setting

My Story : ARDILES: JANJI KEPADA ALLAH SWT

JANJI KEPADA ALLAH SWT



JANJI KEPADA ALLAH SWT

Salah satu ciri orang munafik, bila berjanji ia mengingkari. Demi Allah, betapa sering kita berjanji dalam kehidupan kita. Ntah sudah berapa banyak janji yang telah kita lupakan bahkan ingkari. Kala iman terpatri dihati, kita berjanji untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan benar-benar ingin menjadi hamba yang taat menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan Allah swt. Namun semakin kuat kita untuk berubah, maka semakin kuat pula cobaan dan godaan yang datang menghampiri kita. Bahkan tak sedikit yang terpedaya rayuan setan dan akhirnya kita lupa akan janji-janji yang telah kita putuskan akan Allah, dan kita lupa akan janji-janji Allah swt akan kemulian dan rahmat-Nya.
“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu." Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Q.Surah Ibrahim :22). Sungguh, betapa banyak janji kita kepada Allah yang terlupakan dan betapa banyak janji yang kita ingkari. Demikian juga diri ini, berjanji I memperbaiki diri, menjauhi segala keburukan yang Allah larang, dan menjalankan segala perintah Allah seringkali terabaikan dan terlalaikan. Berjanji teguh berdakwah, kadang diri merasa lemah dan putus asa. Berjanji setia untuk bertahan dan menebarkan kebaikan islam namun kadang diri futur atau malas dan tak jarang menunda-nundanya. Berjanji bersama mengusung dakwah namun kadang ada-ada saja yang merasa jenuh  lalu mundur dan gugur ditengah perjalanan.
Janji menjadi sesuatu yang murah, jika kita temui di tengah-tengah kehidupan. Tak khayal jika dapati janji yang selalu disertai kata “in shaa Allah” di akhirnya. Kata “In Shaa Allah” seolah menjadi tameng atau alasan bagi kita jika tak mampu memenuhinya. Lihat saja, apabila ada rapat atau agenda sejenisnya dilingkungan dakwah, PJ telah ditentukan, pembagian kerja telah dibagi masing-masingnya, lalu waktu dan hari persiapan dan pelaksanaan telah disepakati. Spontan semua meneriakan takbir “Allahu Akbar” ketika ditanya semua siap menjalan dan mensukseskan acara kita. “In Shaa Alla” siap. Namun, apabila kegiatan telah berjalan, lalu ada kelalai, keterlambatan, kekurangan bahkan mungkin kesalahan. Semua mulai mencari alasan terbaiknya, dengan alasan dan retorika menyakinkan. Jarang sekali mau mengakui kekurangan dan kelemahan. Maka tak heran jika hari ini, title MBA (Memiliki Banyak Alasan) di sematkan di diri Aktivis Dakwah Kampus. Sebagai Aktivis yang mengusung dan melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul sudah sepatutnya kita menepati janji-janji yang telah kita ucap dan tetapkan bahkan tuliskan.
Hari ini, kita mulai meng-upgrade dan meng-install ulang niat dan diri kita. Kembali merenung dan mengingat-ingat kembali antara janji kita kepada Allah, dan janji Allah untuk kita. Jika hari tantangan dakwah kampus sudah luar biasa. Maka, tentu saja gelombang dan terpaan dakwah pasca kampus jauh lebih berat, bahkan mungkin lebih luar biasa halangan, cobaan, rintangan bahkan fitnah yang akan datang dan dituduhkan.
Jika hari ini, kita berada digaris pertama dakwah kampus, Start. Dimana posisi kita baru tersadar, menjadi penonton dan baru akan memulai langkah juang dan pergerakan dakwah generasi pertengahan. Maka kita harus memenuhi fikrah kita dengan konsep ke-islaman, sejarah kebudayaan islam dan segala hal yang menguatkan iman dan pemahaman kita sebelum berada dalam lini-lini teknis.
Jika hari ini, kita berada pada titik pertengahan dakwah, di mana posisi kita berada sebagai manajer menengah, yang berperan dalam menggagas ide-ide pergerakan, menciptakan program-program kreatif, memperbaiki dan melanjutkan proses manajamen organisasi dari generasi sebelumnya serta berperan dalam upaya mengeksekusi semua rencana strategis yang direkomendasikan dan sudah disepakati secara bersama.
Jika hari ini, kita berada pada garis terakhir yakni dimana kita sudah berada diujung garis, Finish. Dimana kita telah berada di penghujung tahun-tahun akhir di dunia kampus. Yang hari ini mungkin berperan sebagai Top Manajamen, yang menghasilkan kebijikan, merumuskan strategi, memantau bahkan mengevaluasi setiap langkah, arah dan pergerakan dakwah kampus.
Sungguh, apapun peran kita hari ini. Kita tentu pasti punya niat dan janji di dalam hati dan diri masing-masing. Dan yang tahu apa niat dan janji itu hanya kita dan Allah saja. Sehingga posisi apapun yang kita pegang bahkan diamanahkan kepada kita hari ini, kita patut menjaga dan menunaikannya dengan baik. Tentunya di dalam amanah dan tanggungjawab yang diletakan dipundak kita,terdapat harapan banyak orang. Maka sudah seharusnya kita menunaikan janji-janji yang kita ucapkan kala kita dilantik secara sungguh-sungguh. Sungguh Allah akan menagih janji yang kita ucapkan, apakah kita amanah atau ingkar terhadap janji yang kita ucapkan Allah yang akan menganjarnya.  “sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Q. Surah Ali-Imran : 76)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai