Be the
winner forever
“Jangan…kembali pulang
Sebelum kita menang
Walau mayat terkapar di medan juang
Itulah para HERO berjuang
(dari Nasyid Buya Hamka) dari The Way to Win by Solikhin Abu Azzuddin”
“lebih baik
bermandikan keringat di medan latihan, daripada bermandikan darah di medan
perjuangan”
Jadi keingat masa-masa ketika duduk di bangku
sekolah. Bagaimana asyik dan serunya ketika masih aktif dalam kegiatan
kepramukaan ataupun kegiatan paski sekolah.
Nasyid Buya Hamka selalu mengalun indah di kala berlarian ditengah panas
dan teriknya matahari, berlarian di tangah lapang, push up, sit up dan lainnya
selalu dilakukan bersama-sama.
Semuanya akan terasa mengelorah ketika mulai
didendang riangkan di tengah lapangan. Jelas saja, masa-masa pramuka-ku dilalui
dengan banyak sekali event dan perlombaan. Hampir tiap bulan kala saya duduk di
bangku SMP. Demikian juga kala kuliah,
nasyid ini terus saja bersendu sendang di dalam dada, bergemuruh terang
menyemangati diri untuk menjadi dan melakukan yang terbaik.
Pemenang tidak selalu mendapatkan hasil
terbaik, adakalanya mendapat hasil terburuk dan mengecewakan. Dan setiap
pemenang punya dilemma dan masalahnya sendiri-sendiri. Begitulah hidup ditengah
lapangan perjuangan. Kita selalu berusaha menjadi yang terbaik dengan melakukan
yang terbaik.
Pemenang sejati, dan pemenang selamanya ialah
pemenang yang menang dengan cara-cara yang baik. Karena kenapa? Ia menuai hasil
dari hal-hal yang jujur tanpa kecurangan. Biarlah tidak mendapatkan hasil yang
terbaik. Namun, melakukannya dengan cara-cara yang baik, jujur dan penuh
kebenaran.
Berjuang diperantauan memang tidaklah muda,
jauh dari orangtua dan jauh dari sanak saudara. Kita dihadapkan dengan bauran
dan pertamanan yang baru. Mulai dari awal untuk berinteraksi mengikat diri
dalam sebuah gank-gank.
Ketika kita telah melangkah jauh meninggalkan
masa lalu dan juga rumah. sudah seharusnya kita tanamkan tekad seorang pejuang
atau hero. Para pejuang atau hero tidak akan pernah memutar kapalnya atau
kembali pulang sebelum menang dalam medan pertempuran. Kalaupun meraka pulang,
itu hanya untuk menghimpun pasukan, menambah amunisi dan mempersenjatai diri
untuk segera kembali.
Kita harus menang di medan juang, menang
tanpa ada kecurangan. Sekali lagi, bagaimanapun godaan untuk berbuat curang
saat ujian itu adalah sebuah bentuk ketidakjujuran. Hal inilah yang akan
menghilangkan atau menghapuskan nilai-nilai kemenangan yang hakiki lagi berkah
dari Allah yang Maha Pengasih.
Kadang kita memang acap lalai dan teledor.
Menggaggap remah dan mudah semua urusan. Kita malas belajar, kita malas
berlatih, kita malas berolahraga dan kita juga malas membaca. Padahal
aktivitas-aktivitas ini bagian dari mencapai sebuah kejayaan dalam medan
pertempuran.
Apapun itu!
Lebih baik,
kita bermandikan keringat di medan latihan daripada bermandikan darah di medan
berjuang. Sungguh, kalaulah di medan juang. Kita tidak akan punya waktu dan
jeda hanya untuk sekedar beristirahat ataupun bersandar untuk minum seteguk
air. Ancaman dan rasa mencekam akan sangat menghantui rasa ketenangan. Maka,
sudah sewajarnya kita mempersiapkan diri dalam segala kemungkinan. Belajar
jauh-jauh hari adalah sebuah solusi, belajar dengan cara diangsur-angsur
menjelang ujianpun merupakan strategi dan kala
ujian atau perperangan telah di depan mata. Kita hanya perlu
merefleksikan hasil latihan dan usaha selama ini.
Bagaimanapun
caranya, kita harus terus menjadi pemenang selamannya. Karena, hanya
pemenanglah yang akann mendapat mahkota indah. Dan para pecundang hanya akan
menatap dari kejauhan dengan penuh lugu dan rasa harap. “andai saja aku juga berjuang seperti dirinya, mungkin saja aku yang
akan berada diposisinya”. Kasihan sekali para pecundang
“ayo, sejak dini jadi pemenang. Terus menang
dan menang sampai kemenangan itu menghantarkan kita ke pintu cahaya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar