Pages

Rabu, 01 Oktober 2014

SEMUANYA AKAN BERBALAS



Semuanya Akan Berbalas

Semuanya akan terpaut, tak ada yang terlepas pada jalurnya. Ketika tangan yang diulurkan harus bersambut. Layaknya rasa hormat berbalas dan bertaut dengan rasa dan sikap yang santun. Tak ada senyum yang tak berbalas, tak ada kebaikan yang tak berbalas dan tak ada cinta yang tak berbalas.
Jika karma yang menjadi landasan dalam segala perbuatan, mungkin pemikiran ini harus sedikitnya harus diputar dan sedikit diarahkan kepada hakikatnya. Allah telah menerangkan dalam untai cintanya. Bahwa sebesar zarahpun amal kebaikan akan dibalas, dan sebesar apapun amal keburukan juga akan Allah balas.
Senyum berbalas senyum, sederhana sekali. Ketika pagi, siang, dan malam kita bisa saja bertemu dengan siapapun dan kita dapat menyapa mereka kapanpun kita mau. Tergantung suasan hati. Jikalau kita memahami sebuah senyum merupakan amal ibadah yang akan menjadi pahala yang berlimpah maka siapapun tak akan melewatinya. Karena senyum yang paling ikhlas dan diberikan dengan penuh ketulusan merupakan seikat sedekah yang kita tuangkan ke dalam hati seseorang yang kita temui, pasti akan berbalas.
Sayangnya dalam pergaulan keseharian yang terjadi, bahkan yang sering ku alami. Semua orang inginnya dimengerti tanpa mau mengerti orang lain. Betapa “egoisnya” yang seringkali mengeracau bahwa “mereka tak pernah mengerti aku”. Rugi sekali jika tidak kita yang terlebih dahulu yang memulai. Bisa saja nanti akan bertunas prasangka dan lalu berbuah curiga akhirnya membusuklah ia menjadi rasa salah paham yang menghancurkan sebuah ikatan.
Kadangkala perkara sederhana bisa menjadi masalah yang teramat luar biasa hanya karena tidak saling mengerti. Sama halnya dengan kisah yang terjadi antara Umar Bin Khathab dan Abu Bakar Ash-shidiq. Manakala suatu masa berduanya sedang berjalan dan berjalan berlainan arah. Ketika keduanya berpapasan tiada satupun yang saling menegur ataupun mengucapakan “salam”. Keduanya hanya diam tanpa satu katapun hingga keduanya sama-sama berlalu dan meninggalkan jejak masing-masing dalam satu garis lurus ketika bahu saling bertemu.
Mengenai kejadian ini, Abu Bakar r.a menyampaikannya kepada Rasulullah saw. “wahai Rasulullah tadi ketika aku berjumpa dengan Umar, beliau sama sekali tidak menyapaku. Ku tidak tahu apa salahku kepadanya”. Menanggapi pernyataan khalifahAbu Bakar, Rasulullah langsung menanyakan hal tersebut kepada Umar. “apa benar demikian yang Abu Bakar sampaikan wahai Umar?”Tanya Rasulullah.
Umar bin Khathab r.a dengan wajah yang teduh dan penuh wibawa menjawab tulusnya. “wahai Rasulullah, aku hanya memberikan kesempatan kepada Abu Bakar untuk terlebih dahulu menyapaku. Aku tahu beliau lebih utama dariku. Maka aku ingin beliau mendapatkan pahala yang lebih besar dariku. Bukankah yang terlebih dahulu mengucap salam, lalu menyapa dan tersenyum ke saudaranya itu lebih baik daripada yang membalasnya wahai Rasul Allah” jelas Umar.
Begitulah dalam pergaulan para sahabat, mereka selalu mengutamakan saudaranya daripada dirinya. Bahkan untuk hal sederhana yang demikian menjadi perhatian seorang Umar, laki-laki pemilik bidadari bermata jeli dan limited edition. Semuanya harus berbalas, jika ada prasangka dihati karena kita tidak memahmi bahkan tidak sama sekali mengetahui rahasia bahkan hikmah yang ada dibaliknya.
Demikian juga hal yang terjadi diantara khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khathab. Permasalahan sederhana bisa menjadi hal yang luar biasa. Namun sayang sekali prihal ini menjadi enteng dan ringan bagi kita. Kadangkala prasangka hanya tinggal dan bertunas hingga ia tumbuh menjadi curiga dan fitnah.
Semua harus berbalas, layaknya jabat tangan diantara kita dengan sahabat. Jikalau kita mengulurkan tangan kepada seseorang, namun ia tak mengubris ataupun menyambutnya sama sekali alangkah sedih dan kecewanya hati ini. Teringat kisah adik-adik diwisma beberapa waktu yang lalu, bahkan juga terjadi pada diri sendiri. Hanya karena senyuman menjadi petaka, gara-gera candaan jadi pertengkaran dan gara-gara jabat tangan jadi saudara yang mengekalkan.
Gara-gara Senyuman
“beribu  sahabat yang kita miliki namun serasa sedikit sekali, akan tetapi satu orang musuh saja serasa tak tenang hidup ini olehnya”
Demikianlah hati, kadangkala banyaknya sahabat dan orang-orang yang menyayangi kita serasa tak seberapa. Beda halnya, jika kita memiliki musuh bahkan hanya seorang saja orang yang tak suka bahkan teramat membenci kita serasa terusik kehidupan kita akan kritik dan ucapnya. Tak nyaman bahkan menjadi tak tenang hidup ini rasanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar