setting

My Story : ARDILES: JIKA KEHILANGAN

JIKA KEHILANGAN



Jika Telah Kehilangan
Tergetar hati, bahkan tak rela jika sesuatu yang telah kita suka rusak atau hilang. Terserah yang rusak atau hilang itu sebuah benda ataupun ikatan. Mungkin yang lebih berarti lagi sebuah kehidupan, lenyapnya secarik nafas dan  terhentinya aliran darah di dalam tubuh yang pada akhirnya menuai keabadian yang sesungguhnya, yakni kematian.
Siapa saja mungkin pernah kehilangan uang, bahkan saat itu bisa saja begitu membutuhkannya. Siapa saja mungkin pernah kehilangan kendaraannya ntahkah itu sepeda, motor atau mungkin mobilnya. Tak mudah merelakan kehilangan, tak mudah mengikhlas sesuatu yang telah melengkapi kehidupan kita bahkan menjadi barang yang teramat kita butuhkan.
Terlebih lagi bagi kita seorang mahasiswa, kehilangan uang yang hanya dikirim satu kali dalam sebulan atau bisa saja lebih jikalau kebutuhan yang mendesak. Namun, itupun dengan kebutuhan yang terbatas dengan uang secukupnya harus dapat dimanaje se-efektif dan se-efisien mungkin diluar kebutuhan pokok harian, bai itu keperluan pribadi, makan, kos dan belum lagi kebutuhan kuliah serta buku-buku kuliah yang harga luar biasa menguras kantong. Banyak lagi kebutuhan lainnya.
Kehilangan laptop yang di dalamnya terdapat data-data penting, baik itu data organisasi dan skripsi yang sedang dikerjakan akan membuat emosi begitu cepat bangkit. Bisa saja rasa kecewa dan frustasi menghampiri dikala demikian terjadi. Galau tak hanya bertenger namun akan merasuki jiwa, menghujat habis-habisan bahkan sumpah serapah akan keluar tanpa kontrolnya. “sungguh tak berperasaannya orang yang telah mencuri” ucap diri dalam hati, “semoga celaka yang telah berbuat demikian, semoga Allah meng-azab orang yang telah menzhalimi hamba” bisa saja kata-kata ini akan senangtiasa keluar dari dalam jiwa. Alasannya sederhana,”doa orang-orang yang teraniaya atau terzhalimi akan dikabulkan Allah swt” tegas hati. Mungkin saja “semoga Allah memaafkan orang-orang yang demikian, memberikan hidayah, semoga barang-barang hamba berguna dan bermanfaat. In shaa Allah, Allah akan ganti dengan jauh lebih baik” ucap diri tulus.
Sayang sekali, semuanya tak semudah yang diucapkan. Dikala kehilangan telah menimpa diri, tak mudah menenangkannya. Rasa kesal dan sedih akan menjadi satu, lama-lama kelamaan akan menjadi sebuah bukit dendam kesumat yang berbuah ketidakrelaan. Mengerutkan wajah, menyesakan dada dan hati akhirnya penuh curiga.
Bisa-bisa saja, jika tak mampu mengendalikan diri. Maka semuanya akan disalahkan, bahkan bisa saja Allah disalahkan atas kehilangannya yang terjadi. “Allah menguji dengan sedikit rasa lapar, kemiskinan, anak-anak, istri bahkan harta bagi hamba-hambanya”. Senyum yang tadinya makar indah menghiasi wajah, bisa saja suram dan kusut jika kita tak mampu sabar dan mengendalikan diri. “jika diri telah kehilangan kendalinya, maka setanlah yang akan jadi kemudinya” lalu mulailah prasangka bertunas di dalam diri, pikiran-pikiran negative mulai aktif mempengaruhi prilaku, astaghfirullah.
Percayalah, kehilangan-kehilangan kecil yang terjadi adalah bagian-bagian yang menguatkan diri untuk jadi jauh lebih sabar, meneguhkan hati, menguatkan jiwa dan menjadi pribadi yang ikhlas dan tulus.
Kehilangan orang-orang terdekat dan dikasihi adalah hal mutlak dan pasti terjadinya. Ledakan kesedihan akan berhamburan jika kematian telah memutuskan ikatan, menghilangkan rasa dan meremukan nya tak bersisa. Siapa saja, jika telah kehilangan salah satu dari keluarganya, ntahkan itu, ibu, ayah, kakak, adik dan salah satu dari keluarga yang begitu dekat dikasihi akan sulit untuk merelakannya di semayangkan seorang diri, terpenjara dalam liang lahat yang sempit dan sesak. Seorang sendiri ditengah gelapnya mala yang dingin ditanah  perkuburan nan merah  dan basah.
Kehilangan cinta itu menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan kehilangan orang yang dicinta. Namun, Sesakit-sakit kehilangan. Lebih menyedihkan jika pemilik diri, bahkan pemilik setiap degukan nafas ini menjauh dan mengacuhkan diri. Kehilangan nikmatnya, karuniahnya dan kehilangan hidayahnya. Bahkan harta tak ada acuhnya, rezekiny selalu melimpah ruah dalam naungan cintanya.
 Suatu saat nanti, akan tiba masa kehilangan itu akan benar-benar melumat diri sendiri. Bahkan diri ini akan hilang dari catatan sipil dunia. Sungguh yang abadi hanya catatan sipil malaikat yang telah Allah tugaskan.
Akan tiba masa, kematian menghampiri setiap jiwa. Hanya saja satupun manusia tak ada yang tahu kapan kematian akan datang mengetuk diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai