ILMU, SUDAHKAN MENAMBAH KEIMANAN DAN KEYAKINAN?
ILMU,
SUDAHKAN MENAMBAH KEIMANAN DAN KEYAKINAN?
“Ilmu
padi itu, semakin berisi ia, maka ia akan semakin merunduk”
Demikianlah
pepatah kuno, yang pernah dipelajari dikala masih duduk di Sekolah Dasar.
Pribahasa singkat, namun syarat makna. “kalian
harus ingat, jika nanti kalian sudah jadi orang pintar, hebat dan sukses tidak
boleh sombong. Nah, pakailah ilmu padi. Semakin berisi ia semakin merunduk.
Artinya, kita tidak boleh sombong, walau kita pintar, kita kaya, dan kita
sukses kita tidak boleh sombong.kita harus tetap bersikap…. Rendaaah hatiiii!”
ujar salah satu gur yang demikian menginspirasiku hingga kini.
Setalah,
duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA)
hingga kini Kuliah di salah satu Perguruan Tinggi negeri PTN) semuanya
berbanding terbalik dengan apa yang pernah ku pahami. Pertanyaan menarik,yang
masih terekam jelas dalam ingatan setelah ikut Seminar dan Talkshow Formi
Golden Ways (FGW) Formi Madani FE UNP beberapa waktu yang lalu. “saya heran, demikian banyak dosen-dosen
pintar dan hebat di kampus, bergelas Prof, dan lulusan luar negeri. Demikian
juga mahasiswa yang kuliah di kampus ini (UNP), banyak sekali mahasiswa yang
cepat tamat, 3,5 tahun untuk standar mahasiswa S-1, dengan IPK subhanallah
sangat memuaskan. Tapi, ada hal menarik dari kelompok ini. Demikian cerdasnya
dosen-dosen saya ketika mengajar dikelas, prestasinya begitu luar biasa. Namun,
maaf saya sama sekali tidak pernah bertambah taat dan yakin kepada Allah. Malah
kadang sumpah serapah, cacian dan makian yang keluar dari salah satu dosen menyakini
saya bahwa ilmu yang beliau miliki juga tidak membuatnya semakin beriman dan
taat kepada Allah. Sedangkan mahasiswa yang saya sampaikan tadi, selama
dikampus kontribusi meraka tidak begitu dirasakan oleh civitas kampus.
Sederhananya saya merasa mereka tidak pernah ada. Mereka hanya sibuk dengan
diri mereka sendiri, yang ada didalam pikiran bagaimanapun caranya harus cepat
tamat. Hal-hal dan aktivitas lain yang bisa mengganggu target cepat tamat biasa
mereka hindari. Demikiankah sikap orang-orang ber- ilmu?” Hanya untuk diri
pribadi saja kita perolah dan tidak memperdulikan orang lainnya?” ucap salah
satu perserta dari fakultas Teknik yang kala itu bertanya.
Pertanyaan
ini, menarik untuk direnungi. Bukankah seharusnya orang yang beriman itu, akan
banyak beramal, banyak bekerja, banyak berbuat dan banyak menebar manfaat bagi
yang lainnya. Karena orang-orang yang beriman kepada Allah, dan hari pembalasan
yakin akan menui pahala atas setiap tindak dan perbuatan baik yang mendatang
manfaat bagi yang lainnya. Namun, berbeda halnya, dengan orang yang memiliki
banyak ilmu tapi hanya untuk keuntungan dirinya sendiri. Bukankah Allah telah
berjanji, orang-orang yang pergi menuntut
ilmu, akan ditinggikan satu derajat atas yang lainnya.
Fenomena
yang terjadi, malah berbanding terbalik dengan janji Allah swt. Banyak
orang-orang yang dilebihkan dalam ilmu dan dimudahkan dalam menuntut ilmu,
menjadi angkuh, bahkan sombong atas kenikmatan yang Allah anugrahkan kepadanya.
Merendahkan yang tidak berilmu atau bodoh, mencaci maki yang lainnya dan
mencari-cari kelemahan saudaranya. Dan yang tak kalah hebatnya, tak sedikit
yang demikian bangga dengan ilmunya sehingga saling membandingk-bandingkan ilmu
yang ia punya dengan yang lain. Bahkan, jika ada saja, nampak celah dan
kesalahan salah dari meraka akan berusaha menjatuhkan dan mempermalukan yang
lainnya. Demikianlah yang kini tangah hingar bingar marak di negeri ini. Sikap
sombong dan bangga dengan ilmu tidak hanya merabak di ranah pendidikan, namun
mulai menebar bak virus ke segala aspek-aspek yang lainnya. Bahkan tak jarang
kita dengar dan lihat para penjabat dinegeri ini saling menyerang lawannya
dengan kelebihan ilmu yang ia miliki. Jika tujuannya untuk menesahati lain
halnya, namun kecenderungan yang nampak malah saling kritik untuk
menggunggulkan kelebihan dan memuculkan kekurangan masing-masing.
Jadi
kini, dimana Ilmu padi itu, semakin
berisi ia, maka ia akan semakin merunduk. dimana letak pemahaman hidup yang
diajarkan sejak duduk dibangku SD. Ilmu yang dimiliki tidak membawa ketenangan
jiwa, tidak pula menambah keimanan dan keyakinan tentulah ada yang salah dalam
memperolehnya. Maka jauh-jauh hari : Ibnu
Qudamah pernah meriwayatkan, bahwaa Dzulkarnain pernah bertemu dengan salah
satu malaikat. Lalu dia berkata : “ajarkan kepadaku suatu ilmu agar dapat
menambah iman dan keyakinanku.” Malaikat lalu menjawab ; pertama, janganlah
engkau suka marah, karena syetan itu lebih mudah mengusai diri anak Adam tatkala sedang marah.
Kedua, usirah amarahmu dengan menahan diri dan dinginkan ia secara pelan-pelan.
Ketiga, janganlah engkau tergesa-gesa sebab jika engkau tergesa-gesa engkau
akan salah menempatkan diri. Keempat, jadilah engkau orang yang luwes dan lemah
lembut kepada orang yanh jauh. Kelima, janganlah engkau menjadi orang yang
keras lagi suka membangkan. (Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin).
Astaghfirullah,
Astaghfirullah, Astaghfirullah, semoga
kita tidak menjadi angkuh dan sombong atas ilmu yang kini ada di diri kita.
Mudah-mudahan ilmu yang kini ada di dalam hati dan bernaung di dalam kalbu
menjadi cahaya yang mampu menerangi perjalanan kita menuju Rabb dan Jannah-Nya.
Amin.
Semoga Allah swt,
memberkahi ilmu yang ada pada diri kita, sekecil apapun ilmu itu. Jika semuanya
diniatkan atas Allah dan Rasul-nya, mudah-mudahan akan menambah keimanan dan
keyakinan. In Shaa Allah
Oleh : Ardiles,
Akuntansi UNP 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar