KALA TERJATUH
KALA
TERJATUH
By.
Ardiles
Teringat dengan ucapan seorang sahabat terkait cobaan yang
senangtiasa datang tanpa di sangka-sangka, bahkan datangnya cobaan ataupun
musibah tak lah semudah menebak arah angin yang berhembus atau tak lah semudah
menerka aliran air yang jatuh dikala gerimis dan hujan. Kedukaan, kesedihan bahkan kegembiraan dapat
datang kapan saja tanpa seorangpun yang tahu, demikian juga selayaknya
kesuksesan dan kegagalan selalu saja mengincar kita dalam setiap usaha dan
pencapaian yang telah kita ikrarkan. Sebaik-baik manusia berencana maka
sesungguhnya rencana dan ketetapan hanya Allah lah, yang punya hak dan kehendak
atas segala-galanya.
Menyakitkan,
bahkan menyedihkan terjatuh dalam setiap upaya dan usaha yang dicitakan, selalu
saja gagal dan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ntah, sudah seberapa sering
kita terjatuh lalu bangkit. Namun, yang menjadi persoalan dan pertanyaan
penting dalam menyikapi cobaan dan musibah yang hadir, seberapa besar kita siap
menghadapinya? Seberapa siap kita terjatuh dalam setiap pencapaian yang kita
harapkan? Seberapa teguh hati dan tekad kita untuk tetap bertahan dalam setiap
halangan dan rintangan yang kadang melemparkan kita kembali ke belakang, ke
garis awal. Dan seberapa kuat iman kita menghadapi ujian, cobaan dan musibah
yang Allah hadirkan untuk kita? Hanya kita seorang yang mampu menjawab.
Sebagaimana
disampaikan Buya Hamka : “Tingkat cobaan
iman itu tak ubahnya seperti anak tangga yang bertingkat - tingkat. Tiap
satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh
orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat
bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal pikirannya tetap
waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang
lebih tinggi. Tapi kalau tangannya lemah,
kakinya tidak kuat, akalnya hilang, pikirannya
kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Dan yang paling disayangkan jika robohnya tidak hanya
satu dua buah anak tangga ke bawah, tapi jatuh anak demi anak tangga dibawahnya
yang sangat banyak. Bahkan karena lemahnya,
seseorang bisa sulit bangkit lagi.
Jika hari ini matahari masih bersinar layaknya hari-hari
kemaren yang telah kita lalui. Dan kala terjatuh itu masih tergiang dibenak dan
hati, membuat takut untuk melangkah lebih jauh ke depan maka sesungguhnya kita
perlu merenungkan hikmah dan pelajaran berharga yang ada dalam setiap cobaan yang
hadir. Seberapa kuat kaki, tangan bahkan akal kita kala pukulan dan terjatuh
menimpa diri kita. Dan seberapa kuat kita tetap bertahan, tetap bangkit lalu
terus melangkah kala terjatuh?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar