KOTA PADANG, ANCAMAN KRISIS AIR BERSIH
Kota Padang, Ancaman Krisis
Air Bersih
“when save a river, we save a major part of an ecosystem, and we save
ourselves as well because of our dependence—physical, economic, spiritual,--on
the water and its community of life. (tim Palmer, The Wild and scenic Rivers of
America)”
Air menjadi
bagian terbesar di atas bumi ini. Sekitar 80% air menyelimuti bumi dan menjadi
sumber kehidupan bagi penghuninya. Dari 80% tersebut, hanya 3 % saja yang bisa
dikonsumsi manusia (fresh water). Sedangkan
97 % lainnya adalah air asin (saline)
yang ada dilautan. Dari 3 % fresh water
tersebut, 68,7 %-nya berbentuk es beku dan glacier. Kemudian 30,1 persennya
adalah air bawah tanah (ground water).
Sisanya 1,2 % merupakan air permukaan yang berbentuk sungai, danau dan
sebagainya.
Kita mungkin berpikir,
dengan komposisi air di bumi sebesar itu, apakah persedian sumber daya air
tidak terbatas? Ya, Kita bisa saja berasumsi demikian. Akan tetapi masalahnya
sekarang, mengapa air menjadi isu internasional bahkan setiap negara dan
pemerintah daerah perlu memperhatikannya? Persoalan lebih serius dan akan menjadi
tantangan masyarakat dunia di masa mendatang yakni prihal ketersedian dan akses
air bersih bagi masyarakat. Maka, tidak heran jika hari ini persoalan air dinyatakan
dalam kondisi kritis. Dan apa yang dikatakan oleh Tim Palmer bukanlah tanpa
dasar dan alasan, air akan menjadi ancaman terbesar yang akan dihadapi manusia
dimasa depan.
Kita sadar
betul, bahwa air adalah sumber daya yang menjadi hajat hidup manusia. Kita, dan
anak keturunan kita berhak dan wajib untuk mewariskannya untuk generasi yang
akan datang. Bahkan jika mengamati, kurang lebih pada tahun 1990-an, lebih dari
1,6 milyar manusia memiliki akses terhadap air bersih. Namun, karena faktor
urbanisasi, pertumbuhan populasi dan perubahan iklim, aksesibiltas manusia
terhadap air bersih pun berubah.
Sesungguhnya
air adalah sumber daya yang bisa diperbaharui. Baik itu, air tanah ataupun air
permukaan mampu memperbaharui dirinya sendiri melalui proses siklus air.
Melalui evaporasi, mendung dan hujan kembali lagi ke bumi menjadikan air mampu
secara teratur tersedia sepanjang masa.
Perkembangan
satu abad terakhir, populasi penduduk dunia bertambah dengan pesat, sehingga
kebutuhan terhadap air bersih pun meningkat dengan pesat pula. Sementara
kemampuan air untuk melakukan proses pembaharuan terbatas iklim, dan kebutuhan
manusia setiap waktunya akan air juga terus-menerus meningkat. Tingkat konsumsi
air yang berjalan dengan cepat tidak sebanding dengan kemampuan air untuk memperbaharui
cadangan persediannya.
Dengan semakin
menipisnya sumber cadangan air bersih dan tantangan krisis air yang semakin
mengacam kehidupan, seharusnya menjadi perhatian serius masyarakat dan para
pengambil kebijakan. Tuntutan untuk menerapkan pola manajemen air yang tepat
harus segera dilakukan untuk mengantisipasi skenario terburuk langkahnya air
bersih di masa depan. Walau saat ini, perlahan-lahan sudah mulai kita rasakan
dampaknya di beberapa daerah di Indonesia, termaksud di Sumatera Barat dan Kota
Padang khususnya.
Kita perlu
belajar dari beberapa negara tentangga yang melakukan pola manajemen air yang
sudah baik. Kita dapat belajar dari kondisi terburuk yang pernah dialami dan
langkah terbaik yang pernah diambil terkait kebijakan manajemen air yang telah
dijalankan. Kita ambil contoh negara Jepang dan Kamboja, dua Negara yang
memiliki debit air hujan sama, yakni rata-rata 160 cm pertahun. Namun, realita
yang dihadapi, Jepang bisa menggunakan air setidaknya 400 liter untuk keperluan
sehari-hari. sedangkan Kamboja hanya mempu mengakses air haris sepersepuluh
dari orang Jepang, atau 40 liter air perhari.
Lebih menarik
lagi Negara Singapura, sebuah negara kecil dengan luas kurang lebih 700
kilometer persegi, hampir dikatakan tidak mempunyai cadangan air sendiri. Baik
itu air permukaan dan air tanah. Bahkan pada tahun 1960 dan 1970-an Negara
pulau ini pernah menghadapi persoalan air bersih yang berat. Bahkan untuk
mencukupi kebutuhan air pendudukanya, ditempuh jalur impor dari Negara Malaysia
dengan harga 1 sen per 1.000 galon air. Namun, dengan kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah Singapura, Negara tersebut mulai menerapkan
produksi air bersih, mulai dari membangun infrastruktur penampungan air (reservoir), membangun sistem drainase,
investasi besar dalam desalinasi air laut, pengelolaan limbah pakai dan
sebagainya. Dengan perencanaan yang baik dan infrastruktur pengelolaan air yang
lengkap, Maka tidak heran jika Singapura memiliki slogan “putting every drop to good use”. Bahwa setiap tetes air yang datang harus bisa
menjadi air yang bermanfaat, dan setiap tetes air yang dihasilkan harus
digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat pula (Haryo:2010).
Kita
tidak menapikkan tantangan krisis air bersih yang akan dihadapi Indonesia
dimasa yang akan datang, terlebih di Kota Padang. Kita dapat mengamati bagaimana
pengelolaan dan manajemen air di Kota Padang. Kita tentu menyadari sebagai negara
dan daerah yang kaya akan sumber daya air dengan kondisi hidrologi serta
kilimatologi yang strategis dan memadai. Akan tetapi, kita belum memadai dalam manajemen
dan ketersedian air bersih. Sudah saatnya kita berbenah dan bergerak.
Masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama dalam upaya perbaikan sistem
pengelolaan dan manajemen air di Kota Padang. Tantangan krisis air global sudah
di depan mata, saatnya kita Kota Padang berbenah. Walau kita sadar, persoalan
manajemen air bersih bukanlah persoalan yang sederhana dan dapat diselesaikan
dalam waktu jangka singkat. Setidaknya persoalan ini harus menjadi perhatian
serius pemerintah ke depannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar