Pages

Jumat, 12 Desember 2014

PERADABAN : RUMAH TANGGA



PERADABAN : RUMAH TANGGA


“Membangun rumah tangga sama halnya dengan membangun peradaban dunia”. 
Begitulah kata beberapa pembesar negeri ini atau yang lebih di kenal sebagai para pejuang atau founding father negeri ini. Sebut saja, Buya hamkah, K.H Agus Salim, Bung Hatta, Bung Karno dan lainnya. Secara tertulis kita tak akan pernah menemukan pernyataan yang mengemukan hal demikian. Namun dari cara para pejuang kemerdekaan negeri ini memperjuangakan kemerdekaan, semuanya berhasil membangun masyarakat yang bebas dari penjajah.
Kita baca dan pahami kilas balik gerak langkah perjuangan salah satu dari mereka. Maka akan kita dapati keberhasilan mereka dalam membangun rumah tangga dan keluarganya. Hal ini secara tidak langsung dapat kita amati dari pengaruh  generasi yang lahir dari garis keturunan pejuang tersebut.
Anak-anak dari pendiri negera ini, telah mulai menua. Satu persatu memiliki suara dan pengaruh yang besar dalam mengisi masa-masa kemerdekaan dan kebebasan negeri ini.
Tak terbayangkan bagaimana mereka membagi waktu dan tubuhnya untuk keluarga, rakyat dan bangsa ini.
Sungguh, jika saja para pejuang pada saat itu larut dalam ketidakmampuannya, putus asa dalam jerat ketidakmampuannya. Dan malas-malas seperti generasi yang hidup pada masa ini, tentu saja tanah pusaka ini tak akan pernah bebas dari jerat bangsa-bangsa penjajah.
Bangsa yang lebih dari segala hal, bangsa yang tidak hanya menjajah negeri ini dari segi intelektualnya, tapi dari semua aspek kehidupan kita tunduk tersipu dalam ketidakberdayaan.
Namun, bagi mereka yang hidup pada masanya, yang tergerak hatinya dan menjerit dalam tangis melihat bangsanya diperlakukan layaknya sapi perah.
Mereka bergerak dan mulai bangkit. Mengorbankan umur bahkan cinta meraka dalam tujuan kemerdekaan.
Tak  terbayangkan nasib anak-anak bahkan istri mereka, tak terbayangkan bagaimana nasib rumah tangga dari buah pernikahan mereka. Tak terbayangkan bagaimana mereka membina bahkan mempertahankannya hingga tetes darah telah mongering di negeri ini.
Sungguh begitu perjalanan yang tak terbantahkan.
Keberhasilan mereka dalam membangun negera berbandin lurus dengan keberhasilan membina dan membangun rumah tangga.
Waajar saja jika pepatah sederhana ini cukup sering keluar dari ucapan para pembesar yang ada daalam sejarah “di Balik pemimpin atau laki-laki hebat dan luar biasa pasti ada sosok wanita yang jauh lebih hebat bahkan lebih luar biasa di belakangnya”.
Rata-rata pemimpin negera di dunia ini, akan meng “iya”kan pernyataan tersebut. Ntahkah wanita itu adalah istrinya atau yang lebih terhormat dan jauh lebih mulia yaitu sosok “ibunya”.
Menyelami perjalanan hidup dan kepemimpinan jauh di jazirah Arab, bahkan jauh tertinggal melampau zaman. Kepemimpinan para khalifah, generasi pertama Islam yang hidup pada zaman Rasulullah saw memberikan perhatian yang besar pada pembinaan dan pembangunan rumah tangga. Masa jahiliyah, masa kebodohan masyarakat Mekkah dalam memperlakukan anak dan istrinya, mengabaikan rumah keadaan rumah tangga. Bahkan sama sekali tidak menghargai keberadaan perempuan di masanya.
Kita tak akan pernaah lupa, bagaimana sejarah Umar Bin Khathab yang pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Pada masa itu, memeiliki seorang anak perempuan merupakan sebuah aib dalam keluarga.
Anak perempuannya saja rela beliau kubur hidup-hidup, tak dapat dibayangkan bagaimana beliau memperlakukan istrinya.
Setalah islam datang, saat keimanan mulai masuk dan mengenangi hatinya dengan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Saat itu juga, perlakuan beliau terhadap keluarga berubah. Bahkan dalam perjalanan beliau ingin menemui Rasulullah, beliau datang dan memukul adik perempuannya dan suaminya. Sampai hatinya tergerak ingin mendengar dan menyentuh lembaran Surat dan Ayat Al Qur’an yang tertulis pada kulit hewan atau kayu.
Tiba suatu masa, ketika seorang sahabat ingin mengadukan persoalan istrinya kepada khalifah Umar Bin Khathab. Sahabat tersebut ingin mengadukan istrinya yang cerewat dan suka membatah bahkan marah-marah kepadanya selaku suamninya. Sahabat tersebut berjalan menuju rumah khalifah. Belum sampai sahabat tersebut masuk dan mengetuk pintu. Beliau temui sang khalifah yang sedang dimarahi istri beliau. Melihat kondisi yang demikian, akhirnya sang sahabat pulang dan mengurungkan niatnya.
Akan tetapi. Pada suatu kesempatan khalifah Umar Bin Khathab menyampaikan alasan beliau. Kenapa beliau hanya diam dan mendengarkan istrinya ketika marah. Dengan lemah lembut dan penuh wibawah beliau menjawab “Sesungguhnya istri yang cerewet itu merupakan wanita yang penyayang. Aku bukan takut terhadap istriku, namun aku begitu menghormati dan mencintainya. Ketika ia marah bahkan terlihat cerewet terhadapku bukankah itu wajar saja. Seharian beliau merawat anak-anakku, memenuhi kebutuhan keluarga, merapikan rumah, mencuci bahkan membersihkan pakaianku dan anak-anakku. Menyediakan makanan dan minuman bagiku. Setiap hari selalu ia lakukan untukku dan anak-anakku. Tak sepatutnya aku balik memarahinya” ucap khalifah Umar.
Begitulah para pemimpin besar dalam menjaga bahkan mempertahankan rumah tangganya. Oh, sungguh siapa yang tak kelal Umar. Pada masa jahiliyah saja, satan takut berpapasan jalan dengan beliau. Apalagi saat beliau memeluk agama islam.
Banyak contoh pemimpin lainnya. Terang saja kata Ustad Fahri Hamzah dalam sebuah Twitt-nya. Membangun keluarga sama susahnya dengan membangun keluarga. Andai saja semau warga Negara di negeri ini bertanggung jawab dalam membina dan membangun keluarganya. Mungkin saja, In Shaa Allah pembangunan Negara ini akan lebih mudah. Tentunya masyarakat yang madani dan bermartabat serta sejahtrah dan penuh keadilan tak hanya sebatas mimpi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar