setting

My Story : ARDILES: Sahabatku yang Lugu dan Baik Hati

Sahabatku yang Lugu dan Baik Hati

SAHABATKU YANG LUGU DAN BAIK HATI
By Ardiles

Malam ini, malam tahun baru 31 Desember 2012. Tepatnya kurang lebih pukul 10 malam, aku duduk bersebelahan dengan sahabat yang sangat ku cintai dan sangat ku sayangi. Kalian tahu kenapa aku begitu menyayanginya? Kurang lebih dua tahun sudah aku bersamanya, masih ku ingat saat pertama kali aku duduk dalam ruangan saat menunggu presentase makalah saat masa-masa Penerimaan anggota baru angkatan 25 PPIPM UNP 2010. Aku tepat duduk bersebelahan dengannya sama halnya dengan malam. Saat itu, wajahnya masih begitu polos, dan sangat murah senyum. Ku lihat kecemasan dimukanya saat akan menunggu giliran presentasi makalah, dan tahukah kali an??? wajahnya tetap sama dengan wajahnya malam ini, gugup dan cemas. Hal inilah yang membuatku terbata dan ingin sekali menangis ketika berbicara, kenapa tidak? semua pertanyaan yang diajukan semua berkaitan dengan kebersamaan kami dalam kurun waktu dua tahun ini. Sama halnya ketika aku mengetikan cerita ini, air mataku mengelir begitu saja. Malam itu, aku berusaha menahan air mata dan tangisku. Tapi, saat ini, di dalam kamar hanya ada aku sendiri, aku bisa sebebas-bebasnya untuk menangis dan menguraikan air mata. Malam ini, secara tidak langsung pertanyaan yang diajukan membuat hati dan pikiranku berputas mengulas kilas balik semua perjalanan yang kami lalui bersama.
usai acara di PPIPM makan di TAPLAU
Pertanyaan pertama, yaitu mengenai prestasi apa yang sudah kami capai dan raih, serta pengalaman orginisasi, kepanitian dan jabatan selama di PPIPM? Pertanyaan ini ingin sekali membuatku tertawa, pertanyaan Bang Doni ini tentu saja akan membuatku mengenang dan menggingat semua perjalanan kepanitian bersamanya. mulai dari kami satu kelompok membuat PKM-P dan disinilah awal aku mengenal divisiku yang manis namun begitu perasa, divisi instrument penelitian Siti Muflihatunnisa yang sampai saat ini masih marah denganku. Baik nanti akan ku ceritakan tentang adindaku yang satu ini di lembaran tersendiri.  Pertanyaan itu membuatku menggingat saat kami sama-sama menjadi yang terbaik di Bidang IPS pada masa penerimaan PAB, saat itu aku meraih juara 1 dan sahabatku juara 3. Satu kepanitian dalam pelatihan penelitian, saat itu aku menjadi ketua dan sahabatku wakilnya, masa saat kami membuat karya tulis untuk ikut serta dalam lomba yang di adakan Fakultas Teknik UGM, kalian tahu inilah saat disela-sela kami mulai dekat bertiga. Yah, saat-saat inilah Ika Langit, sahabatku yang ku kenal sebelum aku di PPIPM dan sahabatku yang pertama sebelum dan sesudah di PPIPM, untuknya nanti aku juga akan membuat lembaran tersendiri.
Siang malam kami habiskan waktu untuk membuat karya tulis bersama, pergi keperpustakaan bersama membolak-balik buku tentang konstruksi bangunan dan beton, yang satu seorang mahasiswa teknik otomotif, yang satu lagi mahasiswa ekonomi akuntansi dan jangan tanya satu orang lagi, jurusannya jauh dari karya yang akan kami buat, yah yang satunya jurusan pendidikan kewarganegaraan. Kami tidak memiliki basic dalam membuat karya ini, tapi kami ingin ikut serta. Maka saat itu jadilah kamar kos sebagai basecamp kami mengerjakan karya tersebut. Kalian tahu teman-teman, saat itu kami sama-sama tidak memiliki benda yang disebut ntah leptop atau Notebook, diantara kami bertiga satupun tidak ada yang memilikinya. Satu-satu caranya kami meminjam, aku meminjam punya kakakku dan fitra meminjam punya teman dekatnya, ntah sampai saat ini aku tidak tahu siapa namanya. Yang ku tahu dan ku ingat selesai karya kami buat maka selesai pula hubungan mereka berdua, dan kalian tahu kebodohan sahabatku yang satu ini? Gara-gara sahabatkulah perempuan itu keluar dari tempat tinggalnya, aku hanya tertawa jika membayangkannya. Kami mengerjakannya sampai larut malam. Dengan berbekal berbagai tumpukan buku dan data yang kami cari di internet kami bergantian membuatnya. Jika aku mengenatuk dan jenuh, maka fitra yang mengantikan dan aku yang istirahat dan tidur. Jika fitrah sudah lelah dan mengantuk maka fitrah yang tidur dan aku yang mengerjakan.
Begitu seterusnya dalam beberapa hari hingga pengumpulan karya tersebut, dan kalian tahu untuk karya itu kami hanya memperolah posisi tujuh besar sedangkan yang diambil hanya lima besar. Namun itu, sungguh sangat berharga dan kami menempel hasilnya di mading PPIPM. Dan itulah awal kami bertiga menjadi sorot dan perhatian di PPIPM. Banyak sekali perjalanan yang ku lalui bersama sahabatku ini, membuat PKM, karya tulis di Surabaya, hingga lomba di Unand. Ada hal yang mengesankan di awal kedekatanku denganya. Aku masih ingat bagaimana Ia menemaniku ke Taman Budaya untuk menunggu hasil pengumuman karya tulis. Hujan-hujan kami pergi berdua kesana, karena hujan yang begitu deras dan waktu pengumuman masih lama. Kami habiskan beberapa saat untuk bermain di PA, namun ternyata hujan malah bertambah deras dan kami hanya melongoh sambil duduk jongkok di sepanjang emperan PA hingga hujan mereda.
Lama kami menunggu, dan ternyata aku belum beruntung dan kami pulang larut malam. Dan sahabatku inilah yang menghibur dan membesarkan hatiku. Jika ku boleh mengatakan sahabatku ini, sikapnya sama halnya yang tercermin dari sikap Abu Bakar sedikit banyaknya. Selalu setia dan percaya kepadaku serta selalu ikhlas dalam membantu. Jika diantara sahabatku yang lain, maka sahabatku yang satu ini yang sangat sering berpergian denganku. Kalian tahu, kenapa kami sangat saling mengerti??
Sama halnya seperti yang disampaikan Rasulullah, “jika kalian ingin mengetahui tentang saudara atau sahabat kalian, maka yang pertam lakukanlah perjalanan bersamanya, yang kedua makanlah bersamanya, dan yang ketiga menginaplah ditempatnya”. Semua ini sudah aku lakukan, Hampir semua perjalanan aku lakukan bersamanya dan simerahnya, mulai dari menjadi panitia perlengkapan Yoreco 2011, hampir setiap sore dan pulang malam kami pergi ke pasar raya dalam beberapa bulan untuk mencari perlangkapan, bahkan tidak pada saat acara berlangsung kami sama-sama tidak mandi, latihan MC atau pembawa acara di pantai gajah bersama Suci Daymoona dan Bang Dhony Leo Soñador, pulang pergi kerumah Uni fit, sampai beberapa bulan terakhir kami menjadi penggurus dan sahabatku menjadi wakil ketua PPIPM kami malah semakin sering bepergian, menungguiku di padang untuk menyelasaikan proposal PPIPM FAIR 2012, kemudian mengantarkan keberbagai instansi dan lembaga pemerintahan serta Dikti hingga kegiatan kami dibantu Dikti beliau jugalah sampai tengah malam menemani dan membantu menyelesaikan LPJ untuk dikirim ke Dikti sampai pukul 02.00 wib, pulang bersama dan mengantarkan ku ke kampung halamanku.
Bahkan diakhir Desember ini, sahabtku, Bang Ryan Saputra dan Ridwan menemaniku pergi ke pasaman tempat salah adindaku di departemen penelitian, divisi peneliti muda, wanita yang sangat suka senyum namun begitu sering menangis, ntah karena aku atau yang lainnya, Reski Reski Oktaria. Dan hari itu aku sakit, hampir kurang lebih dua minggu aku terkena demam berdarah, begitu banyak yang perhatian ketika aku sakit. Namun, sahabatku inilah yang senangtiasa datamg ke tempat tinggalku, menemaniku kerumah sakit, dan membelikanku banyak sekali jus. Tidak dia sahabat terbaikku??? Tidakkah dia mencintaiku? Bukankah sudah seharusnya aku mencintainya layaknya seperti saudaraku?? Hingga pada saat meninggalnya Kakekku sahabatku datang dan ikut serta menemani kedua adinda. Yang pertama telah kami lalui dan betapa sering kami melakukan perjalanan,  Untuk prihal makan, jangan tanya betapa sering kami makan bersama dan untuk hal ini aku sudah tidak dapat menghitungnya. Aku tahu betul bagaiman cara makannya, aku tahu betul bagaimana banyaknya ia makan, aku tahu betul bagaimana wajah dan mimiknya sebelum makan dan sesudah makan dan tentunya kami sama-sama orang yang sering telat makan, dan tentunya sangat sering makan larut malam. Dalam hal ini, sedikt banyaknya kau sudah mengenal kepribadiannya. Sedangkan untuk menginap atau bertamu, untuk hal ini. Aku tidak akan berdalih, betapa seringnya kami tidur bersama. Tanpa malu-malu ku akui, kami seringkali tidur bersama, Aku, Ika dan fitrah. Dan untuk hal ini sudah cukup bagi kami untuk membuktikan kedekatan kami, dari ketiga hal ini aku sudah mengerti sedikit banyaknya tentang sahabatku ini.
Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan oleh Ika Sandra yang sungguh aneh dan konyol bagiku. Kami adalah teman dekat dan semua orang tahu bagaimana kedekatan kami. Aku tak tahu bagaimana perasaanya ketika kami duduk bersebelahan dan sama-sama mencalonkan diri menjadi ketua PPIPM periode 2013-2014. Malam ini adalah pencalonanku untuk yang kedua kalinya, tahun lalu aku sudah mencalonkan diri. Namun pada saat itu aku belum diberikan kesempatan. Malam ini, adalah kesempatan kedua dan juga terakhir buatku. Dan malam ini, sahabat setiaku yang menjadi teman untuk duduk menjadi ketua. Malam ini, Ika meminta kami berdua untuk menafsirkan makna cinta. Kalian tahu, untuk hal ini fitra sangat sulit melakukannya. Bukan karena dia tidak tahu atau tidak mengerti. Seandainya kami sudah bertiga. Aku, ika dan fitra, maka fitrahlah yang sering tidak mau ikut campur dan maun pusing untuk membahas hal ini. Tapi, untuk malam ini Aku sungguh terkesan dengan apa yang Ia sampaikan. Cinta menurut versiku kalian tak perlu asing dengan apa yang aku sampaikan. Aku yakin kalian paham bagaiman kata-kataku menafsirkan makna cinta. “ cinta bagaimana kita memberi, dan cinta adalah pengorbanan”.
Pertanyaan terakhir, yaitu dari Kak Senorica Da Mozzamocca, walau sebelumnya sudah ada pertanyaan dari Ichsan Nasution yang mana pertanyaannya menanyakan prestasi yang telah kami capai. Namun aku ingin menegaskan prestasi bukanlah hal yang penting dan membanggakan bagiku. Untuk paragraf ini Aku tidak ingin membahasnya.
Kak Keke bertanya mengenai tokoh modern yang menjadi teladan bagi kami baik sikap dan perbuatannya sehingga menginspirasi kami, yaitu selain Nabi Muhammad dan kedua orangtua. Kalian tahu jawaban kami berdua hampir tidak berbeda. Karena kami tidak menggagumi tokoh-tokoh modern. Dan Aku memang sampai saat ini tidak menggagumi tokoh modern yang menjadi idolaku. Malam ini Aku menjwab “Ibukulah” yang menjadi tauladan dan tokoh idolaku. Sedangkan sahabatku tahukah kalian siapa tokoh idolany??? Aku sempat berpikir Ia akan menjawab apa yang aku pikirkan, ntahkah Itu Mario Teguh atau siapa. Tapi sejauh ini memang tidak ada tokoh yang spesial baginya. Bukankah sudah ku sampaikan, sedikit banyaknya Aku tahu tentang dirinya, tidakkah cukup bagiku dalam dua tahu menjalani banyak hal dengannya untuk mengetahui apa yang Ia suka dan gemari???
Malam ini, Ia menjawab denga jawaban yang sama dengan jawabanku, yiatu kedua orangtua. Namun, bedannya hanya pada keduanya. Jika Aku mengidolakan “Ibu” maka sahabatku yang satu ini mengidolakan Ayah. Untuk hal ini, sedikit banyaknya juga tahu. Berulang kali ku sampaikan. Dia sahabat dekatku, banyak hal yang Ia ceritakan kepada dan tidak dapat ia ceritakan kepada orang lain. Salah satunya tentang masa kecil dan Ayahnya. aku tahu itu, dan aku akam menjaga hal itu.
Usai sudah, malam ini berkhair karierku, hehehe
Dan malam ini aku bersyukur, apapun yang terjadi dan siapapun yang terpilih Aku begitu bahagia. Aku tidak kalah, dan kami tidak bersaing tapi kami hanya ingin saling berebut untuk berbuat yang terbaik??? Malam ini, aku menyaksikan air mata yang jatuh saat kami duduk bersebelahan, natah aku tidak pernah tahu air mata apakah itu. Yang mengerti satu hal, mereka mencintai kami berdua. 25:20, mungkin seperti itulah hati kami malam ini, aku bahagia dan senang karena Ia adalah bagian dari perjalananku, Ia adalah sebagian ceritaku di sini, PPIPM dan sahabatku ini adalah sebagian dari mimpiku di Padang. Dan Diaxlah yang menjadi ketua untuk selajutnya......


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai