JANGAN SALAH MEMILIH
SOPIR
Secara harfiah dan pengertian, kita akan beranggapan bahwa
sopir adalah seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor, dan pada umumnya
disematkan pada kendaraan beroda empat atau lebih yang berada di darat, apakah
itu mobil, truk, bus dan sejenisnyanya. Singkatnya, sopir adalah seseorang yang
kita percayai untuk mengendarai kendaraan yang mana untuk mencapai tujuan yang
ingin kita tuju. Ia berperan dalam upaya menunjukan jalan, mengantarkan kita
sampai ke tempat tujuan dengan tepat waktu dan selamat. Terkait jalan mana yang
ia lalui, ia lebih tahu mana jalan yang tepat, jalan yang benar dan jalan
tercepat serta terbaik yang dapat mengantarkan kita, tepatnya ke titik yang
kita inginkan, yakni sopirlah yang tahu.
Beberapa hari yang lalu (11/06/14), Formi Madani FE UNP
melakukan perjalanan, yakni agenda rihla di akhir semester. Perjalanan
men-tadhabur- alam, dengan rute perjalanan Kota Padang-Danau Maninjau-Kota
Bukittinggi-Kota Padang Panjang-dan kembali ke Kota Padang. Perjalanan rihla
yang sangat menarik dan penuh kesan yang teramat dalam. Perjalanan yang
bersamaan dengan agenda Tour de Singkarak
(TDS), yang pada akhirnya membuat rute perjalan berubah dan menjadi diluar
perencanaa tidak menghilangkan makna ukhwah yang terjalin. Dan tentunya
perjalanan ini menggunakan bus, dan memerlukan seorang sopir.
Hikmah terbesar yang akan selalu disyukuri yakni sikap
bersyukur, mensyukuri nikmat hidup dan keselamatan yang telah Allah limpah dan
hadirkan dalam perjalanan ini. Perjalanan yang kami lalui sungguh tidak biasa.
Rute yang cukup berat dan berbahaya, hanya sopir yang benar-benar berpengalaman
dan tentunya sudah paham betul akan medan yang kami lalui. Kelok ampek puluah
ampek (tikungan 44) yang terkenal cadas dan berbahaya. Salah-salah sedikit saja
sopir lalai dan kehilangan kendali, maka
terjun bebaslah bus atau mobil yang ia kendarai dan kami tumpangi. Setiap
kelokan yang dilalui memiliki tingkat kesulitan tersendiri, proses mendaki
memang tak semudah menurun. Perlu usaha keras untuk bisa sampai puncak, sikap
hati-hati dan titik fokus merupakan hal terpenting dalam perjalanan mendaki
kelok 44.
Alhamdulillah, kurang lebih 30 menit kami sampai di puncak.
Sungguh indah pemandangan danau dari ketinggian tersebut. Terlihat jelas,
hamparan danau, dan bukit-bukit yang bersajajar seakan menjadi pagar abadi
danau Maninjau. Hamparan air, keremba-keramba ikan yang selingi kabut awan
membuat pemandangan Danau Maninjau kian memikat hati, sungguh Maha Besar Allah
atas segala ciptaan-Nya.
Demi Allah, ntahlah. Ketika kita mempercayakan perjalanan
kita. Yakni tepatnya ikhwan dan akhwat dalam melakukan perjalan rihla, perjalanan
menguatkan keimanan dan ukhwah akan berbenturan keras terhadap persoalan
mendasar yang acapkali terabaikan bagi kita. Sopir bersama kernek serta stokers
yang pada hari itu menjadi pemandu perjalanan rihla, mengantarkan ke tempat
tujuan hingga kembali lagi ke tempat asal. Tidak menunaikan kewajibannya
sebagai umat Islam. Wallahu Alam. Penulis sama sekali tidak melihat dari mereka
shalat, hanya saja sopir bus sempat menitipkan uang kepada penulis untuk tolong
dimasukan ke kotak infak/sumbangan masjid Raya Danau Maninjau.
Sungguh, bagaimana mungkin kita mempercayakan perjalanan kita
kepada orang yang sama sekali lalai terhadap perintah Allah, lalai terhadap
shalatnya. Bagaimana mungkin kita mempercayakan mereka sebagai penunjuk jalan
kita sedangkan merak tidak shalat dan menunaikan kewajiban dan janji mereka
terhadap Allah. Dan bagaimana mungkin, jika hari itu Allah berikan ujian dan
cobaan kepada sang sopir, sebuah kelalai yakni musibah kecelakaan yang mana pada saat itu kita (ikhawan dan
akwat) sedang melakukan perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Allah,
merenungi segala ciptaan-Nya. Sungguh
maha besar Allah atas segala cinta dan kasih sayangnya.
Setiap sisi, di kelokan 44 bisa saja menghantarkan kami
ke-kematian jika Allah berkehendak. Sedetik saja sopir kehilangan kesadaran dan
fokus maka terlemparlah bus yang kami tumpangi ke luar jalur, sedangkan kiri
dan kanan kami sudah menunggu jurang yang cadas. Bagaimana mungkin kita
mempercayakan perjalanan kita kepada orang yang sama sekali tidak takut kepada
Allah?, dan bagaimana mungkin kita dipandu dan meminta tunjukan jalan kepada
orang yang sama sekali tidak taat dan patuh terhadap segala perintah Allah swt?
Demikian juga dalam kehidupan kita, kita jangan sampai
memilih sopir yang salah dalam menuntun perjalanan kita. Dan Kita jangan sampai
salah menujuk dan meminta sopir yang akan memandu perjalanan kita. Jangan
sampai atas ketidak siapan, kelalaian dan ketidakfokusan sang sopir tidak mampu
menghantarkan kita ke tujuan yang dituju. Bagitu juga bagi ikhwan dan akhwat,
banyak hikmah yang dapat dipetik. Anggap saja sopir itu, ketua organisasi,
ketua forum, ketua BEM, dosen, suami, istri dan mungkin kedua orangtua.
Salah-salah dalam memandu, menuntun dan mengarahkan perjalanan akan membuat
kita berakhir pada titik tujuan yang salah. Jika saja salah-salah dalam memilih
pasangan, ntahkah suami atau istri. Yang mana ia tidak taat, patuh dan
istiqomah terhadap segala hal yang telah Allah gariskan maka bisa saja Allah
limpah dan turunkan cobaan dan ujian dalam bahterah keluarganya.
Hati-hati dalam memilih sopir, ntahkah dalam mengarungi
bahterah rumah tangga, organisasi, komunitas dan forum. Jika sampai ia lalai
terhadap Allah dan ibadahnya, maka merugilah kita sebagai penumpang atau
orang-orang yang dipandu dan dituntunnya. Jangan salah memilih sopir, karena
ialah yang akan menjadi penunjuk jalan, hingga menghantarkan kita mencapai
tempat tujuan dengan selamat. Hati-hatilah
Ardiles UNP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar