Pages

Rabu, 10 Desember 2014

BE THE WINNER FOREVER



Be  the winner forever

Jangan…kembali pulang
Sebelum kita menang
Walau mayat terkapar di medan juang
Itulah para HERO berjuang
(dari Nasyid Buya Hamka) dari  The Way to Win by Solikhin Abu Azzuddin”
“lebih baik bermandikan keringat di medan latihan, daripada bermandikan darah di medan perjuangan”
Jadi keingat masa-masa ketika duduk di bangku sekolah. Bagaimana asyik dan serunya ketika masih aktif dalam kegiatan kepramukaan ataupun kegiatan paski sekolah.  Nasyid Buya Hamka selalu mengalun indah di kala berlarian ditengah panas dan teriknya matahari, berlarian di tangah lapang, push up, sit up dan lainnya selalu dilakukan bersama-sama.
Semuanya akan terasa mengelorah ketika mulai didendang riangkan di tengah lapangan. Jelas saja, masa-masa pramuka-ku dilalui dengan banyak sekali event dan perlombaan. Hampir tiap bulan kala saya duduk di bangku SMP.  Demikian juga kala kuliah, nasyid ini terus saja bersendu sendang di dalam dada, bergemuruh terang menyemangati diri untuk menjadi dan melakukan yang terbaik.
Pemenang tidak selalu mendapatkan hasil terbaik, adakalanya mendapat hasil terburuk dan mengecewakan. Dan setiap pemenang punya dilemma dan masalahnya sendiri-sendiri. Begitulah hidup ditengah lapangan perjuangan. Kita selalu berusaha menjadi yang terbaik dengan melakukan yang terbaik.
Pemenang sejati, dan pemenang selamanya ialah pemenang yang menang dengan cara-cara yang baik. Karena kenapa? Ia menuai hasil dari hal-hal yang jujur tanpa kecurangan. Biarlah tidak mendapatkan hasil yang terbaik. Namun, melakukannya dengan cara-cara yang baik, jujur dan penuh kebenaran.
Berjuang diperantauan memang tidaklah muda, jauh dari orangtua dan jauh dari sanak saudara. Kita dihadapkan dengan bauran dan pertamanan yang baru. Mulai dari awal untuk berinteraksi mengikat diri dalam sebuah gank-gank.
Ketika kita telah melangkah jauh meninggalkan masa lalu dan juga rumah. sudah seharusnya kita tanamkan tekad seorang pejuang atau hero. Para pejuang atau hero tidak akan pernah memutar kapalnya atau kembali pulang sebelum menang dalam medan pertempuran. Kalaupun meraka pulang, itu hanya untuk menghimpun pasukan, menambah amunisi dan mempersenjatai diri untuk segera kembali.
Kita harus menang di medan juang, menang tanpa ada kecurangan. Sekali lagi, bagaimanapun godaan untuk berbuat curang saat ujian itu adalah sebuah bentuk ketidakjujuran. Hal inilah yang akan menghilangkan atau menghapuskan nilai-nilai kemenangan yang hakiki lagi berkah dari Allah yang Maha Pengasih.
Kadang kita memang acap lalai dan teledor. Menggaggap remah dan mudah semua urusan. Kita malas belajar, kita malas berlatih, kita malas berolahraga dan kita juga malas membaca. Padahal aktivitas-aktivitas ini bagian dari mencapai sebuah kejayaan dalam medan pertempuran.
Apapun itu!
Lebih baik, kita bermandikan keringat di medan latihan daripada bermandikan darah di medan berjuang. Sungguh, kalaulah di medan juang. Kita tidak akan punya waktu dan jeda hanya untuk sekedar beristirahat ataupun bersandar untuk minum seteguk air. Ancaman dan rasa mencekam akan sangat menghantui rasa ketenangan. Maka, sudah sewajarnya kita mempersiapkan diri dalam segala kemungkinan. Belajar jauh-jauh hari adalah sebuah solusi, belajar dengan cara diangsur-angsur menjelang ujianpun merupakan strategi dan kala  ujian atau perperangan telah di depan mata. Kita hanya perlu merefleksikan hasil latihan dan usaha selama ini.
Bagaimanapun caranya, kita harus terus menjadi pemenang selamannya. Karena, hanya pemenanglah yang akann mendapat mahkota indah. Dan para pecundang hanya akan menatap dari kejauhan dengan penuh lugu dan rasa harap. “andai saja aku juga berjuang seperti dirinya, mungkin saja aku yang akan berada diposisinya”. Kasihan sekali para pecundang
ayo, sejak dini jadi pemenang. Terus menang dan menang sampai kemenangan itu menghantarkan kita ke pintu cahaya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar