MENANTI
SANG PROBLEM SOLVER
By.
Ardiles
Setiap
detik, setiap menit, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan bahkan setiap
tahun, perpecahan dan perselisihan selalu saja mengincar bangsa yang teramat
besar ini. Setiap saat bom waktu, yang namanya perang saudara bisa saja
meledak. Bahkan pertikaian-pertikaian yang terjadi beberapa waktu lalu, yakni
dalam negeri belum lama reda dan hilang dalam ingatan masyarakat. Namun,
seperti ada yang menyulut api pertikain, ibarat melempar batu sembunyi tangan ke
tengah-tengah bangsa ini atau mungkin lebih tepatnya politik “Pecah Belah”
mulai dihembuskan tanah pertiwi ini. Bahkan, nuansa hangat Pileg belum juga
kelar, kini angin-angin panas mulai meliuk-liukan api ke kiri-ke kanan, bersiap
mengobarkan api pertikaian. Dimana yang menjadi bahan bakar pertikaian ini
adalah orang-orang yang lahir dan tumbuh di dalam bangsa ini. Hanya karena
sebuah kehormatan, yakni duduk dikursi kekuasaan, bangsa ini rela berselisih satu
dengan lainnya. Masing-masing pemuka partai mulai menabuh genderang perang,
saling berselisih untuk posisi “R1”. Alangkah lucu negeri ini!!! Perpecahan
mengincar dan mungkin saja menanti negeri ini, dari Sabang hingga Marauke kini
sedang menanti sosok pemimpin yang bersifat Probem
Solving (pemecah masalah) bukan pembuat masalah lagi.sungguh negeri ini, udah terlampau banyak masalahnya.
Jauh
terlempar dalam perjalanan sejarah, bahkan terhempas dalam sebuah kisah klasik
nan mungkin relevan dengan titik baru negeri ini sungguh, hampir-hampir saja
pertumpahan darah terjadi di tanah suci. Bahkan lima atau mungkin empat hari
sudah perselisihan itu terjadi dan terus saja berlanjut tanpa keputusan dan
pemcahan masalah. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan memanas.
Mengamati kondisi yang terjadi ditengah kaumnya, Abu Umayyah bin Al-Mughirah
Al-Makhzumy tampil dan menawarkan jalan keluar dari perselisihan
kabilah-kabilah suku Quraisy. Kejadian ini terjadi pada masa Rasulullah, yakni
lima tahun sebelum kenabian dan tepatnya pada saat usia Rasulullah tiga puluh
lima tahun, pada masa itu Mekkah dilanda banjir besar hingga meluap ke
Baitul-Haram.
Kala
itu, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi ka’bah, yang mana kondisi
Ka’bah pada masa itu sudah sangat rapuh dan memprihatinkan, dindingnya pun
sudah pecah-pecah sehingga sewaktu-waktu bisa saja membuat Ka’bah runtuh.
Dengan di awali Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy, perobohan Ka’bah dimulai
dan diikuti oleh semua orang yang awal merasa takut untuk merobohkannya. Kisah
Abraham yang ingin merobohkan bahkan menghancur-luluhlantahkan Ka’bah masih
jelas dalam ingatan bahkan membayangin mereka. Setelah memastikan tidak terjadi
apapun terhadap Al-Walid, barulah dengan penuh semangat dan kerja keras mereka
merobohkannya. Dan setalah semua diratakan dengan tanah, mulai proses
pembangunan kembali dilakukan. Dengan arahan arsitek berkabangsaan Romawi semua
kabilah mendapatkan bagian sendiri-sendiri dalam upaya membangun kembali
Ka’bah.
Takkala
pembangunan telah sampai dibagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang
siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Ini bukan
persoalan batu mulia, dan ini bukan hanya sebatas siapa yang pantak serta
layak. Namun, ini persoalan yang memicu pertumpahan darah, bahkan bisa-bisa
terjadi perang saudara di tanah suci,
Mekkah pada saat itu. Ini bukanlah perselisihan biasa dan dapat
diselesaikan dengan cara sederhana apalagi secera kekeluargaan. Ini persoalan siapa
yang berhak mendapatkan kehormatan untuk meletakan batu mulia ini pad posisinya
semula. Yang mana, dunia akan mengenang dan sejarah akan mencatat namanya, dan
mungkin saja akan menaikan drajat kelurga serta kabilahnya.
Abu
Umayyah menyadari betul harga diri dan kehormatan adalah segala-galanya bagi
orang-orang Quraisy. Bahkan seorang ayahpun tidak segan-segan mengubur
hidup-hidup anak perempuannya yang baru saja lahir hanya demi harga diri dan
menghapus rasa malu. Sungguh, jalan keluar dari perselisihan ini tidak
sembarangan. Salah-salah berucapa, bisa-bisa akan menciptakan kondisi yang
semakin pelik dan panas di Makkah pada saat itu. Dengan lantang dan hati-hati
Abu Umayyah mengatakan “Bagaimana kalau
kita menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk/lewat pintu
masjid”. Saat itu semua yang hadir
sepakat, walau ini saran atau usulan yang bijak. Namun tetap saja keputusan dan
solusi yang tepat untuk menghindari perselisihan dan pertumpahan darah yang tak
terelakan belum ada.
Merasa
tidak ada yang dirugikan dengan jalan keluar yang ditawarkan, mereka semua
sepakat menerima cara ini. Takkala waktu yang telah ditunggu-tunggu, saat semua
orang bergegas untuk menjadi orang yang pertama kali me-masuki Ka’bah. Dari
kejauhan mereka temui sosok laki-laki telah lebih dahulu berada di dalamnya.
Demikianlah Allah yang telah menghendaki dan Allah jua-lah yang telah
merencanakan serta mengerakkan langkah Rasulullah. Tatkala mengetahui hal ini,
orang-orang Quraisy, dari masing-masing kabilah berbisik-bisik satu dengan
lainnya “inilah Al-Amin, sungguh kami
ridha kepadanya”. Inilah sang Problem
Solving yang dinanti telah, dia Muhammad.
Beliau
hadir ditengah perselisihan yang masing-masing pemuka-pemukannya tak mampu
menemukan titik terang menyelesaikan masalah. Ditengah persoalan yang sensitive
demikian beliau haruslah menawarkan solusi yang tak biasa, yakni solusi yang
tak merugikan pihak-pihak lainnya. Namun, disatu sisi semuanya harus
diuntungkan dengan keputusan ini. Dengan kecerdasan dan kecermelangannya,
Rasulullah meminta sehelai selendang.
Dimana di atas selendang itu Rasulullah meletakan Hajar Aswad lalu meminta
setiap pemuka-pemuka kabilah memagang masing-masing sisi dan sudut dari
selendang lalu mengangkatnya bersama-sama hingga mendekati tempatnya, lalu
beliau mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya ketempat semula. Ini pemecahan
yang sangat jitu dan diridhai semua orang, semua orang merasa puas dengan
keputusan yang Rasulullah buat, semua diuntnugkan dan tidak ada yang dirugikan.
Hari
ini, bangsa ini sedang menanti sosok pemimpin yang mampu menyelesaikan
pertikaian dan perselisihan yang kini menjadi titik penting terhambatnya tujuan
Negara ini di merdeka-kan. Persatuan yang tercerai berai semakin memper-puruk
kondisi negeri ini. Negeri ini terlampau banyak memiliki orang-orang hebat dan
luar biasa. Namun negeri ini, perlu seorang yang mampu menyelesaikan persoalan
kemelut bangsa yang menahun hanya dengan “membentangkan
sehelai selendang” . tidak ada yang merugi dan semuanya merasa diuntungkan
demikian lah sosok
Tidak ada komentar:
Posting Komentar