setting

My Story : ARDILES: POHON DUNIA

POHON DUNIA



Pohon Kehidupan

Kalau lah boleh ana mengisyaratkan, kita hidup dengan pohon-pohon kehidupan kita masing-masing. Bagaimana bentuk dan rupa pohon yang kita miliki, kita lah yang bertanggung jawab atasnya. Kenapa pohon? Sederhana saja, pohon adalah analogi yang manarik jika ingin kita tarik dan kaitkan ke dalam kehidupan kita, bukankah pada sebatang pohon itu bisa saja terdapat, akar, batang, cabang, ranting, daun, bunga bahkan mungkin buah. Atau bisa saja tidak lengkap sama sekali, bahkan mungkin ada yang hanya punya daun saja, buah saja atau tidak punya yang lainnya kecuali batang saja, kaktus mungkin. Begitupun kita, satu hal yang ingin ana tekankan dan perlu digaris bawahi oleh ikhwan dan akhwat semuanya. “jangan pernah antum semua beranggapan bahwa ikhwan/akhwat itu sama seperti antum. Singkatnya jangan pernah antum beranggapan ikhwan/akhwat itu semuanya hebat, cerdas, pintar dan sebagaianya. Jangan pernah berpikir dan beranggapan demikian. Karna kita sudah jelas berbeda, layaknya pohon-pohon yang tumbuh disekitar kita”
Demikia juga, dengan tingkat imam seseorang itu berbeda, baik antara satu ikhwan dan akhwat, pastilah berbeda. Hal yang seringkali membuat kita kecewa kepada saudara dan saudari kita yang lainnya, karna kita mengharapkan dia sama dengan kita. Padahal ini jelas berbeda.
“Tingkat cobaan iman itu tak ubahnya seperti anak tangga yang bertingkat - tingkat.
Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal pikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangannya lemah, kakinya tidak kuat, akalnya hilang, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Dan yang paling disayangkan jika robohnya tidak hanya satu dua buah anak tangga ke bawah, tapi jatuh anak demi anak tangga dibawahnya yang sangat banyak. Bahkan karena lemahnya, seseorang bisa sulit bangkit lagi.
#BuyaHamka
Kembali lagi ke analogi pohon.
Ada pertanyaan menarik yang ingin ana sampaikan ke antum semuanya. Antum semua tahun berapa jumlah kader, ikhwan dan akwat di UNP?, di Formis? Atau yang ikhwan tahun berapa jumlah akhwat di formis? Bagitu juga sebaliknya?
Pertanyaan lebi spesifik, antum tahu bagaimana  beban, tantangan dan masalah yang dihadapi saudara antum, khususnya yang di satu kamar dengan antum saja?
Betapa banyak ikhwan akhwat yang ada di UNP, betapa banyak ikhwan yang ada di FT namun hanya sebagia saja yang tergabung di UKK ataupun di Formis, betapa banyak yang diformis namun hanya beberapa saja yang menjadi penggurus dan aktif di agenda-agenda yang di laksanakan penggurus.

Kita, sebagai mahasiswa pasti punya tugas-tugas rutin dalam keseharian. Terutama untuk kuliah, tugas, PR, Makalah, tugas akhir, riset dan lainnya. Setiap mata kuliah dan setiap semester juga seperti demikian. Kita anggap saja ini pohon masalah kita yang pertama. Belum lagi kalau kita mengambil peran dan memangku amanah baik di Formis sendiri, maka secara tidak langsung kita sudah menanam pohon masalah lainnya di diri kita, belum lagi peran dalam keluarga, bahkan mungkin ada ikhwan atau akhwat yang juga di UKK, Bem, Hima dan lainnya. Bagaimana tidak pusing dan IPKnya pas-pasan bukan? Tapi semuanya bukan alasan. Hanya hal ini yang membedakan kita dengan yang lainnya, mau atau tidak kita mengambil peran?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai