Pages

Kamis, 18 Desember 2014

KOTA PADANG, ANCAMAN KRISIS AIR BERSIH



Kota Padang, Ancaman Krisis Air Bersih 

“when save a river, we save a major part of an ecosystem, and we save ourselves as well because of our dependence—physical, economic, spiritual,--on the water and its community of life. (tim Palmer, The Wild and scenic Rivers of America)”

Air menjadi bagian terbesar di atas bumi ini. Sekitar 80% air menyelimuti bumi dan menjadi sumber kehidupan bagi penghuninya. Dari 80% tersebut, hanya 3 % saja yang bisa dikonsumsi manusia (fresh water). Sedangkan 97 % lainnya adalah air asin (saline) yang ada dilautan. Dari 3 % fresh water tersebut, 68,7 %-nya berbentuk es beku dan glacier. Kemudian 30,1 persennya adalah air bawah tanah (ground water). Sisanya 1,2 % merupakan air permukaan yang berbentuk sungai, danau dan sebagainya.
Kita mungkin berpikir, dengan komposisi air di bumi sebesar itu, apakah persedian sumber daya air tidak terbatas? Ya, Kita bisa saja berasumsi demikian. Akan tetapi masalahnya sekarang, mengapa air menjadi isu internasional bahkan setiap negara dan pemerintah daerah perlu memperhatikannya? Persoalan lebih serius dan akan menjadi tantangan masyarakat dunia di masa mendatang yakni prihal ketersedian dan akses air bersih bagi masyarakat. Maka, tidak heran jika hari ini persoalan air dinyatakan dalam kondisi kritis. Dan apa yang dikatakan oleh Tim Palmer bukanlah tanpa dasar dan alasan, air akan menjadi ancaman terbesar yang akan dihadapi manusia dimasa depan.
Kita sadar betul, bahwa air adalah sumber daya yang menjadi hajat hidup manusia. Kita, dan anak keturunan kita berhak dan wajib untuk mewariskannya untuk generasi yang akan datang. Bahkan jika mengamati, kurang lebih pada tahun 1990-an, lebih dari 1,6 milyar manusia memiliki akses terhadap air bersih. Namun, karena faktor urbanisasi, pertumbuhan populasi dan perubahan iklim, aksesibiltas manusia terhadap air bersih pun berubah.
Sesungguhnya air adalah sumber daya yang bisa diperbaharui. Baik itu, air tanah ataupun air permukaan mampu memperbaharui dirinya sendiri melalui proses siklus air. Melalui evaporasi, mendung dan hujan kembali lagi ke bumi menjadikan air mampu secara teratur tersedia sepanjang masa.
Perkembangan satu abad terakhir, populasi penduduk dunia bertambah dengan pesat, sehingga kebutuhan terhadap air bersih pun meningkat dengan pesat pula. Sementara kemampuan air untuk melakukan proses pembaharuan terbatas iklim, dan kebutuhan manusia setiap waktunya akan air juga terus-menerus meningkat. Tingkat konsumsi air yang berjalan dengan cepat tidak sebanding dengan kemampuan air untuk memperbaharui cadangan persediannya.
Dengan semakin menipisnya sumber cadangan air bersih dan tantangan krisis air yang semakin mengacam kehidupan, seharusnya menjadi perhatian serius masyarakat dan para pengambil kebijakan. Tuntutan untuk menerapkan pola manajemen air yang tepat harus segera dilakukan untuk mengantisipasi skenario terburuk langkahnya air bersih di masa depan. Walau saat ini, perlahan-lahan sudah mulai kita rasakan dampaknya di beberapa daerah di Indonesia, termaksud di Sumatera Barat dan Kota Padang khususnya.
Kita perlu belajar dari beberapa negara tentangga yang melakukan pola manajemen air yang sudah baik. Kita dapat belajar dari kondisi terburuk yang pernah dialami dan langkah terbaik yang pernah diambil terkait kebijakan manajemen air yang telah dijalankan. Kita ambil contoh negara Jepang dan Kamboja, dua Negara yang memiliki debit air hujan sama, yakni rata-rata 160 cm pertahun. Namun, realita yang dihadapi, Jepang bisa menggunakan air setidaknya 400 liter untuk keperluan sehari-hari. sedangkan Kamboja hanya mempu mengakses air haris sepersepuluh dari orang Jepang, atau 40 liter air perhari.
Lebih menarik lagi Negara Singapura, sebuah negara kecil dengan luas kurang lebih 700 kilometer persegi, hampir dikatakan tidak mempunyai cadangan air sendiri. Baik itu air permukaan dan air tanah. Bahkan pada tahun 1960 dan 1970-an Negara pulau ini pernah menghadapi persoalan air bersih yang berat. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan air pendudukanya, ditempuh jalur impor dari Negara Malaysia dengan harga 1 sen per 1.000 galon air. Namun, dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Singapura, Negara tersebut mulai menerapkan produksi air bersih, mulai dari membangun infrastruktur penampungan air (reservoir), membangun sistem drainase, investasi besar dalam desalinasi air laut, pengelolaan limbah pakai dan sebagainya. Dengan perencanaan yang baik dan infrastruktur pengelolaan air yang lengkap, Maka tidak heran jika Singapura memiliki slogan “putting every drop to good use”.  Bahwa setiap tetes air yang datang harus bisa menjadi air yang bermanfaat, dan setiap tetes air yang dihasilkan harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat pula (Haryo:2010).
                Kita tidak menapikkan tantangan krisis air bersih yang akan dihadapi Indonesia dimasa yang akan datang, terlebih di Kota Padang. Kita dapat mengamati bagaimana pengelolaan dan manajemen air di Kota Padang. Kita tentu menyadari sebagai negara dan daerah yang kaya akan sumber daya air dengan kondisi hidrologi serta kilimatologi yang strategis dan memadai. Akan tetapi, kita belum memadai dalam manajemen dan ketersedian air bersih. Sudah saatnya kita berbenah dan bergerak. Masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama dalam upaya perbaikan sistem pengelolaan dan manajemen air di Kota Padang. Tantangan krisis air global sudah di depan mata, saatnya kita Kota Padang berbenah. Walau kita sadar, persoalan manajemen air bersih bukanlah persoalan yang sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu jangka singkat. Setidaknya persoalan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah ke depannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar