Mah...
MAH….
By
Ardiles
Mah, sungguh hari ini aku mengerti
akan sebuah kasih sayang orangtua.
Hari ini aku mengerti engkau menyimpan kerinduan dan tangis yang amat dalam ketika berpisah dengan bauh hati engkau. Mah, sungguh hari ini aku melihat deru dan tangis seorang ibu karna kepergian anaknya. Mah, sungguh hari ini aku melihat kebohongan seorang ibu yang bersikap tegar dan kuat di depan anaknya. Namun ketika anaknya telah berjalan dan memalingkan tubuh dan wajahnya saat itu seorang ibu akan berbalik dan kemudian menangis sejadi-jadinya.
Mah, sungguh hari ini aku melihat ketakutan ibu yang berpisah jauh dari anak yang ia kandung dan sepu bertahun, ketakutan ibu akan anaknya yang tak akan pernah kembali dan pernah melihatnya lagi ketika ia pulang. Mah, sungguh sebesar itu pulalah ketakutan di hati engkau jika kami berpisah dengan engkau.
Hari ini aku mengerti engkau menyimpan kerinduan dan tangis yang amat dalam ketika berpisah dengan bauh hati engkau. Mah, sungguh hari ini aku melihat deru dan tangis seorang ibu karna kepergian anaknya. Mah, sungguh hari ini aku melihat kebohongan seorang ibu yang bersikap tegar dan kuat di depan anaknya. Namun ketika anaknya telah berjalan dan memalingkan tubuh dan wajahnya saat itu seorang ibu akan berbalik dan kemudian menangis sejadi-jadinya.
Mah, sungguh hari ini aku melihat ketakutan ibu yang berpisah jauh dari anak yang ia kandung dan sepu bertahun, ketakutan ibu akan anaknya yang tak akan pernah kembali dan pernah melihatnya lagi ketika ia pulang. Mah, sungguh sebesar itu pulalah ketakutan di hati engkau jika kami berpisah dengan engkau.
Mah, sungguh hati
seorang ibu siapa yang tahu selain ibu itu sendiri. Hati dan naluri seorang
anak tak akan pernah dapat menebak sekuat dan setegar apa ibunya dalam
kerinduaan yang ia terpa akan anaknya.
Mah, sungguh aku banyak belajar, sungguh akupun
menguraikan air mata melihat perpisahan dan mengalami perpisahan. Sungguh
perpisahan di dunia mengisahkan tangis, mengukir kesedihan yang dalam dalam,
mengandung kerinduan yang teramat besar dan perpisahan menghantui dan membuat
diri berada di dalam ketakutan tak akan pernah bersua. Tak akan pernah
berjumpa, waktu yang singkat dan kematian menjadi ketakutan yang akan menjadi
jurang pemisah kehidupan dan pertemuan untuk selama-lamanya. Ketakutan akan
batu nisan dan seonggok tanah yang akan dapat menjadi bagian retapan kerinduan
dan cinta yang telah lama dibawah berlalu mengarung samudra mimpi.
Oh, mah sungguh akupun
anakmu tak akan mampu berpisah terlalu jauh, jauh meninggalkan kehidupan ini.
Jauh sampai menuju alam kebakaan mah, Sungguh tak akan mampu melihat amah
menangis, dan tak akan mampu melihat apah menangis tertunduk sedih dalam
dukanya. Terlalu lama, dan amat terlalu lama menunggu dan bersabar untuk buah
cinta yang kini pergi satu persatu meninggalkan amah dan apah.
15 september 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar