PERADABAN
: RUMAH TANGGA
“Membangun
rumah tangga sama halnya dengan membangun peradaban dunia”.
Begitulah kata beberapa
pembesar negeri ini atau yang lebih di kenal sebagai para pejuang atau founding
father negeri ini. Sebut saja, Buya hamkah, K.H Agus Salim, Bung Hatta, Bung
Karno dan lainnya. Secara tertulis kita tak akan pernah menemukan pernyataan
yang mengemukan hal demikian. Namun dari cara para pejuang kemerdekaan negeri
ini memperjuangakan kemerdekaan, semuanya berhasil membangun masyarakat yang
bebas dari penjajah.
Kita baca dan pahami
kilas balik gerak langkah perjuangan salah satu dari mereka. Maka akan kita
dapati keberhasilan mereka dalam membangun rumah tangga dan keluarganya. Hal
ini secara tidak langsung dapat kita amati dari pengaruh generasi yang lahir dari garis keturunan
pejuang tersebut.
Anak-anak dari pendiri
negera ini, telah mulai menua. Satu persatu memiliki suara dan pengaruh yang
besar dalam mengisi masa-masa kemerdekaan dan kebebasan negeri ini.
Tak terbayangkan bagaimana
mereka membagi waktu dan tubuhnya untuk keluarga, rakyat dan bangsa ini.
Sungguh, jika saja para
pejuang pada saat itu larut dalam ketidakmampuannya, putus asa dalam jerat
ketidakmampuannya. Dan malas-malas seperti generasi yang hidup pada masa ini, tentu
saja tanah pusaka ini tak akan pernah bebas dari jerat bangsa-bangsa penjajah.
Bangsa yang lebih dari
segala hal, bangsa yang tidak hanya menjajah negeri ini dari segi
intelektualnya, tapi dari semua aspek kehidupan kita tunduk tersipu dalam
ketidakberdayaan.
Namun, bagi mereka yang
hidup pada masanya, yang tergerak hatinya dan menjerit dalam tangis melihat
bangsanya diperlakukan layaknya sapi perah.
Mereka bergerak dan
mulai bangkit. Mengorbankan umur bahkan cinta meraka dalam tujuan kemerdekaan.
Tak terbayangkan nasib anak-anak bahkan istri
mereka, tak terbayangkan bagaimana nasib rumah tangga dari buah pernikahan
mereka. Tak terbayangkan bagaimana mereka membina bahkan mempertahankannya
hingga tetes darah telah mongering di negeri ini.
Sungguh begitu
perjalanan yang tak terbantahkan.
Keberhasilan mereka
dalam membangun negera berbandin lurus dengan keberhasilan membina dan
membangun rumah tangga.
Waajar saja jika
pepatah sederhana ini cukup sering keluar dari ucapan para pembesar yang ada
daalam sejarah “di Balik pemimpin atau laki-laki hebat dan luar biasa pasti ada
sosok wanita yang jauh lebih hebat bahkan lebih luar biasa di belakangnya”.
Rata-rata pemimpin
negera di dunia ini, akan meng “iya”kan pernyataan tersebut. Ntahkah wanita itu
adalah istrinya atau yang lebih terhormat dan jauh lebih mulia yaitu sosok
“ibunya”.
Menyelami perjalanan
hidup dan kepemimpinan jauh di jazirah Arab, bahkan jauh tertinggal melampau
zaman. Kepemimpinan para khalifah, generasi pertama Islam yang hidup pada zaman
Rasulullah saw memberikan perhatian yang besar pada pembinaan dan pembangunan
rumah tangga. Masa jahiliyah, masa kebodohan masyarakat Mekkah dalam
memperlakukan anak dan istrinya, mengabaikan rumah keadaan rumah tangga. Bahkan
sama sekali tidak menghargai keberadaan perempuan di masanya.
Kita tak akan pernaah
lupa, bagaimana sejarah Umar Bin Khathab yang pernah mengubur hidup-hidup anak
perempuannya. Pada masa itu, memeiliki seorang anak perempuan merupakan sebuah
aib dalam keluarga.
Anak perempuannya saja
rela beliau kubur hidup-hidup, tak dapat dibayangkan bagaimana beliau
memperlakukan istrinya.
Setalah islam datang,
saat keimanan mulai masuk dan mengenangi hatinya dengan kecintaan kepada Allah
dan Rasulullah. Saat itu juga, perlakuan beliau terhadap keluarga berubah.
Bahkan dalam perjalanan beliau ingin menemui Rasulullah, beliau datang dan
memukul adik perempuannya dan suaminya. Sampai hatinya tergerak ingin mendengar
dan menyentuh lembaran Surat dan Ayat Al Qur’an yang tertulis pada kulit hewan
atau kayu.
Tiba suatu masa, ketika
seorang sahabat ingin mengadukan persoalan istrinya kepada khalifah Umar Bin
Khathab. Sahabat tersebut ingin mengadukan istrinya yang cerewat dan suka
membatah bahkan marah-marah kepadanya selaku suamninya. Sahabat tersebut berjalan
menuju rumah khalifah. Belum sampai sahabat tersebut masuk dan mengetuk pintu.
Beliau temui sang khalifah yang sedang dimarahi istri beliau. Melihat kondisi
yang demikian, akhirnya sang sahabat pulang dan mengurungkan niatnya.
Akan tetapi. Pada suatu
kesempatan khalifah Umar Bin Khathab menyampaikan alasan beliau. Kenapa beliau
hanya diam dan mendengarkan istrinya ketika marah. Dengan lemah lembut dan
penuh wibawah beliau menjawab “Sesungguhnya istri yang cerewet itu merupakan
wanita yang penyayang. Aku bukan takut terhadap istriku, namun aku begitu
menghormati dan mencintainya. Ketika ia marah bahkan terlihat cerewet
terhadapku bukankah itu wajar saja. Seharian beliau merawat anak-anakku,
memenuhi kebutuhan keluarga, merapikan rumah, mencuci bahkan membersihkan
pakaianku dan anak-anakku. Menyediakan makanan dan minuman bagiku. Setiap hari
selalu ia lakukan untukku dan anak-anakku. Tak sepatutnya aku balik
memarahinya” ucap khalifah Umar.
Begitulah para pemimpin
besar dalam menjaga bahkan mempertahankan rumah tangganya. Oh, sungguh siapa
yang tak kelal Umar. Pada masa jahiliyah saja, satan takut berpapasan jalan
dengan beliau. Apalagi saat beliau memeluk agama islam.
Banyak contoh pemimpin
lainnya. Terang saja kata Ustad Fahri Hamzah dalam sebuah Twitt-nya. Membangun
keluarga sama susahnya dengan membangun keluarga. Andai saja semau warga Negara
di negeri ini bertanggung jawab dalam membina dan membangun keluarganya.
Mungkin saja, In Shaa Allah pembangunan Negara ini akan lebih mudah. Tentunya
masyarakat yang madani dan bermartabat serta sejahtrah dan penuh keadilan tak
hanya sebatas mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar