setting

My Story : ARDILES: PERWIRA BEM UNP

PERWIRA BEM UNP

PERWIRA BEM UNP
(Kepada sahabat, dan saudaraku sesama mahasiswa)
By. Ardiles


Bismillahirahmanirahim

Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, dan para sahabat beliau. "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur'an)." (An-Nisa': 174). Maha besar Allah dengan segala karuniah yang tercurah dan dilimpahkan tiada batas bagi kita. Allah menghidupkan karena cinta, dan mematikan kita karena cinta, mengampuni karena cinta, dan memberikan petunjuk karena cinta. Jika hari ini kita masih bisa bernafas dan mampu melihat dengan baik, itu adalah bentuk cinta Allah atas segala nikmat-Nya terhadap kita.
Setiap kali saya ingin berbicara dan menuliskan sesuatu yang senantiasa akan dilirik dan kemungkinan dibaca oleh beberapa orang saja, atau mungkin lebih, maka saya memohon kepada Allah dengan sangat agar Dia berkenan mendekatkanku kepada suatu masa, di mana ketika itu kita telah meninggalkan medan kata-kata menuju medan amal, dari medan penentuan strategi dan langkah menuju medan penerapan dan realisasi telah sekian lama kita menghabiskan waktu dengan hanya sebagai tukang kritik dan ahli bicara yang mengubar janji ataupun hanya pandai berpandangan dan berpijakan atas dasar teori dan kepentingan saja, sementara waktu telah menuntut kita untuk segera mempersembahkan bahkan karya dan aksi nyata yang profesional dan produktif bagi negeri ini. Dunia yang kini tengah berlomba untuk membangun unsur-unsur kekuatan dan mematangkan persiapan dalam menuju persaingan yang semakin kompleks, sementara kita masih berada di dunia kata-kata dari mimpi-mimpi, dunia kampus yang hanya bagian kecil dari dunia sosial. Dunia yang menjadi dasar dan pijakan menuai langkah dan karir menuju dunia baru setelah aktivitas kuliah ditunaikan. Dunia kampus yang hanya bagian skema kecil dari kondisi dunia sebenarnya setelah kembali ke masyarakat. 


Sahabatku, 

LOGO BEM UNP 2013/2014
Sebagian dari kita pada hari ini seringkali memperbincangkan bahkan menyeruhkan tentang " nasionalisme" rasa cinta dan kepdulian terhadap bangsa dan tanah, hari ini makna nasinalisme akan lebih nampak dan teraktualisasi dari pesta demokrasi di negeri ini. Mengataskan atas nama kelompok, memperjuangkan kepentingan sebagain masyarakat mereka maju menjadi wakil-wakil rakyat di senanyan. Namun, sangat disayangkan janji tetaplah janji, semua hanya keluar dari mulut belaka, janji yang tak pernah niat tulus dari hati. Maka ketika telah duduk dipuncak kursi legislatif, yudikatif dan eksekutif mereka mulai bergriliya dan mulai memperjuangkan kepentingan diri dan partai politik yang manjadi tunganggannya. Hari ini, percaya atau tidak nasionalisme itu telah luntur di negeri ini, katika sebagian kelompok sibuk mengaungkan nasionalisme dibelahan dunia lain, baik di negara-negara Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika. Mereka belajar dengan gigih dan mengataskan nama cinta tanah air bersatu padu dalam kebersamaan dan kekeluargaan untuk mengharum nama bangsa kita, Indonesia. Akantetapi, setelah mereka kembali ke negeri sendiri, seakan nasionalisme yang merak galang serasa dirobek dan dikhianati, memilukan. Dikala pemilu seakan nasionalisme itu, menjadi potongan-potongan dan mengkotak-kotakan masyarakat. Membuat masyarakat bingung dengan pemahaman nasionalisme, karena yang hadir adalah unsur-unsur kepentingan. Kondisi yang terjadi pada hari ini, telah banyak partai-partai politik lokal dan independen yang mengatasnamakan kelompok, suku dan daerahnya. Fenomena ini, juga terjadi di dalam kampus kita, Universitas Negeri Padang. Sekarang mahasiswa dipecah bela, dibuat menjadi berkotak-kotak, saling bersaing dan berusaha memperjuangkan kepentingan masing-masing pihak, jika boleh punulis mengatakan, munculah pihak-pihak atau kelompok-kelompk Fakultasnisme atau jurusanisme dalam pemilu BEM Universitas Negeri Padang. 


Sahabatku,

Saya ingin mengawali denga sebuah pertanyaan kepadamu, pertanyaan sederhan namun cukup Engkau jawab di dalam hati saja. Sahabatku, Pernah seseorang berjanji kepadamu, dan saat itu juga orang itu lupa dan melalaikan janjinya terhadapmu bagaimanakah perasaan dan hatimu kala itu terjadi? Sahabatku, Jika hari ini kita menyaksikan dan merasakan makna dan ruh demokrasi dari perpolitikan kampus yang saat ini begitu semarak dengan bertebaran dan banyaknya pemflet, buklet bahkan spanduk-spanduk yang menghiasi kampus, maka sudah barang tentu kita menyadari dinamika pergerakan kepemimpinan di tengah mahasiswa sedang bergelut bahkan berjalan dengan hangatnya. Namun, hari ini hampir tiga tahun (3 Tahun) saya dan Engkau (atau maaf mungkin lebih) sahabatku berada di dalam almamater yang telah memberikan warna dan pemikiran baru bagi kita tetap saja tidak secerah jaket yang senangtiasa kita pakai. Seakan kampus yang kita cintai ini, berwarna kuning lusuh. Cahayanya tak begitu lekat dan membanggakan jika menggenakannya menggelilingi atau berkunjung ke almamater atau universitas lainnya dipenjuru negeri ini. Bahkan sejenak terbesit diingatan, sebagian dari kita tidak pernah merasa bangga seperti Universitas Indonesia (UI) ataupun Universitas Sriwijaya (UNSRI) jika telah menggenakan jaket kuning kebanggaan yang menjadi ciri khas dan sama dengan kita. Maka hari ini, kita perlu berkaca, melihat diri kita di dalam cermin. Apakah yang membuat kebanggaan akan almamater ini begitu rendah, kepedulian akan kampus ini begitu kecil dan rasa cinta terhadap perguruan ini tak mengakar kuat.


Sahabatku, 

Saat ini Pemilihan Umum di Universitas yang kita cintai sedang berjalan. Bulan ini, dan minggu-minggu ini adalah hari penentu siapakah yang akan menjadi wajah UNP untuk satu tahun ke depan, wajah yang mampu memberikan cahaya bagi kampus ini. Wajah yang akan menyinari dan menyingkirkan masa wajah yang kelam dari beberapa periode sebelumnya. Sahabatku, bukan wajah civitas itu akan dilihat dari mahasiswanya. Jika hari ini, banyak kampus-kampus memiliki citra dan SDM yang lebih diunggulkan dari kampus kita, bukankah itu dilihat dari wajah-wajah mahasiswanya? Maka hari ini adalah kesempatan kita memperbaiki wajah kampus kita di depan civitas dan kampus lainnya. Hari ini, kita perlu berbenah dan hari ini kita harus sadar bahwa segala bentuk demokrasi yang ada di kampus saat ini adalah cerminan bentuk perpolitikan dan perjalanan sistem demokrasi di dunia sebenarnya setalah dunia kampus ini berlalu. Jika hari ini kesadaran kita akan Pemilihan Umum presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa begitu rendah, seakan acuh tidak acuh maka sikap ini adalah bentuk ketidakpedulian kita akan kondisi perguruan tinggi yang kita tempati dan cintai ini. 


Saudaraku, 

Kita adalah satu bagian dalam civitas ini, tumbuh dan berkembang dalam satu naungan. Kita adalah sebuah tatanan mini dalam pelaksanaan dan penerapan sistem demokrasi negara kita. Kesadaran kita akan pelaksanaan PEMILU di kampus kita akan menjadi cerminan bagi kita dalam kondisi masyarakat sesungguhnya. Jika kondisi Pemilu di Universitas lebih sederhana jika dibandingkan dalam bentuk tatanan pemilu pada sebuah daerah atau negara, maka kita akan menilai kondisi Pemilu di dalam kampus kita tidak akan sekisruh layaknya pemilu yang sebenarnya. Namun, masa peralihan tetaplah masa peralihan dan perebutan kepemimpinan adalah sebuah kebudayaan yang mengakar bahkan sampai ke dunia kampus.

Saudaraku,

Sahabat sesama muslim dan dipersaudarakan Allah dalam naungan cinta dan keislaman di kampus bersejarah ini. Kesadaran, kepedulian dan pastisipasi kita dalam pemilu di dalam ranah kampus adalah bentuk rasa cinta dan kepedulian kita terhadap almamater yang kita cintai. Jika hari ini kita, wahai Engkau saudara dan saudariku merasa tidak begitu memiliki kepentingan dalam pelaksanaan pemilu, bahkan jika Engkau wahai saudara dan saudariku merasa tidak memiliki keutungan dan kepentingan sama sekali terhadap hasil dari pemilu yang sedang berjalan ini. Itu sudah jelas, sudah jelas akan menjadi alasan yang wajar, menjadi alasan yang masuk akal untuk menjadi pihak golongan putih (GOLPUT) yang sama sekali tidak ikut serta dalam pemilihan umum. 


Saudaraku, 

Namun, jika hari ini Engkau adalah seorang yang memiliki kepedulian dan rasa cinta atas negara dan bangsa kita ini, maka marilah kita mulai mulai mencintai kampus kita ini. Jika hari ini, aku dan engkau merasa jijik dengan perpolitikan, atau merasa benci dan kesal pada tokoh-tokoh politik dan pemimpin negeri ini. Maka marilah kita sama-sama memperbaikinya. Kita mulai memperbaiki budaya politik di negeri ini dengan memperbaiki sistem dan pemilihan di almamater kita. 


Saudaraku,

Jika hari ini, begitu banyak aparat yang tidak amanah akan taggungjawab dan kepemimpinannya di negeri ini, Maka kita tidak dapat menyalahkan mereka. Jika hari ini bagitu banyak aparat dan pemimpin di negeri ini tidak bermoral dan tidak bersikap serta bertindak secara adil serta bijak, maka kita tidak dapat menyalahkan mereka. Jika hari ini, di negeri ini sudah menjadi kacau balau, maka siapa yang akan kita salahkan? Maka sudah jelas yang patut kita salahkan adalah diri kita sendiri. Jika hari ini kita membiarkan diri dan negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak baik, yang tidak bertanggungjawab dan tidak memperjuangkan kepentingan, itu karena kita yang mengginginkannya, karena kita yang tidak mau peduli atau bahkan mungkin kita yang memilih dan mengginginkan mereka.


Saudaraku,

Sekali lagi, saya mencoba menyampaikan dan menyentuh hati serta kesadaran saudara dan saudariku sekalian. Hari ini, masa dimana setiap kejadian di kampus kita ini adalah salah satu potongan masa depan yang akan menjadi cerminan perpolitikan dan kepemimpinan di negeri kita di masa yang akan datang. Maka hari ini, jika kita menyadari kita adalah generasi yang akan mewarisi dan melanjutkan estapet kepemimpinan di negeri ini, sudah seharusnya kita bangkit dan mulai mempersiapkan segala halnya untuk masa itu.


Saudaraku,

Yang kini hadir di kampus ini, dengan amanah dan tanggungjawab dari kedua orangtuanya, membawa mimpi yang luar biasa besar untuk masa depannya, yang selalu belajar dengan sungguh-sungguh dan mempersembahkan nilai terbaik dan hasil yang maksimal, yang kini hadir dan datang karna kecintaannya akan kedua orangtuanya, yang akan menjadi jantung dan otak dari bangsa ini di masa yang akan datang. Saya yakin, Engkau suadara dan saudariku lebih cerdas daripada saya, lebih amanah dan bisa lebih baik daripada saya, bahkan mungkin kalian jauh lebih peduli dan mencintai kampus ini daripada kami, dan mungkin kalian adalah orang-orang yang benar-benar peduli akan negeri dan bangsa ini. Saya yakin, wahai engkau saudara dan saudariku, kalian lebih cerdas dan lebih matang dalam merencanakan masa depan dibandingkan saya, dan jika saya boleh mangatakan salah satu dari kalianlah yang lebih layak dan panas jika dijadikan pimpinan dan teladan dikampus ini. Akantetapi mungkin saudara dan saudariku memiliki pandangan dan cara yang lain, maka hari ini jika saya boleh mengajak mulailah saudara dan saudariku untuk merencanakan masa depan melalui tangan dan pilihan kalian dari ranah kampus ini, Pemilu BEM Universitas Negeri Padang 2013.


Sahabat dan saudaraku mahasiswa, Marilah kita perbaiki kesadaran pemilu dan politik di negeri ini, kita mulai dari lini yang paling kecil, yaitu dunia kampus. Marilah kita perbaiki sistem demokrasi di tanah air yang kita cintai ini kearah yang lebih baik, yang akan kita mulai dari pesta demokrasi pemilu Capres dan Wapres Mahasiswa di kampus ini. 
Sahabat dan saudaraku mahasiswa, Marilah kita memilih secara cerdas, memilih dengan hati tanpa ada intimidasi dan interpensi. Marilah kita pilih pemimpin yang amanah dan mampu menghadirkan wajah UNP menjadi lebih baik dalam masa kepemimpinannya. Sebagaimana firman Allah swt "Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," (Al-Anfal: 61). Jika calon pemimpin itu condong kepada perdamaian dan kebaikan, serta berlaku adil serta bersikap sportif dan menjujung kejujuran maka pilihlah Dia sebagai pemimpin kita. Namun, jika sebaliknya maka pertimbangkan tentukan sikap kita dalam memilih yang mengutamakan menjujung amanah.
Sahabat dan saudaraku mahasiswa, Jika hari ini, engkau menyaksikan ketidakadilan, melihat kecurangan dan merasakan perlakuan yang tidak baik serta engkau dizholimi. Maka kembalikan semuanya kepada Allah swt, karena “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapat segala kebajikan di hadapannya, begitu pula kejahatan yang telah dikerjakannya.” (Ali Imran: 30). Begitulah janji Allah bagi hamba-hamba-Nya atas segala perbuatan dan tindaknya. Apapun yang tarjadi selama proses pemilu berlangsung, maka gunakanlah hak pilih dan suaramu untuk menciptakan sebuah kebaikan, di mana kebaikan itu akan Allah balas dengan kebaikan. Namun, jika Engkau memilih keburukan atau kejahatan maka Allah akan balas semuanya, baik di dunia dan di akhirat. 
Sahabat dan saudaraku mahasiswa, Banyak sekali unsur kepentingan dalan proses pemilu yang tarjadi di negeri ini, hal ini juga tidak lepas dari proses pemilu yang terjadi di kampus yang kita cintai dan banggakan ini. Begitulah suka dan dukannya, ada pihak yang memiliki kepentingan dan ada pihak yang dimanfaatkan. Bagaimanapun kondisi dan proses yang terjadi, kita adalah satu. Satu atap, satu almamater, satu payung, dan kita semua adalah keluarga. Selama proses pemilu ini, marilah kita sama-sama menjaga dan menggingatkan sesama saudara dan saudari kita agar manjaga tali ukhwah dalam nuangan kampus almamater kuning ini. "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran 103). Mudah-mudahan kita senantiasa beristighfar dan tidak akan bercerai berai dalam proses pemilu di Universitas Negeri Padang, 18 April 2013 nanti, karena KITA KELUARGA.

UNP BARU, Insya Allah bisa Mohon maaf atas segala penyampaian,
Wassallamu alaikum wr wb.

1.33 am, Sabtu, 13 April 2013.Audhie_cupu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © My Story : ARDILES Urang-kurai