Pages

Sabtu, 01 November 2014

UJIAN KEIMANAN : TEPAT PADA TITIK TERLEMAH



UJIAN KEIMANAN : TEPAT PADA TITIK TERLEMAH

“Engkau akan diuji pada titik terlemah yang engkau miliki”
Sungguh, di hati ini hanya Allah yang tahu. Apapun yang bergemuruh dan mengepul di dalamnya hanya Allah saja yang tahu. Ada satu hal yang menarik pada salah satu tulisan Syaikhut tarbiyyah Ust. Rahmat Abdullah mengenai ujian. Beliau mengatakan “Engkau akan diuji pada titik terlemah yang engkau miliki”. Kita sering sadar jika datangnya ujian Allah itu sesuatu yang lumrah. Tapi yang mungkin jarang kita sadari bahwa Allah itu akan menguji pada titik terlemah yang kita miliki. Kita akan diuji pada titik dimana kapasitas dan kualitas diri kita dianggap Allah masih kurang dan membutuhkan peningkatan. Kita akan diuji pada kelemahan yang harus dihilangkan.“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan kami telah beriman dan tidak akan diuji..? dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta “(Q.Surah. Al Ankabut : 3).
Demi Allah, kita mungkin saja bisa menipu dan menutupi segala kelemahan dan kesalahan yang kita perbuat, termaksud dosa yang kita perbuat dari pandangan mata yang lainnya. Namun, tidak bagi Allah swt. Ujian dan cobaan senantiasa datang menghampiri kita, apapun bentuknya dan kapan datangnya kita tak akan pernah tahu. Kita akan sadar kala ujian dan cobaan itu telah hinggap-menyerang dan berlalu pergi. Sungguh hanya Allah maha mengetahui, apa yang kita kerjakan dan Allah lebih mengatahui segala hal di diri kita, yang mungkin kita sendiri tidak menyadarinya. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.Surah At Taubah 9: 16)
Sesungguhnya, ujian dan cobaan Allah banyak sekali bentuknya. Baik berupa amanah, jabatan, harta, kekuasaan, wanita dan lain sebagainya. Pada surat At Taghaabun ditegaskan bahwa harta benda dan anak-anak itu adalah cobaan dan ujian bagi keimanan seseorang, harta benda dan anak-anak jangan sampai melalaikan seseorang dari mengingat Allah. Bahkan hal yang umum dan lumrah terjadi dalam kehidupan ini, yakni kesenjangan antara kekayaan dan kemiskin. Padahal sesunggunya di dalamnya ada ujian dan hikmah yang teramat luar biasa.
Wahai ikhwan dan akhwat yang ku rindu semangat dakwahmu, semoga engkau selalu dirahmati dan dinaungi Allah, ujian bisa saja beragam bentuknya, bahkan perasaan yang hadir kala perjalanan dakwah bisa dikatakan salah bentuk ujian. Wajah atau paras yang tampan dan cantik rupawan acapkali menjadi kelebihan dan juga menjadi kelemahan. Perasaan yang hadir tak dapat dibendung, rasa cinta bisa saja hingga ke setiap hati termaksud kita para aktivis dakwah. Virus merah jambu merupakan fenomena yang lazim dikalangan aktivis dakwah. kita tidak memungkiri, perasaan suka, sayang dan cinta adalah fitrah, yang Allah hadiah dan anugrahkan kepada kita. Namun, dalam amanah dan perjalanan dakwah yang kita tempuh ada-ada saja rintangan dan tantangan yang hadir. Sikap lemah-lembut dan penyayang ikhwan dan akhwat tak akan ada yang memungkirinya, namun kadangkala sikap yang demikian halus dan begitu sensitif bisa menjadi boomerang. Kala daya tarik mulai hadir, hati demikian bergejolaknya. Jika kita tak mampu mengendalikan perasaan, bisa-bisa kita jatuh dan larut akan perasaan tersebut. Walau banyak yang bertahan dan mampu mengendalikannya, namun tak sedikit pula dari ikhwan dan akhwat yang larut dalam perasaannya, terjebak dalam virus merah jambu. Bisa jadi ini, perasaan yang hadir merupakan ujian yang Allah berikan kepada kita, dan perasaan tentu saja bisa menjadi titik terlemah diri.
Titik terlemah dari diri kita, hanya kita yang tahu. Dan seringkali ujian yang datang selalu menghamtam titik tersebut. Bahkan seorang bijak berkata “jika manusia diuji dalam kesempitan dan kesusahan 7 dari 10 orang bisa bertahan. Namun, pabila manusia diuji dalam kesenangan dan kenyamanan hanya 3 dari 10 yang mampu bertahan”. Mampu atau tidaknya kita bertahan dalam ujian hanya kita yang dapat mengukurnya. Demikian banyak kisah yang menjadi tauladan bagi kehidupan kita. Khususnya bagi kita yang senantiasa bergerak di dalam aktivitas dakwah. kita tidak akan pernah lupa, bagaimana kisah mengenai ujian keimanan selalu menjadi resonansi penggugah jiwa di kala hari raya Idul Adha. "Contohnya pada kisah Nabi Ibrahim as. Beliau sangat menyayangi puteranya Ismail as. Tapi Allah SWT malah menyuruh beliau untuk menyembelihnya (Q.Surah Ash Shaaffaat 37: 100 – 111).". Betapa luar biasa ujian yang datang di hadapan Nabi Ibrahim, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anak yang telah lama dinanti, yang sangat disayang dan dicinta. Demikian juga dengan kisah Nabi Sulaiman, Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.” (Q.Surah Shaad 38 :34. Bahkan Rasulullah, Nabi Muhammad saw tak luput dari ujian, kala perjalanan dakwah yang beliau pikul begitu beratnya, ancaman, tekanan bahkan kekerasaan selalu menyertai perjalanan beliau dalam menegakan agama Allah di muka bumi ini. Ketika sekian tahun suku Quraisy mengucil beliau bersama kaum begitu berat rintangan yang di hadapi Rasulullah bersama para sahabat. Kala satu ujian berlalu, Rasulullah langsung dihadapkan dengan ujian yang lainnya, beliau harus kehilangan dua sosok yang bagitu beliau cintai, yakni Istri yang selalu setia bersama bahkan mendampingi beliau dan juga sosok paman yang teramat cintanya kepada beliau.
Saat ujian datang dan menyerang titik terlemah kita, ujian tersebut datang dan menguncang yakni perasaan kita. Semuanya bergelorah di dalam dada, rasa kehilangan, sendiri, sedih, takut dan kecewa bercampur menjadi satu. Kala ujian datang, kita tak akan pernah tahu titik yang mana akan di uji dari diri kita. “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku., Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". ( Q.Surah  Al Fajr 89 : 15-16). Subhanallah.
Mudahan-mudahan kita merupakan umat yang senantiasa siap menghadapi segala ujian yang datang menyerang, karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban dan cobaan diluar kemampuan dan kesanggupan hamba-hambanya.  Ardiles, UNP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar