Pages

Selasa, 07 Januari 2014

Ibadah & Kemesraan

IBADAH & KEMESRAAN
( Klise sepasang Kekasih)

Beberapa saat yang lalu, karena sedaang dalam perjalanan pulang dari pasar raya padang. Aku dan teman kuliah sengaja terus memacu motor agar segera sampai di kampus, dan dapat shalat jamaah di masjid raya al azhar unp.
Awan gelap, langit seakan menghitang. Rintik air mulai turun perlahan dari langit. Bayu terus menarik gas  secara konsisten, perlahan namun pasti. Di tengah kemacetan kota padang di hari kerja,  jum at sore di pertengahan gelap menuju malam orang-orang sibuk saling mendahului di jalan. Tak beberapa lama, setelah melalui beberap lampu merah. Kami agak sedikit khawatir jika hujan turun.
Sekitar limabelas menit, akhirnya kami sampai di kampus. Tetapi, shalat berjamaah telah usai. Untuk ke sekian kali melalaikan shalat dan selalu saja masbuk.
Setelah beberapa menit menunaikan kewajiban, menunaikan perwujudan seorang hamba kepada pencipta-Nya  merupakan sebuah ritual doa dan penguat ruhaniyah. Wajib bagi seorang muslim menunaikan ibadah shalat lima waaktu.
Bentuk rasa syukur, dan rasa tunduk serta waktu merehatkan diri dari retunitas harian yang kadang membuat hati keras dan khilaf.
Usai shalat, duduk rehat sejenak. Kebiasaan ketika selesai shalat. Mengerak-gerakan badang biar  terasa sedikit  nyaman. Melenturkan otot yang serasa kaku. Tak sengaja melihat ke belakang.
Ku lihat secara sekilas sosok laki-laki, tersenyum menghadap shaf wanita. ia tepat berdiri beberapa meter dari hijab atau pembatas wanita.  dengan posisi miring dari tangga menuju lantai dua, dengan samping kirinya tepat berada pintu masjid ray al azhar.
Aku cukup penasaran melihat raut wajah laki-laki paruh baya itu.  Terus ku perhatikan secara seksama laki-laki yang  mengenakan baju kokoh berwarna putih, degan stelan celana dasar, rapi sekali. Ia masih berdiri menantap kea rah shaf wanita. tak beberpa lama, berdirilah sosok wanita yang masih mengenakan mukhenahnya dengan lengkap. Senyum simpul yang begitu menenangkan laki-laki itu terbalas.  Wanita itu, mulai berlarian kecil menghampiri laki-laki yang ku pikir baru pulang dari kantornya.
Aku acap kali berjumpa dengan keduanya, keduanya selalu pergi bersama ke masjid. Kadang ku lihat bersama beberapa orang anaknya. Namun pemandang suami istri ini, di kala usai shalat magrib begitu menyentuhku.
Aku yang duduk di kaki lima masjid tetap memperhatikan keduanya. Ternyata tepa dugaanku, suaminya baru pulang dari kantor. Sama halnya denganku, istrinya menunggu suaminya mengenakan kedua sepatunya, tetap dengan saling tersenyum keduanya ngobrol dengan galak tawa ringannya.
Bedanya, aku tak ada yang menunggu. Aku yang juga sedang mengenakan kedua sepatuku hanya menatap senang memperhatikan gelagat sepasang suami istri itu.
Hal yang membuatku terharu dan terkesan adalah. Pertemuan keduanya di dalam masjid. Aku merasa keduanya begitu senang dan gembira ketika seuasai shalat magrib bertemu di sana.
Aku yakin keduanya tidak membuat janji untuk bertemu di sana. Terbesit di dalam hati dan pikiranku, bahwa keduanya sudah terlalu rutin melakukan shalat wajib bersama. Aku yakin, suaminya percaya istrinya akan shalat berjamaah di masjid. Walau sampai detik ini, aku menulis hujan sudah mulai turun dengan derasnya.
Seperti yang ku katakana di awal, langit mulai terlihat gelap sebelum adzan berkumandang. Angin bertiup kencang dan rinai hujanpun mulai detik titik perlahan turun menghujam bumi. Namun istrinya tetap ke masjid.
Apa salahnya suaminya langsung pulang ke rumah, untuk shalat di rumah saja. Bukankah laki-laki itu bisa membersihkan tubuh atau mandi terlebih dahulu dirumah.
Namun tidak. Hati keduanya sudah terpaut. Tawa dan senyum yang hadir di raut wajah keduanya membuktikan satu hal kepadaku.
Mereka senang bertemu dan berjumpa di dalam masjid. Keduanya seakan tak percaya akan bertemu dan pulang bersama-sama.
Dan aku yakin, keduanya sudah begitu saling mencintai dari waktu yang lama. Sederhana saja, raut dan kerut di wajahnya sudah dapat membuktikannya. Rambut yang mulai memutih di antara sela-sela rambut laki-laki itu membuatku yakin keduanya telah hidup bersama secar lama.
Anak-anak keduanya, juga membuktikan keduanya tlah lama membina keluarga.
Akhirnya kedua suami istri itu meluncur dengan mobilnya menuju rumah.
Ku perhatikan satu persatu di bawah langit, di tengah terngarai hujan yang mulai turun.
Satu persatu laki-laki dan wanita yang sebaya dengan sepasang suami istri tadi keluar. Hanya beberapa orang saja yang ketemui  pulang secara berpasangan.
Namun yang lainnya lebih banyak sendiri-sendiri pulang dan pergi beribadah melaksanakan shalat lima waktu ke masjid. Di akhir umurnya, beberapa nenek dan kakek berjalan seorang diri tanpa lagi ditemani sang kekasih hatinya.
Mungkin satu persatu telah menghadap rabb-Nya. Kini yang tersisa hanya terus bertahan dalam masa tua menunggu waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar