HANYA
DAN KARENA ALLAH SEMATA
Bagaimana jika hari ini
Allah berikan kita kedudukan dan kekuasaan yang tinggi, memiliki harta dan
kekayaan yang melimpah, dijadikan pemimpin dan petuah dalam segala aspek
kehidupan. Bahkan masing-masing dari kita Allah berikan bagiannya masing-masing
disetiap sisi untuk menjadi pemimpin?
Bagaimana jika hari ini
Allah berikan kita kemenangan dakwah dalam mengelola negeri ini. Bahkan setiap
wilayah dalam negera ini, Allah berikan kepada kita untuk dipimpin?
Bagaimana jika segala
kenikmatan dan kekayaan alam semesta ini Allah letakkan diatas genggaman dan di
bawah kekuasaan kita?
Lalu bagaimana mungkin
2% orang dari total jumlah penduduk dinegeri ini hampir menguasai sektor usaha
dan bisnis? Bahkan mungkin di dunia ini. Dan bagaimana mungkin terjadi
kesenjangan yang begitu lebar dari 98% total masyarakat Indonesia, kekayaannya
tak lebih besar dari sisanya. Lalu kenapa hal ini terjadi, bahkan tidak hanya
di negera tercinta tapi hampir disetiap daratan benua. Apakah kondisi ini adil?
Sungguh, kenapa
demikian yang terjadi. Apakah Allah belum berkenan memberikannya kepada kita
para pengemban risalah dakwah ini? Ataukah kita memang belum benar-benar siap
menerimanya. Ataukah belum tiba waktunya bagi kita mengemban janji Allah. Kita
tidak akan pernah lupa dengan kisah Qorun dengan harta kekayaan yang ia miliki.
Ketiak ia ditanya akan kenikmatan itu maka ia menjawab enteng "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu
hanyalah karena kepintaranku." (Az-Zumar : 49). Sungguh sombong dan
angkuhnya, betapa ia telah lupa bahwa Sebenarnya itu adalah ujian , tetapi
kebanyakan kita itu tidak mengetahui. Kita tidak benar-benar mengetahui yang
mana ujian atau kecintaan Allah kepada
kita.
Sepenggal
kisah sahabat, yang awalnya tak pernah ketinggalan melaksanakan ibadah shalat
berjamaah. Namun karena keadaannya yang miskin, lalu ia meminta didoakan kepada
Nabi agar diberikan Allah rezeki berupa harta kepadanya. Nabipun mendoakan
sahabat yang awalnya terkanal taat ini. Tapi, sebelumnya Nabi sudah menggingatkan
sahabat ini, “jangan-jangan harta akan
melalaikan ibadahnya”. Dengan mantap dan yakin ini menjawab “tidak”. Beliau akan lebih taat dan
lebih tepat waktu dalam menjalankan ibadah. Beberapa waktu berlalu, sahabat
inipun mulai membaik keadaan hidupnya. Namun, beliaupun mulai sering lalai dan
terlambat datang shalat berjamaah. Semakin hari hartanya semakin banyak, akan
tetapi Nabipun mulai tidak menemukan sahabat ini melaksanakan shalat berjamaah.
Beliau terlalu sibuk dengan harta yang ia miliki. Demikianlah kadangkala harta
menjadi ujian yang kadangkala melemahkan keimanan kita.
Sungguh, kenapa
rintangan, kesulitan bahkan ancaman senantiasa menghadang jalan ini. Kenapa
seolah perjuangan ini begitu panjang dan tiada ujungnya?
Bukankah, karena
terlalu lamanya berjuang, terlalu letihnya berjuang, bahkan terlalu jenuhnya
dengan kondisi yang tiada ubah-ubahnya menanti kemenangan belum juga menampakan
titik terangnya, satu-persatu mulai berguguran bahkan beralih jalan lainnya.
Sungguh, demikianlah
sunnatullahnya.
Sungguh, mudah saja
bagi Allah memberikannya kepada orang-orang yang Allah kehendaki. “ Wahai Tuhanku yang mempunyai kerajaan,
Engkau berikan kerajaan kepada orang-orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke siang dan Engkau
masukkan siang ke malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati. Dan Engkau
keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau
kehendaki tanpa hisab.” (Surah Ali-Imran : 26-27).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar