TEGUH;PERBAIKI DIRI TIADA HENTI
TEGUH : PERBAIKI DIRI TIADA HENTI
By.Ardiles
“Lihatlah
dari dunia ini apa yang baik untuk jiwamu, lalu ambillah. Meskipun orang
disekitarmu menganggapnya jelek. Dan lihatlah dari dunia ini apa yang buruk
bagi jiwamu, lalu tinggalkanlah. Kendatipun orang-orang di sekitarmu
menganggapnya baik” (salamah bin dinar)
Siapa yang menyangka,
di hati yang telah bersarang dendam dan kebencian yang begitu dalam akan
menjadi begitu indah dan bercahaya. Laki-laki yang kala penaklukan Kota Mekkah,
boleh dibunuh dimanapun ia temukan, bahkan dikain penutup Kab’ah sekalipun,
bahkan laki-laki ini menjadi urutan pertama dalam daftar buronan oleh Rasul yang
harus ditangkap baik dalam hidup atau mati. Bahkan laki-laki ini sempat berlari
dan berlayar meninggalkan kota Mekkah, menuju Yaman. Istri yang begitu
mencintainyapun tak kuasa berpisah dengannya, sampai-sampai sang istri tercinta
Ummu Hakim yang telah masuk Islam memintakan maaf dan ampunan serta jaminan
kepada Rasulullah atas suaminya. Kebesaran jiwa dan kemuliaan akhlak Rasulullah
akhirnya memaafkan anak Abu Jahal ini, bahkan Rasulullahpun memberikan jaminan
dan perlindungan atas suaminya.
Siapa yang tidak kenal,
dengan laki-laki yang penuh amarah dan kebencian yang penuh kesetanan kala
ingin membalas dendam atas kematian ayahnya. Namun, pada akhirnya ia mati dalam
keadaan ber-islam dan syahid dengan 70 tikaman di dadanya pada perang Yarmuk.
Siapa yang mengira
laki-laki yang awalnya hatinya gelap dan penuh kedengkian akan Islam, membuat
kaum muslimin tercenung dan terheran dalam perang Hunia, ia berkata dengan
ringan dan penuh keyakinan bahwa Allah-lah tempat berlindung dan meminta,
Allah-lah yang punya kehendak atas segala yang terjadi dan Allah juahlah yang
akan memberikan kemenangan pada perang ini. Demikianlah iman, jika ia telah tertanam
dan menyinari hati maka tak akan ada yang mampu mengoyahkannya. Iman akan
tertancap teguh tak terpatahkan, bahkan untuk seorang Ikrimah bi Abu Jahal. Walau
hanya sebentar saja Ikrimah bin Abu Jahal hidup dalam ber-islam dan ber-iman
hingga tewas dalam perang yarmuk, namun ke-sungguhan dan tekadnya untuk
senantiasa berbenah dan berubah membuatnya memperoleh kemulian tersendiri di
mata Rasulullah dan para sahabat.
Ikrimah yang pada
akhirnya mengulurkan tangannya untuk bersyahadat dan bersaksi bahwa “tiada
Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”, meminta kepada
Rasulullah dengan kesungguhan hati, untuk dimaafkan atas segala kesalahan yang
pernah diperbuat, ia meminta didoakan, agar setiap dosa, setiap langkah dan
setiap cercaan yang penah ia perbuat diampuni oleh Allah swt, Rasulullahpun
mendoakannya. Subhannallah, semoga Allah memuliakan Ikrimah bin Abu Jahal r.a.
amin ya Rabb.
Sebuah kisah yang
menyentuh dan heroik jika kita salami sejarah panjang kehidupan sahabat yang
satu ini. Namun, pada akhirnya sungguh cahaya Allah telah bernaung dihatinya. Bukan
tidak mungkin kita mendapatkan kemulian serupa, layaknya ampunan dan kemulian
yang didapat dan diberikan Allah kepada Ikrimah bin Abu Jahal r.a.
Hidup adalah pilihan,
kita bisa memilih apapun yang sebenarnya kita inginkan. Apapun itu, kita dapat
memilih se-suka hati kita. Kesenangan dunia yang sementara, atau kenikmatan
akhirat yang kekal. Upaya memperbaiki diri bukanlah usaha yang ringan dan
mudah, ada rintangan dan tantangan yang senantiasa membentang dalam
perjalanannya. Cobaan dan ujianpun akan selalu hadir menggiringi upaya
memperbaiki diri mencapai ridho Allah. Bahkan godaan ini bisa hadir dari siapa
saja, ntahkah itu dari sahabat, lingkungan atau keluarga sendiri. Demikian juga
yang terjadi dengan Ikrimah, banyak cobaan dan godaan yang ia lalui dalam upaya
ber-Islam.
Bagitu juga dengan kita
hari ini, godaan dan cobaan dalam upaya memperbaiki diri acapkali menuai rintangan,
apalagi dalam perguliran globalisasi dan modernisasi menjadi hal yang aneh bagi
sebagian orang. Tak jarang, bahkan sahabat sendiri melemahkan keyakinan dikala
kita ingin berubah dan ber-hijrah ke
arah Islam yang telah Allah syariatkan dalam Al-Qur’an hingga menjadi mukmin
yang taat. “dikatakan sok alim”,
bahkan ketika kita mulai meninggalkan hal-hal buruk, seperti berhenti merokok,
menunaikan shalat lima waktu di masjid, ikut wirid dan mulai berpenampilan yang
mencerminkan Islam bai itu berpakaian yang rapid an bersih, berbaju koko/gamis,
ber-peci atau berjilbab dan lain sebagainya. Hal ini malah menjadi bahan guyonan atau tertawaan. Dan tak jarang
bagi keyakinannya belum matang akan merasa minder
dan kembali menanggalkan jibab dan meninggalkan sholatnya.
Menyedihkan sekali,
kita acapkali mudah terpengaruh oleh perkataan orang-orang terhadap kita. Bahkan,
kita terbiasa menjadikan penilaian orang lain sebagai dasar atau patokan diri
kita tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu baik dan benarnya. “Lihatlah dari dunia ini apa yang baik untuk
jiwamu, lalu ambillah. Meskipun orang disekitarmu menganggapnya jelek. Dan lihatlah
dari dunia ini apa yang buruk bagi jiwamu, lalu tinggalkanlah. Kendatipun orang-orang
di sekitarmu menganggapnya baik”. Demikianlah pesan salamah bin Dinar,
ketika kita menemukan kebenaran dan
kebaikan akan diri kita, maka ambil dan dekaplah di dalam hati. Jangan pernah
pedulikan pendapat orang lain. Dan jika kitapun mendapati keburukan maka
tinggalkan atau hindari hal itu, walau orang-orang disekitar kita menganggap
itu hal yang biasa dan baik.
Hari ini, kita hidup
untuk suatu yang baik dan benar. Jika kita yakin dengan apa yang menurut kita
tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah maka genggam dan
gigitlah kuat-kuat. Walau hari ini kita baru beberapa bulan saja berubah,
bahkan baru beberapa tahun terakhir ber-Islam dengan baik dan benar, dan
baru-baru juga berhijab/berjilbab, dan baru-baru juga shalat wajib selalu di
masjid, dan baru-baru gemar tillawah qur’an, tahajud, dhuha dan ber-infak setiap harinya, dan baru-baru juga
merubah serta merancang visi dan misi menuju Allah, Rasulullah dan jannah-Nya. Walau masih relatif singkat,
se-singkat ke-Islaman Ikrimah. Mudah-mudahan Allah meneguhkan upaya perbaikan diri kita. Mudah-mudahan
Allah limpahkan kemulian dan cahaya serupa dengan sahabat yang mulia Ikrimah bin
Abu Jahal, walau kita sadari upaya kita jauh berbeda dari beliau, mungkin bak
langit dan bumi jaraknya. Namun, semoga Allah meridhoi kita atas segala upaya
perbaikan diri kita, Amin ya Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar