Ibadah & Kemesraan
IBADAH &
KEMESRAAN
(
Klise sepasang Kekasih)
Beberapa saat yang
lalu, karena sedaang dalam perjalanan pulang dari pasar raya padang. Aku dan
teman kuliah sengaja terus memacu motor agar segera sampai di kampus, dan dapat
shalat jamaah di masjid raya al azhar unp.
Awan gelap, langit
seakan menghitang. Rintik air mulai turun perlahan dari langit. Bayu terus
menarik gas secara konsisten, perlahan
namun pasti. Di tengah kemacetan kota padang di hari kerja, jum at sore di pertengahan gelap menuju malam
orang-orang sibuk saling mendahului di jalan. Tak beberapa lama, setelah
melalui beberap lampu merah. Kami agak sedikit khawatir jika hujan turun.
Sekitar limabelas
menit, akhirnya kami sampai di kampus. Tetapi, shalat berjamaah telah usai.
Untuk ke sekian kali melalaikan shalat dan selalu saja masbuk.
Setelah beberapa menit
menunaikan kewajiban, menunaikan perwujudan seorang hamba kepada
pencipta-Nya merupakan sebuah ritual doa
dan penguat ruhaniyah. Wajib bagi seorang muslim menunaikan ibadah shalat lima
waaktu.
Bentuk rasa syukur, dan
rasa tunduk serta waktu merehatkan diri dari retunitas harian yang kadang
membuat hati keras dan khilaf.
Usai shalat, duduk
rehat sejenak. Kebiasaan ketika selesai shalat. Mengerak-gerakan badang
biar terasa sedikit nyaman. Melenturkan otot yang serasa kaku. Tak
sengaja melihat ke belakang.
Ku lihat secara sekilas
sosok laki-laki, tersenyum menghadap shaf wanita. ia tepat berdiri beberapa
meter dari hijab atau pembatas wanita. dengan posisi miring dari tangga menuju lantai
dua, dengan samping kirinya tepat berada pintu masjid ray al azhar.
Aku cukup penasaran
melihat raut wajah laki-laki paruh baya itu.
Terus ku perhatikan secara seksama laki-laki yang mengenakan baju kokoh berwarna putih, degan
stelan celana dasar, rapi sekali. Ia masih berdiri menantap kea rah shaf
wanita. tak beberpa lama, berdirilah sosok wanita yang masih mengenakan
mukhenahnya dengan lengkap. Senyum simpul yang begitu menenangkan laki-laki itu
terbalas. Wanita itu, mulai berlarian
kecil menghampiri laki-laki yang ku pikir baru pulang dari kantornya.
Aku acap kali berjumpa
dengan keduanya, keduanya selalu pergi bersama ke masjid. Kadang ku lihat
bersama beberapa orang anaknya. Namun pemandang suami istri ini, di kala usai
shalat magrib begitu menyentuhku.
Aku yang duduk di kaki
lima masjid tetap memperhatikan keduanya. Ternyata tepa dugaanku, suaminya baru
pulang dari kantor. Sama halnya denganku, istrinya menunggu suaminya mengenakan
kedua sepatunya, tetap dengan saling tersenyum keduanya ngobrol dengan galak
tawa ringannya.
Bedanya, aku tak ada
yang menunggu. Aku yang juga sedang mengenakan kedua sepatuku hanya menatap
senang memperhatikan gelagat sepasang suami istri itu.
Hal yang membuatku
terharu dan terkesan adalah. Pertemuan keduanya di dalam masjid. Aku merasa
keduanya begitu senang dan gembira ketika seuasai shalat magrib bertemu di
sana.
Aku yakin keduanya
tidak membuat janji untuk bertemu di sana. Terbesit di dalam hati dan
pikiranku, bahwa keduanya sudah terlalu rutin melakukan shalat wajib bersama.
Aku yakin, suaminya percaya istrinya akan shalat berjamaah di masjid. Walau
sampai detik ini, aku menulis hujan sudah mulai turun dengan derasnya.
Seperti yang ku
katakana di awal, langit mulai terlihat gelap sebelum adzan berkumandang. Angin
bertiup kencang dan rinai hujanpun mulai detik titik perlahan turun menghujam
bumi. Namun istrinya tetap ke masjid.
Apa salahnya suaminya
langsung pulang ke rumah, untuk shalat di rumah saja. Bukankah laki-laki itu
bisa membersihkan tubuh atau mandi terlebih dahulu dirumah.
Namun tidak. Hati
keduanya sudah terpaut. Tawa dan senyum yang hadir di raut wajah keduanya
membuktikan satu hal kepadaku.
Mereka senang bertemu
dan berjumpa di dalam masjid. Keduanya seakan tak percaya akan bertemu dan
pulang bersama-sama.
Dan aku yakin, keduanya
sudah begitu saling mencintai dari waktu yang lama. Sederhana saja, raut dan
kerut di wajahnya sudah dapat membuktikannya. Rambut yang mulai memutih di
antara sela-sela rambut laki-laki itu membuatku yakin keduanya telah hidup
bersama secar lama.
Anak-anak keduanya,
juga membuktikan keduanya tlah lama membina keluarga.
Akhirnya kedua suami
istri itu meluncur dengan mobilnya menuju rumah.
Ku perhatikan satu
persatu di bawah langit, di tengah terngarai hujan yang mulai turun.
Satu persatu laki-laki
dan wanita yang sebaya dengan sepasang suami istri tadi keluar. Hanya beberapa
orang saja yang ketemui pulang secara
berpasangan.
Namun yang lainnya
lebih banyak sendiri-sendiri pulang dan pergi beribadah melaksanakan shalat lima
waktu ke masjid. Di akhir umurnya, beberapa nenek dan kakek berjalan seorang
diri tanpa lagi ditemani sang kekasih hatinya.
Mungkin satu persatu
telah menghadap rabb-Nya. Kini yang tersisa hanya terus bertahan dalam masa tua
menunggu waktunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar