KETIKA LIDAH
MELUKAI HATI
Dari Sahl bin
Sa'ad as Saidi, dia berkata:
"Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang rahangnya
(lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin
surga baginya."(HR. Bukhari).
Setiap kata bisa saja hadir
memberi warna, setiap kata bisa saja menggores luka bagi siapapun yang
mendengarkannya. Sungguh, tiada satu patah katapun yang kita ucap luput dari
pendengaran Allah swt. Setiap kata yang
keluar dari lisan (lidah) kadang bisa berbahaya, kata-kata yang hadir dan
meluncur darinya bisa saja membuat hati terluka, gembira ataupun bersenandung
ria. Namun kala lidah menjadi pedang yang menggores luka dihati akan terasa
jauh lebih menyakitkan, tak lah mudah menyembuhkannya dan tak lah mudah
mengobati luka yang tersembunyi. Kata-kata yang telah terucap dan keluar lalu
tergetar dari kedua bibir kita, tak akan dapat kita tarik kembali. Maka kala
kita berbicara dengan siapapun, berhati-hatilah menjaga lisan jangan sampai
menyakiti hatinya. Jangan sampai yang terujar dari mulut kita menjadi
kesia-siaan dan petaka bagi kita.
Sesungguhnya, berkata sia-sia itu
membuang waktu sedangkan berpikir membuka pintu hikmah. Maka, alangkah
beruntungnya orang yang kuasa menahan lisannya (lidah) dan menggantinya dengan
berdzikir dan selalu senantiasa berpikir. Berkata sia-sia mengundang bala,
berdzikir kepada Allah mengundang rakhmat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Setiap ucapan Bani Adam itu
membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar
ma'ruf dan nahi munkar serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla (HR.
Turmudzi)”.
Betapa banyak orang-orang yang
kita temui disekeliling kita, mungkin saja termaksud diri kita, keluarga kita
ataupun sahabat kita. Kita seringkali berucap ataupun bercanda dengan
berlebihan, padahal apa yang diucapkan tidak memberi manfaat apapun bagi kita
dan juga orang-orang yang ada disekeliling kita, semuanya hanya kesia-siaan. "Amat
sangat beruntung, bahagia, sukses, orang yang khusu' dalam sholatnya, dan orang
yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri dari perbuatan dan perkataan
sia-sia." (QS Al Mu'minun: 1- 3)”.
Bahkan dalam suatu kesempatan, Rasulullah
bersabda : " Barangsiapa
memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Maka barangsiapa jatuh
dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah
tempatnya (HR. Abu Hatim)”. Ucapan yang sia-sia dan tidak pada tempatnya,
bisa saja melukai hati. Kata-kata yang kita ucapkan bisa saja membuat
orang-orang disekitar kita merasa sedih dan tersakiti.
“Maka, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah
ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari Muslim)”. Diam jauh lebih
baik, daripada kita berbicara namun melukai perasaan orang lain. Sungguh,
lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka. Rasulullah bersabda : "Kebanyakan yang memasukkan ke neraka
adalah dua lobang, yaitu : mulut dan fardji (kemaluan) (HR Turmudji dan Imam
Ahmad)”. Sedangkan Imam Hasan berkata bahwa, "Tidak akan berarti agama seseorang bagi orang yang tidak menjaga
lisannya" : bahwa melanjutkan, Beliau "Baiknya Islam seseorang adalah dengan meninggalkan sesuatu yang
tidak bermanfaat baginya".
Sebagai seorang aktivis, ntahkan
aktivis dakwah ataupun organisasi dikampus, di masyarakat dan dimanapun kita
berada, kita harus senantiasa menjaga lisan atau lidah kita. Sebab, satu kata
yang meluncur darinya, bisa saja membawa ke surga atau neraka. Setiap kata yang
melukai hati seorang hamba Allah, maka Allah tak akan ridha atasnya. “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau
bersabda, ‘Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang membuat
Allah swt ridha kepadanya, sang hamba sendiri sama sekali tidak
memperhitungkannya, namun dengan satu kata itu, Allah swt naikkan derajatnya
beberapa derajat, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata
yang membuat Allah swt murka, sang hamba sendiri tidak memperhitungkannya,
namun gara-gara satu kata tersebut, sang hamba terperosok ke dalam neraka
Jahannam’,” (Muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari
dan Muslim)”.
Demi Allah, sungguh sudah berapa
sering kita membuat saudara bahkan saudari kita terluka atas ucapan kita,
seberapa sering lisan kita menggores luka dihati orang-orang yang ada disekeliling
kita hanya kita dan Allah saja yang tahu. Satu sisi, lisan bisa membuat
orang-orang disekitar kita menjadi senang dan berbahagia. Namun, sungguh disayangkan jika ternyata daging tak
bertulang ini (lidah), dapat menentukan apakah seseorang bisa mendapatkan surga
atau neraka. Satu kata yang terucap sudah pasti dicatat oleh salah satu dari
dua malaikat “Raqib dan Atid”. Allah SWT berfirman: “Tiada satu ucapanpun
yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir” (QS. Qaaf: 18). Bahkan dalam setiap kesempatan kita bisa beramal dan
berbakti kepada kedua orangtua dengan senantiasa berkata lemah lembut dan penuh
kasih kepada keduanya, dan terkadang ucapan yang baik dan benar dapat
menghantarkan kita ke surga. Sungguh,
ini menunjukkan betapa lisan itu merupakan
nikmat dan karuniah yang besar telah Allah berikan kepada kita.
Maka, jika malam telah berlalu.
Tubuh telah mulai lelah senantiasa kita akhir hari-hari yang kita lalui dengan
merenungi setiap kata atau lisan (lidah) yang mungkin saja melukai hati
orang-orang disekitar kita. Jika hati telah terluka, ia tak akan pernah nampak
dan berbekas. Sewajarnya, Pastikan setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita
itu full manfaat. Rasulullah bersabda, "Diantara
tanda kebaikan akhlak manusia muslim adalah meninggalkan apa yang tidak perlu
(HR. Turmudji)”. Jadi siapa yang telah terluka oleh lisan (lidah) kita hari
ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar