Problem Manajemen Air :
Ketersedian Air Bersih
Sejenak kita mengamati permasalahan
terkait manajemen aiar di Kota Padang, selama ini kita acapkali kita abai dan cenderung
mau ambil pusing terhadap persoalan manajemen air. Bahkan kita tidak sadar akan
penggunaannya secara berlebihan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap harinya, setidaknya
kita membutuhkan 20 liter air per orang, baik itu untuk keperluan air minum,
memasak, mandi, mencuci dan sebagainya. Jumlah tersebut adalah standar
kecukupan atas kebutuhan kelangsungan hidup kita agar terjamin dengan baik. Dan
jika kurang dari itu, maka kualitas
hidup kita akan terancam.
Realitanya, masih banyak
manusia di muka Bumi ini yang
mendapatkan akses air bersih jauh dari angka normal tersebut. Bahkan masih ada
manusia yang mendapatkan air kurang dari 5 liter sehari, dan pada kasus yang
lebih ekstrem hanya mendapatkan 1 liter perhari, jumlah yang hanya cukup untuk
mendapat dua atau tiga gelas air minum. Kadang kita bertanya, kenapa kita perlu
memperhatikan permasalahan pengelolaan air. Bukankah jumlah total air di muka Bumi
tidak akan berkurang ataupun bertambah walau satu tetespun? Namun, apa yang
kita takutkan atas ketersedian air?
Permasalahan air akan
menjadi lebih serius jika kita hanya berpikir sesederhana itu. Pada saat ini,
yang menjadi perhatian kita bersama adalah terkait ketersedian air bersih yang
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Terlebih lagi, kebijakan
Perdagangan Bebas sudah di depan mata, belum lagi kita akan segara menghadapi
tantang dalam perekonomian Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015 nanti.
Tentu saja tingkat urbanisasi dan juga produksi barang akan meningkat. Pada
kondisi ini, kebutuhan air dan juga pencemaran lingkungan khususnya pada sungai
dan danau akan semakin meningkat.
Detik ini, permasalahan manajemen
dan ketersedian air bersih perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah
Sumatera Barat, khususnya Pemerintah Kota Padang. Terkait permasalahan ini, United Development Program (UNDP) pernah
mengeluarkan sebuah laporan bahwa ketersedian air sudah menjadi perhatian
banyak negara. Kesimpulan laporan tersebut menjelaskan ketersedian air yang
menjadi masalah inti krisis air dunia justru berakar pada kekuasaan, kemiskinan
dan ketidakadilan dan bukan pada ketersedian air itu sendiri.
Permasalahan yang lebih
menarik perhatian kita, khususnya di Kota Padang yakni terkait permasalahan
manajemen atau pengelolaan air. Sudah menjadi budaya dan bahkan sudah menjadi
pilihan masyarakat jika pada hari ini lebih
memilih untuk membeli air galon atau air isi ulang dalam memenuhi kebutuhan
akan air. Demikian juga jika kita amati, pertumbuhan depot air minum di Kota
Padang semakin subur dan menjamur. Usaha yang menjanjikan ditengah persoalan
ketersedian air bersih yang dihadapi masyarakat Kota Padang. Kalau ditanya, kenapa
tidak masak saja dirumah? Maka akan timbul ragam jawaban. Masyarakat tidak
menggunakan persedian air dari sumur galian ataupun PDAM untuk keperluan
sehari-hari, kualitas air yang buruk, berbaun tidak sedap.
Kondisi ini dapat kita
temui ditengah masyarakat yang tinggal disekitaran Kecamatan Padang Utara dan
Padang Barat, tentunya Kota Padang secara umum. Bahkan tak jarang, kita temui
masyarakat hanya menggunakan air persedian dari aliran PDAM dan sumur hanya
untuk keperluan mandi dan mencuci. Sedangkan untuk minum dan memasak masyarakat
menggunakan air isi ulang atau galon.
Kontradiktif memang, jika
kita amati dari kondisi hidrologi dan klimatologi Kota Padang yang cukup strategis
dan memadai. Tentu menjadi tanda tanya dibenak kita mengenai persoalan ini, apa
yang terjadi dengan ketersedian air bersih di Kota Padang? Perlu kita sadari,
kondisi ketersedian air yang buruk di Kota Padang bukan tanpa sebab. Jika kita
amati dan pantau sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sungai resapan air
laut di Kota Padang. Maka, akan kita dapati kondisi air yang kotor dan
menjijikan. Bahkan, kondisi air yang demikian membentang dan merata dibeberapa
sungai yang terdapat di Kota Padang.
Jika boleh kita akui,
persoalan ketersedian air di Kota Padang sudah memasuki zona kritis, bahkan
suplai air bersih untuk keperluan minum dan memasak diperoleh dari
kabupaten/kota di luar Padang. Mengamati kondisi ini, pemerintah perlu
mmberikan perhatian serius dan masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi
lingkungan, terkait dengan pengelolaan dan penggunaan air. Saat ini dibeberapa
Negara pun, air telah menjadi sumber konflik yang tiada habisnya tidak menuntut
di Kota Padang suatu saat nanti. Menurut Haryo (2010) Lebih dari 1,1 milyar
manusia hidup dalam kondisi kekurangan air bersih. Pada tahun 2030 nanti, diperkirakan 3,9 milyar manusia akan hidup di
lingkungan yang mengalami krisis air. Jumlah tersebut akan meningkat hampir dua
kali lipat (6 Milyar) pada tahun 2050 yang akan mendatang. Pertanyaan pun
muncul, Bagaimana dengan Kota Padang pada tahun tersebut? Dengan kondisi tata
kelola atau manajemen ketersedian airnya buruk dan jauh dari memadai apakah
kita siap menghadapi kondisi terburuk tersebut? Wallahu alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar