MEMILIH : ANTARA DUNIA ATAU BERTEMU
ALLAH
By.
Ardiles
Isyarat kebenaran telah
datang kepangkuan beliau, beban dan cobaan beliau pangku dengan kokoh dan
teguhnya seorang diri. Perintahpun harus dijalankan, dengan keyakinan,
kesabaran dan janji Allah beliau kukuhkan langkah menentang kejahiliyaan.
Perlahan-lahan,
hari-haripun di lalui dengan ujian dan rintangan yang berat. Namun, tibalah
waktunya isyarat kemenangan itu datang. Beliau kembali membawa senyuman
memasuki kota kelahiran yang sungguh dicinta, beliau kembali dengan gagah dan
penuh sorak Takbir yang menggepita di tanah mekkah, sebelumnya beliau pergi meninggalkannya
(hijrah) dengan mengendap-endap.
Bertahun sudah
perjuangan yang dilalui, lengkap sudah risalah dakwah yang beliau emban. Telah disempurnahkan kisah perjalanan beliau.
“……pada hari ini telah aku sempurnakan
agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmat-ku bagimu, dan telah aku ridhai
Islam sebagai agamamu….” (Q.s Al-Maidah :3)
Inilah isyarat yang
telah Allah sampaikan kepada Rasul-Nya. Sungguh siapapun bisa memilih ketika
isyarat (hikmah atau petunjuk) itu
datang, kita bisa memilih taat ataupun tetap ingkar atas cahaya iman yang telah
Allah berikan. Begitupun Rasulullah saw, beliau bisa memilih menjalankan
perintah atau meninggalkan perintah yang telah Allah geriskan. Begitu banyak
pilihan yang hadir dan dihadapkan kepada Rasulullah. Namun beliau tetap memilih
teguh dan bersabar menunai isyarat risalah dakwah bagi umat manusia.
Sungguh, suatu kisah pertikaian hati sang pemilik
kebesaran jiwa.
Kota Madinah, di pagi
yang masih sangat buta. Butir-butir pasir saling merapat kedinginan. Langit Nampak
hitam. Tanda malam masih menyisahkan banyak potongan gelapnya. Suasana hening,
nyaris tanpa suara. Rasulullah saw memasuki pagi itu dengan badan yang panas.
Nampaknya, manusia mulia pilihan Allah itu sedang terserang demam.
Bunda Aisyah, isteri
Rasulullah juga sedang sakit kepala “aduhai kepalaku,” guman Bunda Aisyah.
Seketika Rasulullahpun menyahut lembut, “justru kepalaku, wahai Aisyah”. Lalu,
Rasulullah menambahkan, “wahai Aisyah, tak usah risau bila engkau meninggal
lebih dulu. Bukannya ada aku yang akan menggurusi, mengkafani, menyolatkan dan
mengubur engkau?”
Seketika juga Bunda
Aisyah menimpali ucap Rasulullah, “tapi, setelah selesai, engkau akan pulang ke
rumahku untuk bermalam bersama-sama istri engkau yang lain. “Rasulullah
tersenyum mendengar jawaban isterinya, Bunda Aisyah.
Sungguh, itulah isyarat
kematian yang ingin disampaikan. Sungguh lemah lembut pesan yang ingin
Rasulullah sampaikan kepada Bunda Aisyah. Siapa yang menyangka, bahkan pada
akhirnya baru disadari oleh Istri
Rasulullah, bahwa itu isyarat perpisahan yang tak lama lagi akan datang dan
menjelang. Hanya saja Rasulullah menyampaikannya dengan penuh kelembutan, agar
kelimat perpisahan itu terasa akrab ditelinga sang istri, agar perlahan ketika
waktunya telah tiba kata-kata itu tak begitu menyayat hati.
Beberapa malam
sebelumnya Rasulullah pergi ke Baqi’, tempat dimana para sahabat yang syahid
dimakamkan. Untuk terakhir kalinnya beliau ke sana, karena beliau tahu tak ada
waktu untuk kembali ke sana, bahkan untuk sekedar mengucap salam saja. Sungguh
hasrat kerinduan itu ada, bahkan tak luput dari jiwa Rasulullah. Kerinduan
perjumpaan abadi bagitu dinanti Rasulullah, kerinduan akan para sahabat yang
telah mengukuhkan jiwanya, kerinduaan akan jiwa-jiwa yang ikut serta
membantunya, kerinduan akan jiwa-jiwa yang kini hidup tenang dalan sisi
Rabb-Nya, kerinduan akan para pejuang agama Allah yang teramat mencintai
dirinya (Rasul) daripada dirinya sendiri.
Sungguh, di sanalah
(baqi’) Rasulullah memohonkan ampun kepada Allah untuk para syuhada’.
Rasulullah pergi ke sana bersama Abu Muwaihibah. Dalam perjalanan pulang
Rasulullah berkisah, “wahai Abu Muwaihibah, telah didatangkan kepadaku
kunci-kunci kekayaan dunia untuk tinggal di dalamnya, lalu ke surga. Aku
disuruh memilih antara di dunia, atau bertemu dengan Allah dan surga”.
Seketika, tanpa
berpikir panjang Abu Muwaihibah menyahut, “Pilihlah tinggal di dunia dengan
segala kunci-kunci kekayaannya, baru sesudah itu ke surga”. Mendengar ucapan
sahabatnya, tetap dengan kesejukan jiwa, senyum dan sikap lemah lembut
Rasulullah menjawab, “tidak, wahai Abu Muaihibah. Aku telah memilih bertemu
dengan Allah dan surga”.
Selanjutnya, sakit
Rasulullah semakin Parah. Ini kemudian manjadi awal dari hari-hari belasungkawa
yang sangat menguncangkan. Tiga belas hari kemudian, laki-laki yang hadir
layaknya penebar cahaya, laki-laki sang penggenggam hujan ditengah gemuruh
gersangnya hamparan pasir telah pulang dengan pilihannya, berjumpa Rabb-Nya
Allah swt.
Dalam hidup kita selalu
dihadapkan dengan pilihan, begitupun dengan Rasulullah saw. Seandainya
Rasulullah berdoa dan memohon kepada Allah swt untuk hidup lebih lama lagi.
Tentu Allah akan mengambulkan doa Nabi. Hanya saja, Rasulullah lebih memilih
untuk segera bertemu dengan Allah, berkumpul dengan para sahabat-sahabat yang
telah terlebih dahulu pergi dan mengapai surge yang Allah janjikan. Demikian
juga dengan kita yang bukan siapa-siapa, hanya makhluk biasa-biasa dengan
tingkat keimanan serta ketakwaan yang juga pas-pasan. Namun, kita Allah berikan
kesempatan untuk menentukan pilihan kita sendiri.
Apakah kita juah lebih
memilih kehidupan dan kenikmatan dunia atau kita memilih berjumpa dengan Allah
dan berkumpul bersama Rasulullah serta sahabatnya?
Hanya masing-masing
dari kita yang mampu menjawab dan membuktikannya.
(Kisah di atas dikutif,
disandur dan terinspirasi dari majalah tarbawi, edisi 27 Th.3/syawal 1422 H/31
(Desember 2001 M)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar