Pages

Jumat, 14 November 2014

JANGAN SALAH MEMILIH SOPIR



JANGAN SALAH MEMILIH SOPIR

Secara harfiah dan pengertian, kita akan beranggapan bahwa sopir adalah seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor, dan pada umumnya disematkan pada kendaraan beroda empat atau lebih yang berada di darat, apakah itu mobil, truk, bus dan sejenisnyanya. Singkatnya, sopir adalah seseorang yang kita percayai untuk mengendarai kendaraan yang mana untuk mencapai tujuan yang ingin kita tuju. Ia berperan dalam upaya menunjukan jalan, mengantarkan kita sampai ke tempat tujuan dengan tepat waktu dan selamat. Terkait jalan mana yang ia lalui, ia lebih tahu mana jalan yang tepat, jalan yang benar dan jalan tercepat serta terbaik yang dapat mengantarkan kita, tepatnya ke titik yang kita inginkan, yakni sopirlah yang tahu.
Beberapa hari yang lalu (11/06/14), Formi Madani FE UNP melakukan perjalanan, yakni agenda rihla di akhir semester. Perjalanan men-tadhabur- alam, dengan rute perjalanan Kota Padang-Danau Maninjau-Kota Bukittinggi-Kota Padang Panjang-dan kembali ke Kota Padang. Perjalanan rihla yang sangat menarik dan penuh kesan yang teramat dalam. Perjalanan yang bersamaan dengan agenda Tour de Singkarak (TDS), yang pada akhirnya membuat rute perjalan berubah dan menjadi diluar perencanaa tidak menghilangkan makna ukhwah yang terjalin. Dan tentunya perjalanan ini menggunakan bus, dan memerlukan seorang sopir.
Hikmah terbesar yang akan selalu disyukuri yakni sikap bersyukur, mensyukuri nikmat hidup dan keselamatan yang telah Allah limpah dan hadirkan dalam perjalanan ini. Perjalanan yang kami lalui sungguh tidak biasa. Rute yang cukup berat dan berbahaya, hanya sopir yang benar-benar berpengalaman dan tentunya sudah paham betul akan medan yang kami lalui. Kelok ampek puluah ampek (tikungan 44) yang terkenal cadas dan berbahaya. Salah-salah sedikit saja sopir lalai dan  kehilangan kendali, maka terjun bebaslah bus atau mobil yang ia kendarai dan kami tumpangi. Setiap kelokan yang dilalui memiliki tingkat kesulitan tersendiri, proses mendaki memang tak semudah menurun. Perlu usaha keras untuk bisa sampai puncak, sikap hati-hati dan titik fokus merupakan hal terpenting dalam perjalanan mendaki kelok 44.
Alhamdulillah, kurang lebih 30 menit kami sampai di puncak. Sungguh indah pemandangan danau dari ketinggian tersebut. Terlihat jelas, hamparan danau, dan bukit-bukit yang bersajajar seakan menjadi pagar abadi danau Maninjau. Hamparan air, keremba-keramba ikan yang selingi kabut awan membuat pemandangan Danau Maninjau kian memikat hati, sungguh Maha Besar Allah atas segala ciptaan-Nya.
Demi Allah, ntahlah. Ketika kita mempercayakan perjalanan kita. Yakni tepatnya ikhwan dan akhwat dalam melakukan perjalan rihla, perjalanan menguatkan keimanan dan ukhwah akan berbenturan keras terhadap persoalan mendasar yang acapkali terabaikan bagi kita. Sopir bersama kernek serta stokers yang pada hari itu menjadi pemandu perjalanan rihla, mengantarkan ke tempat tujuan hingga kembali lagi ke tempat asal. Tidak menunaikan kewajibannya sebagai umat Islam. Wallahu Alam. Penulis sama sekali tidak melihat dari mereka shalat, hanya saja sopir bus sempat menitipkan uang kepada penulis untuk tolong dimasukan ke kotak infak/sumbangan masjid Raya Danau Maninjau.
Sungguh, bagaimana mungkin kita mempercayakan perjalanan kita kepada orang yang sama sekali lalai terhadap perintah Allah, lalai terhadap shalatnya. Bagaimana mungkin kita mempercayakan mereka sebagai penunjuk jalan kita sedangkan merak tidak shalat dan menunaikan kewajiban dan janji mereka terhadap Allah. Dan bagaimana mungkin, jika hari itu Allah berikan ujian dan cobaan kepada sang sopir, sebuah kelalai yakni musibah kecelakaan  yang mana pada saat itu kita (ikhawan dan akwat) sedang melakukan perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Allah, merenungi segala ciptaan-Nya.   Sungguh maha besar Allah atas segala cinta dan kasih sayangnya.
Setiap sisi, di kelokan 44 bisa saja menghantarkan kami ke-kematian jika Allah berkehendak. Sedetik saja sopir kehilangan kesadaran dan fokus maka terlemparlah bus yang kami tumpangi ke luar jalur, sedangkan kiri dan kanan kami sudah menunggu jurang yang cadas. Bagaimana mungkin kita mempercayakan perjalanan kita kepada orang yang sama sekali tidak takut kepada Allah?, dan bagaimana mungkin kita dipandu dan meminta tunjukan jalan kepada orang yang sama sekali tidak taat dan patuh terhadap segala perintah Allah swt?
Demikian juga dalam kehidupan kita, kita jangan sampai memilih sopir yang salah dalam menuntun perjalanan kita. Dan Kita jangan sampai salah menujuk dan meminta sopir yang akan memandu perjalanan kita. Jangan sampai atas ketidak siapan, kelalaian dan ketidakfokusan sang sopir tidak mampu menghantarkan kita ke tujuan yang dituju. Bagitu juga bagi ikhwan dan akhwat, banyak hikmah yang dapat dipetik. Anggap saja sopir itu, ketua organisasi, ketua forum, ketua BEM, dosen, suami, istri dan mungkin kedua orangtua. Salah-salah dalam memandu, menuntun dan mengarahkan perjalanan akan membuat kita berakhir pada titik tujuan yang salah. Jika saja salah-salah dalam memilih pasangan, ntahkah suami atau istri. Yang mana ia tidak taat, patuh dan istiqomah terhadap segala hal yang telah Allah gariskan maka bisa saja Allah limpah dan turunkan cobaan dan ujian dalam bahterah keluarganya.
Hati-hati dalam memilih sopir, ntahkah dalam mengarungi bahterah rumah tangga, organisasi, komunitas dan forum. Jika sampai ia lalai terhadap Allah dan ibadahnya, maka merugilah kita sebagai penumpang atau orang-orang yang dipandu dan dituntunnya. Jangan salah memilih sopir, karena ialah yang akan menjadi penunjuk jalan, hingga menghantarkan kita mencapai tempat tujuan dengan selamat. Hati-hatilah
Ardiles UNP
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar