BERBAIK SANGKA : CITA RASA MEMBANGUN UKHUWAH
By.
Ardiles
“Ukhuwah
itu itu artinya benar-benar memikirkan saudaranya yang lain dan berupaya untuk
membantu dalam hal-hal yang baik, tolong-tolong untuk menjauhkan umat, diri kita, saudara—saudara
kita dari hal-hal yang buruk” ( Salim
Segaf Al Jufrie)*
Jelas
saja, kita tak akan pernah lupa bagaimana sejarah islam mencatat sebuah
pertemuan bahkan sebuah ikatan ukhawah yang telah Rasulullah ikat begitu
kuatnya. Bahkan tinta emas sejarah tak akan pernah mengabaikan kisah permulaan
ukhwah yang benar-benar kuat terjadi dikala Rasulullah bersama para sahabat
hijrah ke Kota Madinah. Persaudaraan kaum Anshor dan Muhajjirin. Pertemuan dua
suku masyarakat dengan latar belakang budaya dan sejarah peradaban yang berbeda
pula. Namun cintalah yang membuat mereka bertemu dan keimananlah yang membuat
mereka menjadi satu hati, satu rasa dan satu suara dalam memperjuangkan
tegaknya agama Allah.
Jikalah
ingin membangun pondasi perjuangan yang kokoh dan kuat, maka kekuatan iman adalah
landasan dasar yang tak pernah bisa diabaikan bahkan digantikan dengan lainnya,
barulah ketika keimanan telah terbentuk, islam telah merasuk ke dalam jiwa dan
keimanan adalah titik inti awal langkah pergerakan. Setelah keimanan tertanam
kuat barulah ukhwah atau persaudaraan diikat menjadi sebuah rajutan yang utuh
sehingga akan menjadi sebuah benteng perjuangan yang mampu menuai kemenangan
yang asasi.
Sungguh,
semua menjadi tak akan berarti jikalah kuantitas atau jumlah yang banyak
menjadi sebuah tolak ukuran kemenangan. Sungguh jumlah yang banyak, lini dakwah
yang komplek atau sepenuhnya kita kuasai menjadi tiada arti tanpa ada ukhwah
atau persaudaraan yang baik, maka tidak mungkin kita akan mampu memaksimal
semua itu. “Hal Asasi pertama dalam
membangun ukhwah adalah berbaik sangka” (Salim Segaf Al Jufrie). Betapa
banyak perjuangan yang berakhir dengan perpecahan bahkan pertumpahan darah,
betapa banyak kisah dinegeri ini bahkan merambah ke seluruh penjuru dunia,
yakni perang saudara. Salah paham dan berburuk sangka barakhir menjadi petaka
dan malapetaka, bahkan tak jerah celah
ini menjadi ruang bagi golongan lainnya untuk mengadu-domba satu sama lainnya.
Pransangka seringkali mengeraskan hati, membuat diri menjadi angkuh, merasa
benar dan tidak mau menerima pendapat yang lainnya. Bahkan berburuk sangka tak
jarang membuat kita berdebat kusir, berusaha mencari pembenaran satu dengan
yang lainnya, ngotot dan jika pendapat atau alasan kita tidak diterima (kalah)
seakan kita merasa dipermalukan depan umum dan saudara kita yang lainnya,
seolah harga diri dan perjaungan kita tidak ada artinya.
Ustad
Rahmad Abdullah pernah mengatakan : “Bahwasanya ukhwah yang paling rendah adalah
bagaimana kita tidak memiliki sangkaan yang buruk terhadap saudara kita dan
yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya)”.
Jikalah boleh diutarakan, ukhwah adalah cermin kemenangan dakwah yang mendasar
bagi kita. Andai saja, jika ukhwah yang paling tinggi kedudukannya maka jelas
ukhwah dalam mempertahan agama, dalam mempertahankan akidah. Dalam hal ini
seorang mukmin siap menyerahkan ruhnya, hartanya, waktunya dan lainnya demi
kemeslahatan umat, yang artinya kita mendahulukan kepentingan saudara se-akidah
diatas kepentingan diri sendiri. Ukhwah seperti ini, dapat kita saksikan dalam
kisah para sahabat yang lebih mendahulukan saudaranya di Perang Yarmuk, siapa
yang tidak ingan sekilas kisah perjuangan melawan tentara romawi, perbandingan
pasukan yang cukup besar. Namun di akhir perperangan terlukis indah dalam
sejarah bagaimana kisah ukhwah para sahabat, kita akan menjadi iri bahkan sedih
melihat sikap satu sahabat dengan lainnya, sebut saja Ikrimah bin Abi Jahal, Al
Harist bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah bagaimana satu dengan lainnya
saling mendahulukan, walau pada saat-saat kritis yang mereka alami, rasa letih,
rasa sakit dan juga haus yang mendera mereka masih memikirkan saudaranya,
bahkan sampai akhirnya tak satupun dari mereka yang meminum air yang dibawah
salah seorang sahabat, kini jiwa mereka telah terbang dengan senyuman
kemenangan bahkan diujung akhir hidup mereka tetap menjaga ukhwah dengan
kukuhnya.
Kemudian
yang kedua, ukhwah dalam arti kebersamaan, sepenanggungan dimana kesulitan kita
pikul bersama-sama bahkan kesenangan juga dipikul secara bersama-sama. Artinya
seluruh yang kita milikki mampu kita berikan sebahagiannya kepeada saudara
kita. Bahkan kita tak akan pernah lupa bagaimana kisah persaudaraan antara
Abdurrahman bin Auf dengan Sa’d bin Ar-Rabi’. Tanpa basa-basi, dengan rasa tulus
dan penuh kesungguhan Sa’d meminta Abdurrahman bin Auf untuk mengambil
sebahagian harta yang ia miliki. “sesungguhnya
aku adalah orang yang paling banyak hartanya dikalaingan Anshor, ambillah
separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga punya dua istri, maka lihatlah mana
yang engkau pilih, agar aku bisa menceraiakannya. Jika masa iddahnya sudah
sampai, maka kawinlah” ucap Sa’d bin Ar Rabi” (Riwayat Al Bukhary, dalam
Sirah Nabawiyah : Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury).
Begitulah
manisnya ukhwah, hanya ukhwah yang mempu mengikat mukmin menjadi saudara hingga
akhir penghujung hidupnya. Ukhwah yang berlandaskan keimanan akan menjadi
dahaga yang menyejukan dalam perjuangan, namun kala dalam persaudaraan hadir
sangkaan atau prasangka kadangkala ini akan menjadi bencana dan malapetaka. “Dan kebanyakan mereka tidak
mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak
sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka kerjakan.” (Q,SYunus 10:36). Sungguh, kemanisan iman yang
kini bertengger dan melekat kuat di dalam hati adalah bentuk cinta. Pertautan
hati yang telah gariskan bahkan telah Allah janjikan ini adalah nikmat. Sungguh
ukhwah dan pertemuan ini manis dan menyejukan hati. Mari tetap kita jaga hingga
nanti kita akan menuai kemenangan-kemenangan yang nyata dan berbuah indah.
Amin.
“dan Yang mempersatukan
hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua
(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati
mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia
Maha Gagah lagi Maha Bijaksana” (Al-Anfal 8:63)
*Tarbawi Edisi 27
Th.3/syawal 1422 H/31 Desember 2001 M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar