Pages

Rabu, 19 November 2014

HANYA DAN KARENA ALLAH SEMATA



HANYA DAN KARENA ALLAH SEMATA

Bagaimana jika hari ini Allah berikan kita kedudukan dan kekuasaan yang tinggi, memiliki harta dan kekayaan yang melimpah, dijadikan pemimpin dan petuah dalam segala aspek kehidupan. Bahkan masing-masing dari kita Allah berikan bagiannya masing-masing disetiap sisi untuk menjadi pemimpin? 
Bagaimana jika hari ini Allah berikan kita kemenangan dakwah dalam mengelola negeri ini. Bahkan setiap wilayah dalam negera ini, Allah berikan kepada kita untuk dipimpin?
Bagaimana jika segala kenikmatan dan kekayaan alam semesta ini Allah letakkan diatas genggaman dan di bawah kekuasaan kita?
Lalu bagaimana mungkin 2% orang dari total jumlah penduduk dinegeri ini hampir menguasai sektor usaha dan bisnis? Bahkan mungkin di dunia ini. Dan bagaimana mungkin terjadi kesenjangan yang begitu lebar dari 98% total masyarakat Indonesia, kekayaannya tak lebih besar dari sisanya. Lalu kenapa hal ini terjadi, bahkan tidak hanya di negera tercinta tapi hampir disetiap daratan benua. Apakah kondisi ini adil?
Sungguh, kenapa demikian yang terjadi. Apakah Allah belum berkenan memberikannya kepada kita para pengemban risalah dakwah ini? Ataukah kita memang belum benar-benar siap menerimanya. Ataukah belum tiba waktunya bagi kita mengemban janji Allah. Kita tidak akan pernah lupa dengan kisah Qorun dengan harta kekayaan yang ia miliki. Ketiak ia ditanya akan kenikmatan itu maka ia menjawab enteng "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku." (Az-Zumar : 49). Sungguh sombong dan angkuhnya, betapa ia telah lupa bahwa Sebenarnya itu adalah ujian , tetapi kebanyakan kita itu tidak mengetahui. Kita tidak benar-benar mengetahui yang mana ujian atau  kecintaan Allah kepada kita.
Sepenggal kisah sahabat, yang awalnya tak pernah ketinggalan melaksanakan ibadah shalat berjamaah. Namun karena keadaannya yang miskin, lalu ia meminta didoakan kepada Nabi agar diberikan Allah rezeki berupa harta kepadanya. Nabipun mendoakan sahabat yang awalnya terkanal taat ini. Tapi, sebelumnya Nabi sudah menggingatkan sahabat ini, “jangan-jangan harta akan melalaikan ibadahnya”. Dengan mantap dan yakin ini menjawab “tidak”. Beliau akan lebih taat dan lebih tepat waktu dalam menjalankan ibadah. Beberapa waktu berlalu, sahabat inipun mulai membaik keadaan hidupnya. Namun, beliaupun mulai sering lalai dan terlambat datang shalat berjamaah. Semakin hari hartanya semakin banyak, akan tetapi Nabipun mulai tidak menemukan sahabat ini melaksanakan shalat berjamaah. Beliau terlalu sibuk dengan harta yang ia miliki. Demikianlah kadangkala harta menjadi ujian yang kadangkala melemahkan keimanan kita.
Sungguh, kenapa rintangan, kesulitan bahkan ancaman senantiasa menghadang jalan ini. Kenapa seolah perjuangan ini begitu panjang dan tiada ujungnya?
Bukankah, karena terlalu lamanya berjuang, terlalu letihnya berjuang, bahkan terlalu jenuhnya dengan kondisi yang tiada ubah-ubahnya menanti kemenangan belum juga menampakan titik terangnya, satu-persatu mulai berguguran bahkan beralih jalan lainnya.
Sungguh, demikianlah sunnatullahnya.
 Sungguh, mudah saja bagi Allah memberikannya kepada orang-orang yang Allah kehendaki. “ Wahai Tuhanku yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang-orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke siang dan Engkau masukkan siang ke malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati. Dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” (Surah Ali-Imran : 26-27).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar