Pages

Selasa, 11 November 2014

KESABARAN DALAM KEIMANAN



 KESABARAN DALAM KEIMANAN

"Hai sekalian orang yang beriman, bersabarlah dan cukupkanlah kesabaran itu." (Q.S Ali-lmran 3: 200)”
Hakikat sabar adalah bertahan dan bertawakal. Kita bertahan atas segala hal yang datang kepada kita, apakah itu ujian, cobaan, dan masalah yang hadir menuai kehidupan kita. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( Q.S Al-Baqarah 2:155)”. Sesungguhnya sabar itu tidak ada batasnya. Tidaklah dapat dikatakan sabar, jika kita belum mampu menahan segala hal yang menerpa jiwa, menghantam diri dan keimanan kita. Betapa banyak orang-orang yang lepas kendali lalu berputus asa atas cobaan dan ujian yang datang menimpanya, dan betapa banyak pula yang kehilangan kemulian yang telah Allah janjikan, karena tidak mampu bersabar. Dan sungguh hanya orang-orang yang bertakwalah yang mampu bersabar dalam setiap pergolakan hidup yang menimpanya.
Tawakal jadi kunci utama dalam memelihara kesabaran dalam diri, yakni, dimana kita hanya beserah diri kepada Allah, dan mengembalikan segala sesuatunya hanya kepada Allah swt. Sesungguhnya orang-orang yang sabar, adalah orang-orang percaya dengan janji Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang sabar, ialah yang memiliki hati yang teguh. “Orang yang bersabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu niscayalah termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang teguh (Q.S As-Syura: 43)”.
Sungguh tidaklah mudah menjadi pribadi yang sabar, karena ujian kesabaran acapkali menyentuh titik terlemah di diri kita. Maka bila cobaan dan ujian itu datang, hanya sabar dan shalatlah yang mampu menolong kita, sebagai mana  firman Allah swt “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', ( Q.S Al –Baqarah 2:45)”. Namun, dengan tegas juga Allah swt menekankan, bahwa untuk menjadi sabar itu tidaklah mudah, dan teramat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Satu sisi, Allah ingin menegaskan pula, bahwa posisi sabar sama dengan shalat. Dan sungguh, hal ini menerangkan pula pada kita. Bagaimana mungkin orang-orang yang meninggalkan shalat ia mampu bersabar dan tegar dalam menghadapi cobaan dan ujian?
Jika sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian merupakan, berada pada tingkatan terendah, maka puncak tertinggi dari bentuk kesabaran ialah, dimana kita mampu bersabar dalam keimanan atau ketaatan kepada Allah. Sebagaimana ciri-ciri orang yang bersabar Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Q.S Ar-Ra’d 13 :22)”. Demikianlah sebagian ciri orang yang bersabar.
Menoleh sejerah peradaban Islam di mulai, pergerakan dakwah mulai diusung. Akan banyak kita temuia ujian keimanan yang dihadapkan kepada generasi para sahabat. Kita tidak akan pernah lupa bagaimana kisah keluarga penduduk surga,  Amar bin Yasir. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda : “Sabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah surga!”.  Keluarga Yasir, merupakan bagian  dari generasi pertama yang memeluk Islam, dan mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman kafir Quraisy. Sungguh ujian keimanan yang menerpa keluarga Yasir, Sumayyah dan 'Ammar memperoleh balasan yang besar dari Allah. Kekejiam dan kekejaman Bani Makhzum sungguh diluar batas, hingga pada akhirnya Yasir dan Sumayyah yakni Ayah dan Ibu Ammar.
Seandainya, keluarga Yasir menyerah atas cobaan dan ujian yang mempertaruhkan keimanan mereka kapada Allah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar