PATRIOTIK
(KEPELAPORAN) : PENYERU
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal shalih dan berkata “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushshilat :33)”
Menarik
sekali berbicara mengenai patriotik atau pelapor atau penyeru. Seperti yang
diutarakan Arya Sandhiyuda (Renovasi Dakwah Kampus) Istilah “patriotik kami
sematkan di dada para pemuda Islam yang tak membusung di hadapan manusia, namun
juga tak sujud di hadapan monopoli sistem jumud dunia. Ia adalah pembelajar
sejati yang sangat mengerti bagaimana menghargai fitrahnya yang heroik, inovasinya
yang bebas hingga tak pernah menjadikan tradisi sebagai berhala”.
Beranjak
dari ayat diatas, Allah swt juga telah menyematkan, bahkan jauh sebelumnya telah
mengabadikannya di dalam Al –Qur an. Sang patriotik atau sang pelapor adalah
insan yang menyadari perannya, ia menyadari siapa dirinya bahkan lebih jauh ia
menyadari siapa Tuhannya dan mengapa ia diciptakan. Ia yakin dengan kebenaran
islam sebagai agama yang membawa rahmat, sebagai petunjuk dan sebagai jalan
menuju pembebasan dari tirai-tirai kejahiliyaan. Seorang patriotik sejati hanya
rela mengabdi kepada Allah, meneruskan risalah dakwah yang telah Rasulullah syiarkan
untuk umat manusia.
“Patriotik paling asasi ada pada
kepelaporan identitas keislaman dan afiliasinya terhadap warisan keilmuan
islam” sambung ustad Arya. Dalam pembahasan ini, untuk
menjadi seorang patriotik atau pelapor haruslah di dasari atas basis keilmuan Islam,
dimana basis ini akan menjadi pondasi dalam pola pikir dan pergerakan dakwah
kampus ke depannya, namun tetap saja ini persoalan klasik yang selalu saja
berputar-putar dan terulang setiap generasinya. Persoalan wawasan menjadi
prihal nomor dua bahkan sering diabaikan dan dikesampingkan. Kita sibuk dengan
kerja-kerja dakwah yang kadang tidak menjadi ranah kita. Terlebih lagi kita
sering disibukkan dengan agenda-agenda yang banyak membuang-buang waktu dan
tenaga.
Para patriotik adalah
mereka yang menjadi patriot dimedan pertempuran. Meraka berdiri digaris
terdepan menyuarakan kebenaran, mereka yang dengan suara lantang menolak
pembodohan, dan merekalah yang menyeru kehidupan yang adil dan sejahterah
ditengah-tengah masyarakat modern seperti masa ini. Mereka berjalan dengan
peran dan karakter keislaman yang baik, memiliki pola pikir dan pemahaman yang
luas, tegas dan lugas. Merakalah para pembawa bendara Islam, mengibarkan
disetiap almamater, menyerukan kebenaran dialtar-altar dan panggung sosial,
berbicara dengan wibawa dan pahaman keislaman di dalam podium-podium dakwah, mencerdaskan bahkan menyisihkan dan
tetap menebarkan kebenaran di tengah perang pemikiran yang kalut dalam
pembodohan zaman ini. Baginilah kita seharusnya, kita menjadi patriotik-patriotik
disetiap sudut-sudut kampus, bahkan menjadi pencerah disetiap dilorong-lorong
kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar