu. Dia ingin
tinggal dan memulai usaha di sana. Aku sudah berusaha meyakinkannya, tapi
keputusannya sudah bulat. Dan aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk
menghentikan keputusannya, saat Dia mengatakan kalau Dia sudah di Bengkulu
sekarang. Mendengar pengakuannya membuatku seolah terhenyak dan sedih.
“perasaan ini, dan kondisi sama seperti saat itu. Saat, di
mana aku belum sempat mengatakan dua kalimat perpisahan. Bodohnya kau, sungguh
bodoh!”. ucapku lirih pada diriku sendiri. Dua kalimat yang begitu penting
bagiku. Kalimat yang di ajarkan Amah dan Apah (orangtuaku).
“saat ada seseorang yang telah berbuat baik kepadamu, semua perlakuan dan kebaikannya begitu berarti bagimu nak. Ada dua kalimat yang tidak boleh lupa engkau ucapkan kepada orang itu. Terlebih lagi, kalau orang itu sudah seperti saudara dan keluargamu sendiri, maka kalimat yang pertama perlu kau ucapkan adalah Terima Kasih. Ucapan itu adalah bentuk pengakaunmu bahwa apa yang telah orang itu lakukan sungguh berarti bagimu. Kalimat kedua, kalimat ini yang jauh penting dan menandakan engkau sampai kepada orang yang telah berbuat baik dan berarti bagimu nak, katakan I Love You, aku sayang kepada Anda. Dengan engkau mengucapkan dua kalimat itu, mudah-mudahan akan mengikat hubungan kalain menjadi lebih dekat, jangan sampai engkau menyesal tidak mengatakanya”.
“saat ada seseorang yang telah berbuat baik kepadamu, semua perlakuan dan kebaikannya begitu berarti bagimu nak. Ada dua kalimat yang tidak boleh lupa engkau ucapkan kepada orang itu. Terlebih lagi, kalau orang itu sudah seperti saudara dan keluargamu sendiri, maka kalimat yang pertama perlu kau ucapkan adalah Terima Kasih. Ucapan itu adalah bentuk pengakaunmu bahwa apa yang telah orang itu lakukan sungguh berarti bagimu. Kalimat kedua, kalimat ini yang jauh penting dan menandakan engkau sampai kepada orang yang telah berbuat baik dan berarti bagimu nak, katakan I Love You, aku sayang kepada Anda. Dengan engkau mengucapkan dua kalimat itu, mudah-mudahan akan mengikat hubungan kalain menjadi lebih dekat, jangan sampai engkau menyesal tidak mengatakanya”.
Hufh..
“Dua kalimat yang begitu sederhana, namun kenapa begitu sulit mengungkapnya?”.
Kini Andrea telah pergi meninggalkanku, dan aku harus membangun motivasi diriku sendiri. Kepergian Andre sama seperti Suci yang meninggalkanku.
“Dua kalimat yang begitu sederhana, namun kenapa begitu sulit mengungkapnya?”.
Kini Andrea telah pergi meninggalkanku, dan aku harus membangun motivasi diriku sendiri. Kepergian Andre sama seperti Suci yang meninggalkanku.
Bedanya hanya satu, saat Andre pergi. Dia masih sempat
berbicara denganku. Sedangkan saat kepergian Suci, aku tidak sempat berbicara
satu patahpun dan aku tidak pernah mengatakan dua kalimat itu, hingga saat ini
dan mungkin seterusnya. Sampai kapanpun tak akan ternyatakan olehku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar