Pages

Sabtu, 08 November 2014

MEMILIH ANTARA DUNIA ATAU BERTEMU ALLAH



MEMILIH : ANTARA DUNIA ATAU BERTEMU ALLAH
By. Ardiles
Isyarat kebenaran telah datang kepangkuan beliau, beban dan cobaan beliau pangku dengan kokoh dan teguhnya seorang diri. Perintahpun harus dijalankan, dengan keyakinan, kesabaran dan janji Allah beliau kukuhkan langkah menentang kejahiliyaan.
Perlahan-lahan, hari-haripun di lalui dengan ujian dan rintangan yang berat. Namun, tibalah waktunya isyarat kemenangan itu datang. Beliau kembali membawa senyuman memasuki kota kelahiran yang sungguh dicinta, beliau kembali dengan gagah dan penuh sorak Takbir yang menggepita di tanah mekkah, sebelumnya beliau pergi meninggalkannya (hijrah) dengan mengendap-endap.
Bertahun sudah perjuangan yang dilalui, lengkap sudah risalah dakwah yang beliau emban.  Telah disempurnahkan kisah perjalanan beliau. “……pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmat-ku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu….” (Q.s Al-Maidah :3)
Inilah isyarat yang telah Allah sampaikan kepada Rasul-Nya. Sungguh siapapun bisa memilih ketika isyarat (hikmah atau petunjuk)  itu datang, kita bisa memilih taat ataupun tetap ingkar atas cahaya iman yang telah Allah berikan. Begitupun Rasulullah saw, beliau bisa memilih menjalankan perintah atau meninggalkan perintah yang telah Allah geriskan. Begitu banyak pilihan yang hadir dan dihadapkan kepada Rasulullah. Namun beliau tetap memilih teguh dan bersabar menunai isyarat risalah dakwah bagi umat manusia.
Sungguh,  suatu kisah pertikaian hati sang pemilik kebesaran jiwa.
Kota Madinah, di pagi yang masih sangat buta. Butir-butir pasir saling merapat kedinginan. Langit Nampak hitam. Tanda malam masih menyisahkan banyak potongan gelapnya. Suasana hening, nyaris tanpa suara. Rasulullah saw memasuki pagi itu dengan badan yang panas. Nampaknya, manusia mulia pilihan Allah itu sedang terserang demam.
Bunda Aisyah, isteri Rasulullah juga sedang sakit kepala “aduhai kepalaku,” guman Bunda Aisyah. Seketika Rasulullahpun menyahut lembut, “justru kepalaku, wahai Aisyah”. Lalu, Rasulullah menambahkan, “wahai Aisyah, tak usah risau bila engkau meninggal lebih dulu. Bukannya ada aku yang akan menggurusi, mengkafani, menyolatkan dan mengubur engkau?”
Seketika juga Bunda Aisyah menimpali ucap Rasulullah, “tapi, setelah selesai, engkau akan pulang ke rumahku untuk bermalam bersama-sama istri engkau yang lain. “Rasulullah tersenyum mendengar jawaban isterinya, Bunda Aisyah.
Sungguh, itulah isyarat kematian yang ingin disampaikan. Sungguh lemah lembut pesan yang ingin Rasulullah sampaikan kepada Bunda Aisyah. Siapa yang menyangka, bahkan pada akhirnya  baru disadari oleh Istri Rasulullah, bahwa itu isyarat perpisahan yang tak lama lagi akan datang dan menjelang. Hanya saja Rasulullah menyampaikannya dengan penuh kelembutan, agar kelimat perpisahan itu terasa akrab ditelinga sang istri, agar perlahan ketika waktunya telah tiba kata-kata itu tak begitu menyayat hati.
Beberapa malam sebelumnya Rasulullah pergi ke Baqi’, tempat dimana para sahabat yang syahid dimakamkan. Untuk terakhir kalinnya beliau ke sana, karena beliau tahu tak ada waktu untuk kembali ke sana, bahkan untuk sekedar mengucap salam saja. Sungguh hasrat kerinduan itu ada, bahkan tak luput dari jiwa Rasulullah. Kerinduan perjumpaan abadi bagitu dinanti Rasulullah, kerinduan akan para sahabat yang telah mengukuhkan jiwanya, kerinduaan akan jiwa-jiwa yang ikut serta membantunya, kerinduan akan jiwa-jiwa yang kini hidup tenang dalan sisi Rabb-Nya, kerinduan akan para pejuang agama Allah yang teramat mencintai dirinya (Rasul) daripada dirinya sendiri.
Sungguh, di sanalah (baqi’) Rasulullah memohonkan ampun kepada Allah untuk para syuhada’. Rasulullah pergi ke sana bersama Abu Muwaihibah. Dalam perjalanan pulang Rasulullah berkisah, “wahai Abu Muwaihibah, telah didatangkan kepadaku kunci-kunci kekayaan dunia untuk tinggal di dalamnya, lalu ke surga. Aku disuruh memilih antara di dunia, atau bertemu dengan Allah dan surga”.
Seketika, tanpa berpikir panjang Abu Muwaihibah menyahut, “Pilihlah tinggal di dunia dengan segala kunci-kunci kekayaannya, baru sesudah itu ke surga”. Mendengar ucapan sahabatnya, tetap dengan kesejukan jiwa, senyum dan sikap lemah lembut Rasulullah menjawab, “tidak, wahai Abu Muaihibah. Aku telah memilih bertemu dengan Allah dan surga”.
Selanjutnya, sakit Rasulullah semakin Parah. Ini kemudian manjadi awal dari hari-hari belasungkawa yang sangat menguncangkan. Tiga belas hari kemudian, laki-laki yang hadir layaknya penebar cahaya, laki-laki sang penggenggam hujan ditengah gemuruh gersangnya hamparan pasir telah pulang dengan pilihannya, berjumpa Rabb-Nya Allah swt.  
Dalam hidup kita selalu dihadapkan dengan pilihan, begitupun dengan Rasulullah saw. Seandainya Rasulullah berdoa dan memohon kepada Allah swt untuk hidup lebih lama lagi. Tentu Allah akan mengambulkan doa Nabi. Hanya saja, Rasulullah lebih memilih untuk segera bertemu dengan Allah, berkumpul dengan para sahabat-sahabat yang telah terlebih dahulu pergi dan mengapai surge yang Allah janjikan. Demikian juga dengan kita yang bukan siapa-siapa, hanya makhluk biasa-biasa dengan tingkat keimanan serta ketakwaan yang juga pas-pasan. Namun, kita Allah berikan kesempatan untuk menentukan pilihan kita sendiri.
Apakah kita juah lebih memilih kehidupan dan kenikmatan dunia atau kita memilih berjumpa dengan Allah dan berkumpul bersama Rasulullah serta sahabatnya?
Hanya masing-masing dari kita yang mampu menjawab dan membuktikannya.
(Kisah di atas dikutif, disandur dan terinspirasi dari majalah tarbawi, edisi 27 Th.3/syawal 1422 H/31 (Desember 2001 M)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar