setting

My Story : ARDILES: Keresahan Hati

Keresahan Hati

KERESAHAN HATI

By Ardiles

Seperti biasa udara pagi di kampung halamanku selalu saja membuatku menggigil kedinginan ketika selimut mulai ku lepaskan dari balutan yag menyelimuti seluruh tubuhku. Dingin udara dishubuh ini tidaklah sedingin hatiku dan tak lah sedingin apa yang telah dilakukannya terhadapku. Usai sudah semua berkahir dan semua sudah mengkristal di dalam jiwaku. Semua telah membeku keras di dalam ingatanku, hanya uap rasa dingin saja yang terpancar dari tatapan dan prilaku ku. Usai sudah semua berubah, jangan pernah berharap membuat hatiku cair dan kembali menggingat kenangan-kenangan itu. Semua tidak akan merubah keputusanku dan semua tidak berarti apa-apa bagiku.
Bagiku Rindu hanya masa lalu, dan masa laluku bersama Rindu harus aku lupakan. Pernikahanku hanya tinggal beberapa minggu lagi, dan keputusan ini sudah ini sudah bulat. Sebulat rembulan takala bersinar terang saat purnama tiba. Semua sudah berlalu hampir dua tahun, aku menggingatnya, Rindu bukan karena masih ada cinta dihatiku. Namun aku menggingat Rindu karena aku pernah menyatakan kepadanya bahwa aku akan melamar dan segera menikahinya. Saat itu janji untuk menikahinya bukan hanya omong kosong atau janji manis yang keluar dari mulut. Bahkan keinginanku dan bentuk keseriusanku ingin menikahinya sudah ku sampaikan kepada Ayah dan Ibunya.
Saat itu, kalau bukan karena keresahan hati Rindu, yah kalau bukan karena ketidak percayaan hati rindu, dan kalau bukan karena ketidakjujuran Rindu. Mungkin saja bulan depan Dia yang akan menjadi wanita yang akan duduk bersanding denganku, wanita yang akan menjadi penunutun surgaku, wanita yang akan menjalani suka duka bersamaku, wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku dan mungkin Rindu wanita yang akan menjadi sebahagian dari penyempurna agamaku. Semuanya pupus dan semua musnah, janji itu tak tertunaikan dan janji itu lebur bersama keresahan hati Rindu. Mungki kalian akan berpikir dan beranggapan masalah yang terjadi hanya perkara kecil, hanya masalah kecil kata sebagian banyak orang.
“Rai, coba kau pikirkan lagi baik-baik. Apa kebohongan yang di lakukan Rindu itu salah. Salahkah dia jika mencintai dan mengginginkanmu menjadi suaminya?” ucap Ibu “maaf bu, Rai tetap tidak bisa melanjutkannya. Perkara kecil yang Rindu anggap dan semua orang pikirkan bisa diselesaikan dengan mudah. Tapi, tidak untuk Rai Bu”
“Ibu berharap engkau membuat keputusan yang terbaik Rai, Ibu akan selalu mendoakan apapun yang akan menjadi keputusan dan pilihanmu, Nak. Shalat dan berdoalah kepada Allah Sang Pemilik hati yang menebarkan benih cinta, agar engkau diberikan petunjuk dan keteguhan, Nak”
“Iya Bu, terima kasih Bu”
Sejenak aku duduk dan merenungi keputusanku siang tadi. Jika saja bukan masalah kepercayaan dan kejujuran yang terjadi antara aku dan Rindu, hal ini tidak perlu terjadi. Jika bukan karena dua keresahan hati itu, mungkin aku bisa menerimanya dan segara menikahinya. Rindu memintaku untuk segera menikahinya bukan sekali dua kali, tapi sudah terlalu sering. Aku belum menikahinya hanya karena aku masih punya tanggungjawab terhadap dua adikku yang masih kuliah. Aku sudah berjanju kepada diriku tidak akan menikah sebelum kedua adikku tamat dan diwisuda, dan Rindu sangat tahu akan hal ini. Bagaimana Ia tidak tahu, Ia sudah mengenal semua keluargaku. Aku sudah mengenalnya lama sekali, bahkan Rindu tahu aku berhenti kuliah dan memutuskan bekerja demi adik-adikku.  Saat itu Rindu mengirim sms singkat kepadaku,
“Assalamu alaikum wr wb. Semoga keberkahan dan nikmat Allah senangtiasa tercurah kepada Abang yang jauh dari pandangan dan kerinduan hati. Bang ada yang ingin Rindu sampaikan kepada Abang. Bang, Rindu harap Abang segera melamar Rindu dalam bulan ini.kalau abang tidak melamar Rindu dalam bulan ini. Awal bulan depan akan ada lamaran yang datang. Anak laki-laki teman Ayah akan datang melamar Rindu, Bang.kalau Abang serius dan benar-benar sayang sama rindu, Rindu harap Abang segera melamar dan menikahi Rindu. Mohon maaf atas harapan dari wanita ada dihatimu, dan mohon maaf atas pesan wanita yang mengharap itbahmu.

Wassalamu alaikum wr wb
Rindu Anita Sari”
Usai membaca sms singkat itu, terang saja membuatku cemas dan takut tak kepalang. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Rindu, aku menelponnya.
“Assalamu alaikum wr wb,
“wa alaikum salam wr wb” jawab Rindu.
“Dek, benarkah apa yang Adek sampaikan melalui sms itu?”
“Iya Bang, jadi kapan Abang akan melamar Rindu Bang?’
“Abang harap Rindu bisa bersabar yah, bukan Rindu sudah tahu apa yang harus lakukan sebalum menikah. Dan bukankah sebelumnya Abang juga sudah pernah menyampaikannya dengan Ayah dan Ibu”
“Rindu tahu Bang, dan Rindu juga masih ingat Bang. Maaf Bang, bukankah Annisa sudah lulus kuliah dan Athika sudah menikah. Walau Athika belum tamat, namun bukankah Athika sudah memiliki suami Bang”
“tetap saja, Abang sudah berjanji akan membiayai dan membantu Athika sampai Ia tamat. Walau Athika sudah memiliki suami ataupun anak sekalipun. Abang harap Adek dapat bersabar”
“maafin Athika Bang. Tapi, kapan Abang akan melamar dan menikahi Rindu Bang”?
“Insya Allah enam Bulan lagi Dek. Abang akan datang melamar Adek.”
“iya Bang, Adek adek akan menunggu dan menjelaskan kepada Ayah dan Ibu.
Wassalam wr wb”
“wassalamu alaikum wr wr”
Hanya jelang beberapa hari dari perbincanganku melalui hanphone, aku mengetahui sebuah kebohongan yang membuatku begitu marah, ketidakjujuran yang membuatku tidak pernah menunaikan janji yang akan ku tunaikan enam bulan kemudian. Hanya karena keresahan hati Rindu yang membuatku tidak akan pernah melamar dan minikahinya. Hanya karena Dia telah berbohong dan tidak jujur kepadaku. Hanya karena Dia berkata akan ada lelaki yang melamarnya. Aku tahu tujuan dan maksud hatinya ingin segara membuatku melamar dan menikahinya. Namun bagiku ketidakpercayaan dan kejujuran adalah hal utama dalam mencintai, dan adalah pondasi yang menjadikan bahterah pernikahan dan rumah tangga menjadi keluarga sakinah, mawadda dan warahma.
Untuk masalah ketidakpercayaan aku paham dan tahu betul kepribadian dan karakter Rindu. Rindu adalah anak dari pemilik pondok pesantren Ulul Albab tempat aku belajar dan menuntu ilmu di kala aku melajutkan pendidikan menengah pertama. Aku percaya akan kesetian dan kesucian hati Rindu dan aku percaya Dia akan menjadi Istri yang baik dan penyayang. Aku tidak hanya mengenalnya di pondok pesantren Ayahnya. Usai tamat dipesantren Ayah Rindu aku kembali melajutkan masuk pondok pesantren teman Ayahnya. Ayahnya Rindulah yang mengirimku ke pondok pasantren Ulil Amri bersama Rindu. 
Kami memang satu pasantren namun kami berbeda tempat belajar, semua terpisah antara wanita dan laki-laki. Selama aku dan Rindu di pondok pesantren kami tidak pernah berbicara, kalaupun akan berbicara itu hanya yang penting-penting saja. Setiap liburan dan masuk kembali ke pesantren Akulah yang mengantar pulang dan jemput Rindu. Selama tiga tahun aku melakukannya, hingga kami tamat dan kuliah. Aku tidak pernah mengungkapkan apa yang aku rasakan terhadap Rindu dan begitu juga dengan perasaan Rindu terhadapku. Kami tidak menyampaikan perasaan masing-masing hanya waktu yang membuat kami mengerti perasaan masing-masing. Tidak ada janji dan tidak ada ikrar pacaran yang terlontar dari bibirku. Aku hanya mengatakan aku mencintainya dan aku akan menjaganya karena Allah, itu yang aku ucapkan terakhir sebelum kami berpisah dan kuliah dikampus yang berbeda. 
Melalui surat dan handphone kami berkomunikasi, dan sekali lagi itu hanya untuk hal yang penting saja. Rindu adalah teman baik adikku Athika, dan Rindu tahu semua kelurgaku karena Athika sering mengajak Rindu datang ke rumah. Sejauh itu aku tidak pernah dekat atau berhubungan dengan wanita selain Ibu, kedua adik perempuanku, sanak saudara dan Rindu. Rindu tahu akan hal itu, Dia tahu semua dari kedua adikku, Annisa dan Athika. Dan hubungan kami bersama rasa di dalam hati mekar dan tumbuh begitu saja. Terus mekar dan merekah indah. Dan aku percaya sejauh ini Rindu menjaga hati dan menghijab dirinya terhadap laki-laki lain. Sempurna sudah, Rindu adalah wanita sholeha yang cerdas dan baik hati, berparas rupawan dan berlesung pipit dengan senyum yang menawan. Rindu wanita berkacamata yang sangat suka membaca dan berbaju kurung dengan jilbab besar begitu menawan melihatnya. Sebenarnya lebih dari cukup membuatku mempercayainya menjadi istri yang baik bagi anak-anakku nanti. Namun keresahan hati yang satu lagi dari Rindu yang tak dapat kau terima, ketidakjujuran. Bagiku kejujuran adalah segalanya, kejujuran adalah hal utama dalam membina cinta dan pondasi dalam membina rumah tangga. Kepercayaanku yang begitu besar dan tak terbantahkan karena garis keturunan dan kepribadianya segera luntur dan surut tak tertahankan hanya karena kebohongannya soal lamaran itu. Hanya karena kebohongan yang begitu kecil membuatku takut Ia akan membangun pernikahan dengan satu ketidakjujuran. Aku tidak akan pernah tenang jika apa yang akan kujalani dan kerjakan dibangun atas dasar kebohongan dan ketidakjujuran. Sepele, sepele sakali menurut kalian. Tapi, aku tidak ingin cinta dan pernikahanku dinodai oleh ketidakjujuran. Aku tidak ingin separuh agama yang aku harapkan sirna karena ketidakjujuran, aku tidak ingin anak-anakku lahir atas pernikahan yang berlandaskan ketidakjujuran. Saat siang itu, dua tahun yang lalu aku memutuskan tidak akan pernah melamar dan menikah dengan Rindu. Ayah dan Ibunya dapat menerima keputusanku, tapi sulit untuk Rindu memaafkan dirinya, hingga saat itu kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Belum kering basah dihatiku atas kejadian dan keputusan itu, aku mendapat khabar sebulan kemudian Rindu telah menikah. Ia dijodohkan dengan anak Teman Ayahnya saat sama-sama naik haji beberapa tahun yang lalu.
Aku, aku hanya ikhlas dan juga ikut merasa senang. Pernikahan Rindu cukup membuatku merasa tenang dan nyaman, dengan begitu aku tak perlu merasa takut dengan apa yang akan dirasakan dan dilakukan Rindu. Aku hanya berharap Ia dapat belajar banyak dari pengalaman ini, dengan begitu Ia akan membangun pernikahannya kepercayaan dan pelajaran dari ketidakjujurannya.
Sedangkan aku, dua tahun setalah itu aku tetap sendiri hingga kedua adik perempuan tamat kuliah, menikah dan memiliki suami sampai aku memiliki keponakan yang lucu dan cantik dari Annisa dan Athika. Sampai hari itu terjadi, saat kelahiran anak pertama Annisa. Aku bertemu dengan wanita yang kini akan menikah denganku beberap minggu lagi. Hanya tinggal dua minggu lagi. Wanita yang akan menikah pada jum’at minggu ketiga bulan ini. Kami memilih hari pernikahan pada hari jum’at seprti hari pernikahan yang dipilih Rasulullah ketika menikahi Siti Khodijah dan menikahkan Fatimah anak kesayangannya dengan Ali Bin Abi Thalib yang juga keponakan kesayangannya.
Kalian ingin tahu satu alasan lagi kenapa hari jum’at, kami memilih hari jum’at kerana hari jum’at adalah pertama pertemuan kami. Oh iya, Aku lupa menceritakan kepada kalian bahwa aku sudah kenal lama dengannya, aku mengenalnya saat aku kelas 6 SD dan Dia, Ria. Saat itu, Ria berada di kelas 4 SD. Hari itu, adalah hari jum’at saat diadakan MTQ Tingkat Kecamatan di Kampungku sungai Basi, Kab Bengkulus Selatan. Kami bersaing sangat keras untuk memberikan penampilan yang terbaik, wahhasil MTQ aku yang memenangkan. Dan hanya Ria memperolah juara dua, sedangkan juara ketiganya dimanangkan Annisa, adikku yang kemudian menjadi teman akrabnya. Pertemuan kami tidak sampai disitu saja, jum’at berikutnya dilangsungkan lomba MTQ tingkat Kabupaten, dan kami bertiga mewakili kecamatan kami. Dari ratusan peserta yang hadir dan ikut serta mewakili kecamatan masing-masing di MTQ Kabupaten, ternyata di menangkan oleh Ria, yah Rianda Sakinah Muflihatujannah. Dan Aku memperoleh juara dua. Sedangkan juara ketiga diperoleh kecamatan lainnya. 
Saat itu, Annisa beru kelas 3 SD dan Dia begitu sedih kerena tidak bisa masuk tiga besar dan ikut lomba diprovinsi. Dan Rialah yang membantuku menenangkan adikku, membujuk dan memberikannya semangat sampai adikku tersenyum dan berhenti dari tangisnnya. Jum’at berikutnya tiba, ini adalah perlombaan terakhir. MTQ kali ini sengaja diadakan oleh provinsi dengan agenda tahunan yang diselenggarakan berjenjang dari tingkat desa, kelurahan, kecamatan dan puncaknya adalah di provinsi. Semua Qori dan Qoriah yang hadir adalah yang terbaik di Kabupatennya masing-masing, ini adala pengalamanku pertama ikut MTQ dan sampai tingkat provinsi. Bahkan banyak orang berkata bahwa juara tahun lalu akan menjadi juara kembali di provinsi Bengkulu, dari pesantren ini dan itu, daerah ini dan itu bagus yang akan jadi juara dan pemenang. Sedangkan aku, orang baru yang baru pertama kali mengijakkan kaki di Ibukota provinsi, dan Aku selama sekali tidak menjadi perhitungan dilomba kali ini, aku orang baru yang datang dari desa setinjua langit di atas salah satu barisan bukit desa disejajar bukit barisan. Saat itulah, aku tersenyum simpul ketika Ria, menyapa dan tersenyum kepadaku sembari memberi semangat. Kesempatan ini aku berada di urutan 15 dari 45 peserta yang ikut dan hadir dari 15 Kabupaten. Semau peserta yang mewakili daerahnya adalah yang tebaik dan penampilan mereka semua bagus. Akhirnya setalah mengamati beberapa peserta yang hadir tibalah giliranku. Sedangkan Ria sudah tampil pada urutan ketujuh tadi. Kini aku sudah berdiri di atas mimbar, dan Ria duduk tepat berada di barisan penoton yang satu garis lurus dengan podium tampat aku berdiri. Dia tersenyum dan memberikan semangat sambil mengusap-usap dadanya untuk mengatakan bahwa aku harus rileks dan tenang. Dan aku hanya membalasnya dengan senyum tanpa ada prasangka dan rasa apa-apa. Akhirny lomba MTQ tingkat provinsi aku yang menjadi juaranya. Sedangkan Ria meraih posisi kedua dan yang menjadi juara ketiga berasal dari Kabupaten baru yang baru selesai pemekaran beberapa bulan yang lalu. Aku begitu senang dan Ria mengucapkan selamat kepadaku dan begitu juga aku. Mulai dari pertemuan jum’at itu kami terus bertemu di jum’at bulan dan tahun-tahun berikutnta di ajang lomba mengaji dan MTQ. Dan kami selalu berganti-gantian menduduki juara satu dan dua setiap kali ada perlombaan itu berakhir hingga aku menjelang kuliah dan tinggal di padang.
Saat pertemuan itu, pertemuan pada saat Ia datang melihat keponakanku yang baru lahir, anak Annisa. Senyum beberapa tahun silam itu berputar kembali dikepalaku. Senyum dan tatapan yang tak pernah aku mengerti maksudnya hari itu terulang lagi. Dan saat itu juga benih cinta dari sang pemiliki hati ini tumbuh. Seketika itu juga cinta pada pandangan pertama muncul membuatku tanpa berpikir lama untuk memutuskannya. Saat itu juga aku menanya khabar dan keadaannya. Saat itu, sebelum keluar dari pintu rumahku sebelum Ia beranjak pulang menaiki handa jazznya saat itu aku memanggil dan menyatakan ingin melamar lalu menikahinya. Aku tahu Ria belum menikah dari adikku Annisa, dan Annisa juga pernah menyampaikan kepadaku bahwa Ria menaruh perhatian kepadaku. Dengan malu-malu dan senyum tersipuh Ria mengganguk perlahan, yang aku mengerti itu adalah jawaban “iya”. Lalu dua hari kemudian aku melamarnya, dan ditetapkanlah hari penikahan jum’at minggu ketiga bulan ini. Hanya berselang dua hari untuk memutuskan menikah tanpa pacaran. Menikah atas dasar cinta dan jodoh yang ditetapkan ilahi. Keresahan hati, sejauh ini aku tidak merasakannya. Sedangkan dari Ria, Ia begitu sabar dan ikhlas tidak begitu banyak tuntutan dan permintaan dari. Dan aku tidak merasakan keresahan darinya. Kejujuran dan kepercayaan tidak begitu mengganguku saat ini. Karena aku perlu membangunnya lebih kokoh setelah pernikahan ini berlangsung. Dan aku percaya kepadanya begitupun Ia. Karena aku mecintainya dan Ia mencintaiku karena Allah. Ia percaya pada ketetapan bahwa rezki, jodoh dan maut ada yang telah mengaturnya sehingga dihatinya tidak ada keresahan apapun terhadapku, dan ini cukup membuatku yakin untuk menjadikan Ia Istri dan Ibu dari anak-anaku nanti.

Karena Ia wanita tanpa resah dan kegelisahan akan dunia,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai