KESABARAN DALAM KEIMANAN
"Hai sekalian orang yang beriman, bersabarlah dan cukupkanlah
kesabaran itu." (Q.S
Ali-lmran 3: 200)”
Hakikat
sabar adalah bertahan dan bertawakal. Kita bertahan atas segala hal yang datang
kepada kita, apakah itu ujian, cobaan, dan masalah yang hadir menuai kehidupan
kita. “Dan sungguh akan Kami berikan
cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
( Q.S Al-Baqarah 2:155)”. Sesungguhnya sabar itu tidak ada batasnya.
Tidaklah dapat dikatakan sabar, jika kita belum mampu menahan segala hal yang
menerpa jiwa, menghantam diri dan keimanan kita. Betapa banyak orang-orang yang
lepas kendali lalu berputus asa atas cobaan dan ujian yang datang menimpanya,
dan betapa banyak pula yang kehilangan kemulian yang telah Allah janjikan,
karena tidak mampu bersabar. Dan sungguh hanya orang-orang yang bertakwalah
yang mampu bersabar dalam setiap pergolakan hidup yang menimpanya.
Tawakal
jadi kunci utama dalam memelihara kesabaran dalam diri, yakni, dimana kita
hanya beserah diri kepada Allah, dan mengembalikan segala sesuatunya hanya
kepada Allah swt. Sesungguhnya orang-orang yang sabar, adalah orang-orang
percaya dengan janji Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang sabar, ialah yang
memiliki hati yang teguh. “Orang yang
bersabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu niscayalah
termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang teguh (Q.S As-Syura: 43)”.
Sungguh
tidaklah mudah menjadi pribadi yang sabar, karena ujian kesabaran acapkali
menyentuh titik terlemah di diri kita. Maka bila cobaan dan ujian itu datang,
hanya sabar dan shalatlah yang mampu menolong kita, sebagai mana firman Allah swt “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', ( Q.S Al
–Baqarah 2:45)”. Namun, dengan tegas juga Allah swt menekankan, bahwa untuk
menjadi sabar itu tidaklah mudah, dan teramat berat kecuali bagi orang-orang
yang khusyu’. Satu sisi, Allah ingin menegaskan pula, bahwa posisi sabar sama
dengan shalat. Dan sungguh, hal ini menerangkan pula pada kita. Bagaimana
mungkin orang-orang yang meninggalkan shalat ia mampu bersabar dan tegar dalam
menghadapi cobaan dan ujian?
Jika
sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian merupakan, berada pada tingkatan
terendah, maka puncak tertinggi dari bentuk kesabaran ialah, dimana kita mampu
bersabar dalam keimanan atau ketaatan kepada Allah. Sebagaimana ciri-ciri orang
yang bersabar Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya,
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada
mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan
kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Q.S
Ar-Ra’d 13 :22)”. Demikianlah sebagian ciri orang yang bersabar.
Menoleh
sejerah peradaban Islam di mulai, pergerakan dakwah mulai diusung. Akan banyak
kita temuia ujian keimanan yang dihadapkan kepada generasi para sahabat. Kita
tidak akan pernah lupa bagaimana kisah keluarga penduduk surga, Amar bin Yasir. Sebagaimana Rasulullah pernah
bersabda : “Sabar wahai keluarga Yasir,
tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah surga!”. Keluarga Yasir, merupakan bagian dari generasi pertama yang memeluk Islam, dan
mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman kafir Quraisy. Sungguh ujian
keimanan yang menerpa keluarga Yasir, Sumayyah dan
'Ammar memperoleh balasan yang besar dari Allah. Kekejiam dan kekejaman Bani
Makhzum sungguh diluar batas, hingga pada akhirnya Yasir dan Sumayyah yakni
Ayah dan Ibu Ammar.
Seandainya,
keluarga Yasir menyerah atas cobaan dan ujian yang mempertaruhkan keimanan
mereka kapada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar