Pages

Kamis, 02 Oktober 2014

PROSES MENG-COPY PASTE



Proses meng-copy paste

Tak ada larangan dalam mengamati seseorang, bahkan ada larangan dalam meniru dan menginovasi sebuah produk. Yang dikenakan pelanggaran bahkan produk yang sering masuk dalam perkara hokum dikala produk yang ada dicopi paste. Ntahkah itu buku hasil tulisan seseorang akan penemuannya baik berupa buku, dan hasil penemuan seorang ilmuan dari hasil risetnya ntahkan itu berupa sebuah mesin ataupun serum dan zat. Banyak lainnya.

Berbeda halnya dengan amalan, berbedanya konteks beribadah dalam Islam. Proses meniru bahkan meng-copy paste amalan yaumiyah seseorang tak adalah larangannya. Bahkan teringat dalam sebuah acara seminar penulisan yang dihadir oleh Tere-Liya beberapa saat yang ketika berkesempatan menjadi moderator pada acara tersebu. Beliau sama sekali tidak merasa marah bahkan kecewa ketika dari sekian banyak buku yang beliau tanda tangani ada beberapa buku bajakan yang mungkin dibeli dipasar loak. Namun dengan santai beliau tetap membubuhkan tanda tangannya. “tidak masalah bagi saya jika mereka membeli bajakan, setidaknya meraka mendapat ilmu atau  mungkin dapat mengamalkan beberapa hikmah yang terdapat dinovel saya”.

Begitulah sikap seseorang yang ia menulis untuk berbagi manfaat, namun bukan  berarti beliau melegalkan dan menghalalkan pembajakan atas hak cipta seseorang. Beliau hanya berusaha ber-husnuzhon dalam segala hal yang terjadi.

Sungguh menyenangkan sekali dapat menjadi pribadi yang demikian, yang senangtiasa berbagi manfaat dan menularkan kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya. Demikian juga ketika kita telah duduk berkumpul dalam sebuah halaqah, taklim ataupun mentoring. Ketika kita menikmati telah duduk dan berada diantara pribadi-pribadi yang senangtiasa memperbaiki dirinya, membaca Al-Qur’an, mengamalkan setiap baitnya, menjalankan sunnah, senangtiasa terjaga wudhunya, terjaga dipertiga malam, dan senangtiasa memanjangkan bacaan shalatnnya baik dalam qiyamul lail serta dhuhanya serta dalam setiap shalat sunnahnya.

Terpancar kejernihan hatinya diwajahnya, wajah yang tak berias sama sekali akan terpancar perhiasan amalan ibadahnya. Melekatlah kemulian baik-bait ayat Al-Qur;an dalam setiap tingkah lakunya, terbias dalam senyum dan perbuatannya dan begitu terasa hangat ketika berjabat tangan dengan orang-orang yang selalu konsisten  dalam amalan hariannya.

Menyalurkan ghirah, bahkan seolah kehadirannya membuat diri tergerak mengikuti amalan yang ia lakukan. Ketika telah usai bersujud dan menengadahka tangan pada sang Rabb pengabul keinginan, dikeluarkanlah mushab yang telah lusu lembaran-lemabarannya karena telalu sering dibolak-balik.
Setiap kali bertemu sahabat yang demikian, selalu saja timbul keinginan meniru semua yang ia lakukan. Ketika ia membaca Al-Qur’an tak mau kalah juga ikut serta membaca, ketika ia telah selesai satu jus, timbul keinginan di diri melanjutkan satu jus lagi. Ketika ia dhuha 6 rakaat, timbul keinginan yang lebih kuat di diri untuk dhuha 8 rakaat selalu ingin menjadi lebih baik ketika berjumpa dengan ikhwan yang senangtiasa konsisten dalam ibadahnya.

Berusaha sekuat tenaga, mencopy paste cara dan amalannya diluar sepengetahuannya. Meniru apa saja yang membuatnya begitu terlihat bahagia, bahkan setelah mengamati dan meniru berusaha untuk menginovasi dan melakukannya jauh lebih baik.
Selama proses meng-copy paste amalan seseorang tak dilarang, so silahkan disedot semua kebaikannya yang ada. Bahkah jadikan berlimpah ruah dan dengan senang hati membuat orang-orang lainnya ikut serta meng-copy paste amalan dan ibadah keseharian kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar