UJIAN KEIMANAN : TEPAT PADA TITIK TERLEMAH
“Engkau akan diuji pada
titik terlemah yang engkau miliki”
Sungguh, di hati ini hanya Allah yang tahu.
Apapun yang bergemuruh dan mengepul di dalamnya hanya Allah saja yang tahu. Ada satu hal yang menarik pada salah satu tulisan
Syaikhut tarbiyyah Ust. Rahmat Abdullah mengenai ujian. Beliau mengatakan
“Engkau akan diuji pada titik terlemah yang engkau miliki”. Kita sering sadar
jika datangnya ujian Allah itu sesuatu yang lumrah. Tapi yang mungkin jarang
kita sadari bahwa Allah itu akan menguji pada titik terlemah yang kita miliki.
Kita akan diuji pada titik dimana kapasitas dan kualitas diri kita dianggap
Allah masih kurang dan membutuhkan peningkatan. Kita akan diuji pada kelemahan
yang harus dihilangkan.“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan
hanya dengan mengatakan kami telah beriman dan tidak akan diuji..? dan sungguh
Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui
orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta “(Q.Surah. Al Ankabut : 3).
Demi Allah, kita mungkin
saja bisa menipu dan menutupi segala kelemahan dan kesalahan yang kita perbuat,
termaksud dosa yang kita perbuat dari pandangan mata yang lainnya. Namun, tidak
bagi Allah swt. Ujian dan cobaan senantiasa datang menghampiri kita, apapun
bentuknya dan kapan datangnya kita tak akan pernah tahu. Kita akan sadar kala
ujian dan cobaan itu telah hinggap-menyerang dan berlalu pergi. Sungguh hanya
Allah maha mengetahui, apa yang kita kerjakan dan Allah lebih mengatahui segala
hal di diri kita, yang mungkin kita sendiri tidak menyadarinya. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum
mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak
mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang
beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.Surah At Taubah
9: 16)
Sesungguhnya, ujian dan cobaan Allah banyak
sekali bentuknya. Baik berupa amanah, jabatan, harta, kekuasaan, wanita dan
lain sebagainya. Pada surat At Taghaabun ditegaskan bahwa harta benda dan
anak-anak itu adalah cobaan dan ujian bagi keimanan seseorang, harta benda dan
anak-anak jangan sampai melalaikan seseorang dari mengingat Allah. Bahkan hal
yang umum dan lumrah terjadi dalam kehidupan ini, yakni kesenjangan antara kekayaan
dan kemiskin. Padahal sesunggunya di dalamnya ada ujian dan hikmah yang teramat
luar biasa.
Wahai ikhwan dan akhwat yang ku rindu
semangat dakwahmu, semoga engkau selalu dirahmati dan dinaungi Allah, ujian
bisa saja beragam bentuknya, bahkan perasaan yang hadir kala perjalanan dakwah
bisa dikatakan salah bentuk ujian. Wajah atau paras yang tampan dan cantik
rupawan acapkali menjadi kelebihan dan juga menjadi kelemahan. Perasaan yang
hadir tak dapat dibendung, rasa cinta bisa saja hingga ke setiap hati termaksud
kita para aktivis dakwah. Virus merah jambu merupakan fenomena yang lazim
dikalangan aktivis dakwah. kita tidak memungkiri, perasaan suka, sayang dan
cinta adalah fitrah, yang Allah hadiah dan anugrahkan kepada kita. Namun, dalam
amanah dan perjalanan dakwah yang kita tempuh ada-ada saja rintangan dan
tantangan yang hadir. Sikap lemah-lembut dan penyayang ikhwan dan akhwat tak
akan ada yang memungkirinya, namun kadangkala sikap yang demikian halus dan
begitu sensitif bisa menjadi boomerang. Kala daya tarik mulai hadir, hati
demikian bergejolaknya. Jika kita tak mampu mengendalikan perasaan, bisa-bisa
kita jatuh dan larut akan perasaan tersebut. Walau banyak yang bertahan dan
mampu mengendalikannya, namun tak sedikit pula dari ikhwan dan akhwat yang
larut dalam perasaannya, terjebak dalam virus merah jambu. Bisa jadi ini, perasaan
yang hadir merupakan ujian yang Allah berikan kepada kita, dan perasaan tentu
saja bisa menjadi titik terlemah diri.
Titik terlemah dari diri kita, hanya kita
yang tahu. Dan seringkali ujian yang datang selalu menghamtam titik tersebut. Bahkan
seorang bijak berkata “jika manusia diuji
dalam kesempitan dan kesusahan 7 dari 10 orang bisa bertahan. Namun, pabila
manusia diuji dalam kesenangan dan kenyamanan hanya 3 dari 10 yang mampu
bertahan”. Mampu atau tidaknya kita bertahan dalam ujian hanya kita yang
dapat mengukurnya. Demikian banyak kisah yang menjadi tauladan bagi kehidupan
kita. Khususnya bagi kita yang senantiasa bergerak di dalam aktivitas dakwah. kita
tidak akan pernah lupa, bagaimana kisah mengenai ujian keimanan selalu menjadi
resonansi penggugah jiwa di kala hari raya Idul Adha. "Contohnya
pada kisah Nabi Ibrahim as. Beliau sangat menyayangi puteranya Ismail as. Tapi
Allah SWT malah menyuruh beliau untuk menyembelihnya (Q.Surah Ash Shaaffaat 37:
100 – 111).". Betapa
luar biasa ujian yang datang di hadapan Nabi Ibrahim, Allah memerintahkannya
untuk menyembelih anak yang telah lama dinanti, yang sangat disayang dan
dicinta. Demikian juga dengan kisah Nabi Sulaiman, “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami
jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena
sakit), kemudian ia bertaubat.” (Q.Surah Shaad 38 :34. Bahkan Rasulullah, Nabi Muhammad saw tak luput dari ujian, kala
perjalanan dakwah yang beliau pikul begitu beratnya, ancaman, tekanan bahkan
kekerasaan selalu menyertai perjalanan beliau dalam menegakan agama Allah di
muka bumi ini. Ketika sekian tahun suku Quraisy mengucil beliau bersama kaum
begitu berat rintangan yang di hadapi Rasulullah bersama para sahabat. Kala satu
ujian berlalu, Rasulullah langsung dihadapkan dengan ujian yang lainnya, beliau
harus kehilangan dua sosok yang bagitu beliau cintai, yakni Istri yang selalu
setia bersama bahkan mendampingi beliau dan juga sosok paman yang teramat
cintanya kepada beliau.
Saat ujian datang dan menyerang titik
terlemah kita, ujian tersebut datang dan menguncang yakni perasaan kita.
Semuanya bergelorah di dalam dada, rasa kehilangan, sendiri, sedih, takut dan
kecewa bercampur menjadi satu. Kala ujian datang, kita tak akan pernah tahu
titik yang mana akan di uji dari diri kita. “Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku., Adapun
bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:
"Tuhanku menghinakanku". ( Q.Surah
Al Fajr 89 : 15-16). Subhanallah.
Mudahan-mudahan kita merupakan umat yang
senantiasa siap menghadapi segala ujian yang datang menyerang, karena
sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban dan cobaan diluar kemampuan dan
kesanggupan hamba-hambanya. Ardiles, UNP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar