Tentang : Apahku
TENTANG : APAHKU
By
Ardiles
Tentang apah lagi, laki-laki berhati seputih
salju, selembut kapas, sekeras baja dan seindah berlian. Laki-laki yang teguh
langkahnya, laki-laki penuh tanggng jawab. Tak banyak bicara, jarang sekali
marah dan tak pernah berteriak. Tak pernah mengeluh dan tak pernah menangis.
Selalu saja menjadi laki-laki yang romantis, baik kepada Amah maupun ummi. Tak
pernah ingkar janji dan selalu memberikan apa yang ada ditangan dan hang
dimilikinya untuk anak-anaknya. Jadi teringat akan sepatu kulit Lee coklat apah, sepatu satu-satunya
yang paling bagus diantara sepatu yang lainnya.
Masih teringat jelas dalam ingatan ketika aku
baru berusia 2-5 tahun, aku suka sekali berpergian jauh dengan apah. Bahkan aku
sampai lupa dengan amah. Sewaktu kecil aku begitu deka dengan apah, kemanapun
selalu di ajak apah untuk pergi jalan-jalan keluar kota. Waktu itu apah masih
sering belanja barang dagangan keluar kota, sewaktu aku belum ada, lahir. Yang
sering pergi dengan apah adalah sepupuku. Namun ketika aku lahir akulah yang
sering diajak apah bepergian. Perjalanan yang masih ku ingat ada cerita yang
sangat menarik bagiku. Pertama adalah ketika iktu apah pergi berdagang, tapi
aku tidak jelas kemana itu. Yang ku ingat aku selalu dipakaikan bedak dan
lisptik oleh teman-teman apah, di dandani seperti perempuan, dipakaikan bando
dan lain sebagainya. Dan itu itu seingatku sering terjadi. Karena hanya aku
yang sering dibawah apah dan hanya aku satu-satunuya anak kecil yang ikut dalam
rombongan kafilah dagang apah, cieh kafilah dagang.
Mengikuti sunah nabi, karna sabda nabi 9 dari
10 pintu rezki itu ada pada berdagang. Jadi aku dari kecil sudah diajarkan oleh
apah untuk menjadi pedagang. Namun sayang sekali aku tidak suka dan bisa
berdagang. Sampai pada suatu perjalanan pulang aku, apah dan bersama rombongan
berehenti disebuah sungai, lalu mandi dan membersihka diri. Jelas saja bedak,
eyes shadow dan lisptik di wajah dibersihkan oleh apah. Setelahh itu apah sibuk
membersihkan diri. Nah karena aku masih kecil buanget. Apah lupa memegang ku,
usai sudah hanyutlah aku terbawa arus sungai. Alhamdulillah karena apah cepat
menyadarinya, akhirnya aku masih hidup dan masih dapat menceritakannya, nah
bagaimana dengan amah ketika tahu? Amah hanya diam dan tidak berani berkata
apa-apa kepada apah. Apakah amah penakut atau karena apah pemarah? Tidak sama
sekali, ku sampaikan satu hal. Apah. Hampir tidak pernah marah kepada amah
apalagi memukul. Dan amah adalah wanita yang begitu cerewet, namun hanya kepada
apah saja apah saja seolah cerewet amah itu luntur tak bersisa. Aku hanya
begong melihat apah diam dengan. Rasa menyesal dan tak perlu berkata apa-apa,
atau membela diri. Akhirnya setalah apa bangkrut kami pulang kampung lagi ke
batu sangkar, supayang.begitulah seterusnya suka duka menjadi pedagang. Namun
menjelang aku berumur 6 tahun aku dibawa apah lagi ke manna.
Cukup dulu, udah mau adzan. (Ngetik pakai teb lama dan ribet) Maklum cupu kemaren dicuri orang,
jadinya susah kalau ngetik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar