Pages

Senin, 10 November 2014

KETIKA LIDAH MELUKAI HATI




KETIKA LIDAH MELUKAI HATI

Dari Sahl bin Sa'ad as Saidi, dia berkata:  "Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang rahangnya (lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin surga baginya."(HR. Bukhari).

Setiap kata bisa saja hadir memberi warna, setiap kata bisa saja menggores luka bagi siapapun yang mendengarkannya. Sungguh, tiada satu patah katapun yang kita ucap luput dari pendengaran  Allah swt. Setiap kata yang keluar dari lisan (lidah) kadang bisa berbahaya, kata-kata yang hadir dan meluncur darinya bisa saja membuat hati terluka, gembira ataupun bersenandung ria. Namun kala lidah menjadi pedang yang menggores luka dihati akan terasa jauh lebih menyakitkan, tak lah mudah menyembuhkannya dan tak lah mudah mengobati luka yang tersembunyi. Kata-kata yang telah terucap dan keluar lalu tergetar dari kedua bibir kita, tak akan dapat kita tarik kembali. Maka kala kita berbicara dengan siapapun, berhati-hatilah menjaga lisan jangan sampai menyakiti hatinya. Jangan sampai yang terujar dari mulut kita menjadi kesia-siaan dan petaka bagi kita.
Sesungguhnya, berkata sia-sia itu membuang waktu sedangkan berpikir membuka pintu hikmah. Maka, alangkah beruntungnya orang yang kuasa menahan lisannya (lidah) dan menggantinya dengan berdzikir dan selalu senantiasa berpikir. Berkata sia-sia mengundang bala, berdzikir kepada Allah mengundang rakhmat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma'ruf dan nahi munkar serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla (HR. Turmudzi)”.
Betapa banyak orang-orang yang kita temui disekeliling kita, mungkin saja termaksud diri kita, keluarga kita ataupun sahabat kita. Kita seringkali berucap ataupun bercanda dengan berlebihan, padahal apa yang diucapkan tidak memberi manfaat apapun bagi kita dan juga orang-orang yang ada disekeliling kita, semuanya hanya kesia-siaan.  "Amat sangat beruntung, bahagia, sukses, orang yang khusu' dalam sholatnya, dan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia." (QS Al Mu'minun: 1- 3)”.
Bahkan dalam suatu kesempatan, Rasulullah bersabda : " Barangsiapa memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Maka barangsiapa jatuh dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah tempatnya (HR. Abu Hatim)”. Ucapan yang sia-sia dan tidak pada tempatnya, bisa saja melukai hati. Kata-kata yang kita ucapkan bisa saja membuat orang-orang disekitar kita merasa sedih dan tersakiti.
“Maka, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari Muslim)”.  Diam jauh lebih baik, daripada kita berbicara namun melukai perasaan orang lain. Sungguh, lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka. Rasulullah bersabda : "Kebanyakan yang memasukkan ke neraka adalah dua lobang, yaitu : mulut dan fardji (kemaluan) (HR Turmudji dan Imam Ahmad)”. Sedangkan Imam Hasan berkata bahwa, "Tidak akan berarti agama seseorang bagi orang yang tidak menjaga lisannya" : bahwa melanjutkan, Beliau "Baiknya Islam seseorang adalah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya".
Sebagai seorang aktivis, ntahkan aktivis dakwah ataupun organisasi dikampus, di masyarakat dan dimanapun kita berada, kita harus senantiasa menjaga lisan atau lidah kita. Sebab, satu kata yang meluncur darinya, bisa saja membawa ke surga atau neraka. Setiap kata yang melukai hati seorang hamba Allah, maka Allah tak akan ridha atasnya. “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt ridha kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah swt naikkan derajatnya beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat Allah swt murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya, namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka Jahannam’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari  dan Muslim)”.
Demi Allah, sungguh sudah berapa sering kita membuat saudara bahkan saudari kita terluka atas ucapan kita, seberapa sering lisan kita menggores luka dihati orang-orang yang ada disekeliling kita hanya kita dan Allah saja yang tahu. Satu sisi, lisan bisa membuat orang-orang disekitar kita menjadi senang dan berbahagia. Namun, sungguh disayangkan jika ternyata daging tak bertulang ini (lidah), dapat menentukan apakah seseorang bisa mendapatkan surga atau neraka. Satu kata yang terucap sudah pasti dicatat oleh salah satu dari dua malaikat “Raqib dan Atid”. Allah SWT berfirman: “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18). Bahkan dalam setiap kesempatan kita bisa beramal dan berbakti kepada kedua orangtua dengan senantiasa berkata lemah lembut dan penuh kasih kepada keduanya, dan terkadang ucapan yang baik dan benar dapat menghantarkan kita ke surga.  Sungguh, ini menunjukkan betapa lisan itu merupakan nikmat dan karuniah yang besar telah Allah berikan kepada kita.
Maka, jika malam telah berlalu. Tubuh telah mulai lelah senantiasa kita akhir hari-hari yang kita lalui dengan merenungi setiap kata atau lisan (lidah) yang mungkin saja melukai hati orang-orang disekitar kita. Jika hati telah terluka, ia tak akan pernah nampak dan berbekas. Sewajarnya, Pastikan setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita itu full manfaat. Rasulullah bersabda, "Diantara tanda kebaikan akhlak manusia muslim adalah meninggalkan apa yang tidak perlu (HR. Turmudji)”. Jadi siapa yang telah terluka oleh lisan (lidah) kita hari ini?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar