MEMAKNAI
KEHIDUPAN
Teringat kata-kata
bijak beberapa waktu yang lalu. “ di
tengah perjalanan ketika engkau dihadapkan rasa takut dan kematian yang
menjelang. Maka di sana akan engkau temui makna kehidupan. Ketika engkau
berusaha mencari makna kehidupan maka di sanalah akan engkau temui makna dari
rasa takut dan mati”
Di kala kita, mencari
semua makna dalam hidup. Berusaha member dan memenuhi segala kebutuhan hidup.
Maka di sana kita akan dihadapkan dengan rasa takut, kehilangan, kemiskinan dan
kematian. Di kala kita kita kejar kematian, maka dalam satu langkah akan kita
temukan makna kehidupan sejati. Sesungguhnya, hidup ini hanyalah sebentar saja.
Namun banyak yang tak memahami. Banyak sekali yang lalai, termaksud diri ini.
Hari ini, aku terduduk
dan memandang sekeliling masjid. Masjid yang tetap berdiri kokoh setelah
dihantam air gelombang yang mengila. Besarnya air, dan banyaknya tarik nafas
yang hilang dan luluh atas besarnya terpaan air laut yang hadir dikala Sembilan
tahun yang lalu. Tak akan pernah hilang dalan ingatan masyarakat negeri ini.
Bahkan seluruh umat manusia akan ingat akan kisah bencana besar yang menempah
negeri ini, di sebuah kota. Terletak di ujung Sumatera, Banda Aceh.
Seakan dinding tembok,
tiang-tiang, dan langit-langit masjid ingin berbicara. Aku berjalan memutar dan
memandangi sekeliling seisi masjid Baiturahim. Masjid yang berdiri puluhan
tahun yang lalu, kini tetap teguh ditempa masa.
Suasana terang, deburan
ombak terus berdebur beberapa meter dari belakang masjid. Membuat ronah masjid
begitu menenangkan. Diri ini, seakan menjadi sosok perhatian setiap bagian-bagian
dari bagunan ini. Begitu banyak bangunan yang hancur, bahkan ratusan kilometer
ombak menyapuh puluhan rumah, bahkan robah dan hanyut tak bersisa. Tapi, satu
bangunan sakral yang didirikan sebagai wujud perhambahan muslim kepada Allah
swt tetap berdiri atas kebesaran empu-Nya.
Tergetar, bahkan terasa
seolah bangunan masjid memperhatikanku. Seolah aku merasa tak pantas dan layak
duduk bersimpuh di dalamnya. Andai saja bangunan masjid itu dapat berbicara,
mungkin saja aku sudah diteriaki untuk berhenti dan jangan sampai berjalan
memasuki pintu gerbang masjid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar